Connect with us

Berita Movie & TV

Film “HAYYA” The Power of Love 2, Berlatar Indonesia Palestina

Published

on

FEM Indonesia – Film produksi lokal berjudul “Hayya The Power of Love 2” merupakan film drama keluarga Produksi Warna Pictures, yang mengambil latar Indonesia dan Palestina.

Film ini merupakan sekuel dari 212 The Power of Love yang telah sukses tahun sebelumnya.

Bercerita tentang Rahmat(32th) seorang jurnalis yang karena dihantui perasaan bersalah dan dosa di masa lalu, memutuskan menjadi relawan kemanusiaan. Kegiatan itu membawanya bukan hanya pada kegiatan kerelawanan keliling Indonesia, melainkan bersama sahabatnya, Adin (30) sampai ke wilayah Palestina.  Di sana ia bertemu Hayya(5th) gadis yatim piatu korban konflik di Palestina.

Hubungan Hayya dan Rahmat menjadi sangat dekat, hingga suatu hari Rahmat harus kembali ke Indonesia karena hendak menikah dengan Yasna(27th). Hayya yang tidak ingin kehilangan Rahmat melakukan aksi nekad di luar dugaan. Hubungan Rahmat, Hayya dan Yasna tiba-tiba berubah menjadi kompleks, lucu dan menegangkan.

Skenario di tulis oleh Ali Eunoia dan Jastis Arimba, dan disutradarai Jastis Arimba dengan DOP Moriza Prananda. Di jajaran produser terdapat Oki Setiana Dewi dan Erik Yusuf (Produser Eksekutif), Imam T. Saptono dan Asma Nadia (Associate Produser), serta Helvy Tiana Rosa dan Jastis Arimba (Produser). Cerita ditulis dari film ke novel oleh Helvy Tiana Rosa & Benny Arnas,

Film juga menghadirkan para aktor dan aktris antara lain Fauzi Baadila, Adhin Abdul Hakim, Meyda Sefira, Ria Ricis, Humaidi Abas, Hamas Syahid, Asma Nadia, dan pendatang baru cilik dengan talenta luar biasa: Amna Hasanah Shahab sebagai Hayya. Tidak seperti biasanya, kali ini youtuber Ria Ricis bermain film drama serius, dan menjadi lawan main gemilang bagi aktor/aktris lainnya. Hayya merupakan tonggak keaktoran Ricis dalam film.

Film keluarga yang akan menginspirasi dan mengasah kepedulian kita terhadap sesama ini juga didukung oleh beberapa lembaga kemanusiaan seperti Aman Palestine, INH For Humanity, dan Rumah Zakat.

Sebagai info, sebagian keuntungan dari film yang berdurasi 101 menit ini rencananya akan disumbangkan bagi anak-anak Indonesia dan Palestina yang kurang beruntung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Movie & TV

Film Produksi Lokal, “Kucumbu Tubuh Indahku” Masuk Nominasi Oscar 2020

Published

on

FEM Indonesia – Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ produksi anak bangsa, resmi mewakili Indonesia di ajang festival film Internasional paling bergengsi Oscar tahun 2020.

Sebelumnya film garapan Garin Nugroho itu bersaing dengan dua film lainnya yakni ’27 Steps Of May’ dan ‘Ave Mariam’.

Film tersebut berhak mewakili Indonesia untuk kategori International Feature Film atau yang dulu dikenal dengan Best Foreign Language Film di ajang Oscar. Mereka akan bersaing dengan film seperti ‘Parasite’ dari Korea Selatan dan ‘Weathering With You’ dari Jepang.

“Setelah dilakukan penilaian dengan seksama, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, Indonesian Academy Awards 2019 menetapkan film berjudul Kucumbu Tubuh Indahku sebagai film pilihan dan berhak mewakili Indonesia ke Academy Awards ke-92 untuk kategori International Feature Film,” ujar Sheila Timothy sebagai Sekretaris Komite Film Indonesia di konferensi pers di XXI Lounge Plasa Senayan, Jakarta, Selasa (17/9).

‘Kucumbu Tubuh Indahku’ berkisah tentang seorang penari Lengger bernama Juno yang bisa tampil luwes meski ia seorang pria. Kisah Juno diceritakan dalam 3 masa, yaitu Juno Kecil, Juno Remaja, dan Juno Dewasa.

Juno Kecil terpaksa harus hidup sendiri sejak ditinggal pergi oleh ayahnya. Di tengah kesendiriannya, Juno bergabung dengan sanggar tari Lengger. Sejak itu, Juno harus hidup berpindah-pindah tempat.

Film sebenarnya juga pernah melenggang ke berbagai festival dan diputar di 25 negara. Dan kini kembali akan mewakili Indonesia di kancah Oscar yang digelar pada 9 Februari 2020 di Dolby Theatre Hollywood, California, Amerika Serikat.

Sutradara Garin Nugroho mengatakan bangga dengan terpilih oleh komite seleksi Oscar Indonesia untuk dikirim  ke ajang sangat prestisius itu. ” Saya salut kepada komite seleksi yang telah memilih film saya. Artinya komite seleksi benar benar bekerja secara independen dan jujur dalam menilai film, ” ungkap Garin.

Untuk mendapat perhatian dari kalangan perfilman yang menjadi juri di Oscar, memang masih panjang. Terutama sekali dari segi pembiayaan yang nilainya milyaran rupiah.

Setelah terpilih oleh komite seleksi yang terdiri dari Christine Hakim, Lola Amaria, Lala Tymothy, Roy Lolang, Benny Setiawan, Benny Benke, Thoersi Agiswara, Reza Rahadian, Adi Surya Abdi, Mathias Muchus, Aliem Sudio dan Firman Bintang,  Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) Menyerahkan sepemuhnya kepada Pusbangfilm Kemendikbud untuk mendaftarkan dan mempromosikan film tersebut. [foto: istimewa]

Continue Reading

Movie & TV

Rambo: Last Blood, Veteran Brutal Kembali ke Medan Tempur Selamatkan Anak Kesayangan

Published

on

FEM Indonesia – Sosok veteran John Rambo di film Rambo : Last Blood, 2019 kali ini ternyata masih menyisakan trauma masa lalu di kepalanya.

Kali ini, rasa trauma yang menggiring dirinya untuk menyembunyikan fakta dirinya sendiri. Bahwa John Rambo bukanlah orang baik. Semuanya disajikan di dalam film Rambo: Last Blood, seri kelima dari cerita film Rambo yang menegangkan dan menyisakan kebrutalan.

Kepergian Gabrielle (Yvette Monreal) ke Meksiko adalah awal permasalahan yang muncul. Meskipun punya keluarga yang hangat di Arizona bersama neneknya Carmen Delgado (Paz Vega) dan pamannya John Rambo (Sylvester Stallone), Gabrielle tetap masih penasaran dengan masa lalunya.

Tapi Gabrielle tdak menyenangkan di Meksiko menemukan fakta asli tentang sosok Ayahnya dan Gabrielle malah terlibat tentang hal yang kelam. Ia jadi budak sex bagi para kartel dan polisi korup di Meksiko.

Sudah berhari-hari tak pulang ke Arizona, John Rambo pun bangkit dengan satu alasan. Menemukan kembali keluguan Gabrielle yang menyemangati hidupnya usai menjadi veteran perang. Cerita seperti itu dianggap telat bagi Gabrielle, tapi tidak bagi John Rambo.

Rambo yang tengah berkelana dalam misi penyelamatan ke selatan harus terjebak dalam masalah besar. Berbekal pisau, pistol dan busur, ia mencoba bertahan dari serangan para penjahat yang mencoba menyerang rumahnya. Ia mengubah rumahnya menjadi zona perang lengkap dengan perangkap mematikan untuk para musuh yang mencoba masuk ke dalam rumahnya.

Film aksi John Rambo tayang mulai 18 September 2019 di bioskop Indonesia. Penasaran?

Continue Reading

Movie & TV

Film “Pretty Boys” Angkat Cerita Suka Duka Perjuangan Dibalik Layar Dua Host

Published

on

FEM Indonesia – Artis dan presenter Desta sepertinya melakukan secara totalitas dalam melakukan aktingnya untuk film garapan perdananya bersama Vincent berjudul “Pretty Boys”.

Di film bergenre drama komedi itu, keduanya bermain peran bersama dengan Onadio Leonardo, Danilla Riyadi, Imam Darto, Roy Marten, Ferry Maryadi, hingga Tora Sudiro. Hasilnya lumayan menarik perhatian.

“Tujuannya yang penting bisa menghibur penonton dulu,” ujar Desta menjawab berbagai pertanyaan awak media di press confrence usai screening film Pretty Boys, di XX1 Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/9/2019).

Film uniknya disutradarai oleh musisi sekaligus Dokter Ahli Bedah Plastik, Tompi, yang bercerita dua orang sahabat sejak kecil yang bercita-cita ingin terkenal dan masuk TV. Dalam alur ceritanya, lengkap menggambarkan tentang kehidupan karir, keluarga, dan percintaan.

Seperti scene bintang baru bernama Danilla Riyadi, berperan sebagai Asty sosok perempuan yang selalu mendampingi dua sahabat Rahmat dan Anugerah yang diperankan sendiri oleh Desta dan Vincent. Hingga suatu hari, Rahmat dan Anugerah akhirnya menjadi penonton bayaran di sebuah stasiun televisi hingga bertemu dengan kordinator penonton diperankan oleh Onadio Leonardo.

Dalam film ini, digambarkan pula mengenai bagaimana kehidupan para pemain dunia hiburan di balik layar.

Desta dan Vincent sebagai produser merangkul rumah produksi Anami Films. Desta pun membeberkan prosesnya film tersebut. “Saat itu, Tompi ada di Rusia. Waktu gue telepon dan tanya ada cerita apa untuk difilmin, dia minta waktu untuk mikir. Ternyata, dia punya ide cerita yang sangat menarik. Saat dikirimin naskah film ini, gue nggak langsung baca karena waktu itu gue lagi liburan. Tapi, begitu baca awalnya, gue benar-benar langsung tertarik dan jatuh hati dengan idenya,” ujar Desta.

Desta menambahkan bawah tayangan kurang mendidik di televisi itu seperti ayam dan telur. Siapa yang meminta duluan! Apakah berasal dari demand para penonton sehingga muncul tayangan yang kurang mendidik ataukah tayangan kurang mendidik yang muncul terlebih dulu dan  tinggi rating sehingga terus menerus di produksi Karena itu, kami memakai tagline

“Televisi Yang Menodai Kita atau Kita Yang Menodai Televisi?” untuk menggambarkan hal itu.” kata Desta.

lde film berawal dari keprihatinan Tompi terhadap tayangan-tayangan televisi yang mulai bergeser jauh dari pakemnya. “Banyak orang yang mengubah kepribadian mereka saat tampil di televisi hanya agar terkenal, saling mem-bully, atau berdandan tidak sesuai kodrat. Orang-orang yang bermimpi bisa masuk televisi bisa menganggap itu sebagai panutan “Oh, gue harus begini ya kalau mau masuk TV,” ungkap Vincent.

Cerita film ini begitu menarik bercerita sosok dua sahabat Rahmat (Deddy Mahendra Desta) dan Anugerah (Vincent Rompies) sejak kecil bercita-cita ingin terkenal. Namun, Anugerah selalu mendapat tentangan dari Ayahnya, Pak Jono (Roy Marten), bahwa dunia entertainment dekat dengan hal-hal yang buruk. Karena kesal, Anugerah pun kabur dari daerahnya dan mengadu nasib ke Jakarta bersama Rahmat.

Namun, nasib berkata lain. Karier mereka hanya mentok menjadi pelayan dan koki restoran. Untunglah, ada Asty (Danilla Riyadi) yang selalu menjadi penyejuk bagi keseharian Anugerah. Hingga suatu hari, Anugerah dan Rahmat yang sedang menjadi penonton bayaran di sebuah acara bincang-bincang “Kembang Gula” bertemu Roni (Onadio Leonardo), koordinator penonton super rempong, dan Mas Bayu (Imam Darto).

Apakah pertemuan ini akan menjadi pembuka jalan bagi impian Rahmat dan Anugerah? Saksikan filmnya pada 19 September serentak diseluruh bioskop Indonesia.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending