Connect with us

Lifestyle

Bermain Bersama Bus Kecil Tayo di Central Park Mall

Published

on

FEM Indonesia – Ragam event dalam mengisi libur sekolah kerap diadakan pusat perbelanjaan. Event pun disesuaikan dengan keinginan masyarakat, terutama anak-anak. Semisal bus kecil ceria yang kerap wara wiri di televise program anak, Tayo The Little Bus.

Namun tak hanya Tayo, Central Park dan Neo Soho Mall juga mengundang teman Tayo, Gani dan Lani. Bermacam keseruan program bertajuk Tayo’s Funventure ini dapat dinikmati sejak 24 Mei hingga 7 Juli 2019.

Menurut Senior Marketing Communication Manager Central Park dan Neo Soho Mall, Silviyanti Dwi Aryati pihaknya sengaja menghadirkan karakter Tayo untuk memenuhi keinginan pengunjung terutama keluarga. Selain bermain, menari bersama Tayo, Gani dan Lani, pula anak-anak dapat belajar keselamatan dalam berlalu lintas dengan Polsanak.

“Melihat antusias dan minat anak-anak terhadap Tayo The Little Bus di seluruh penjuru dunia, Central Park menghadirkan karakter Tayo The Little Bus dengan kawan-kawannya yaitu Gani dan Lani untuk mengajak para pengunjung bersenang-senang dan bertemu langsung secara eksklusif. Dalam rangkaian Tayo’s Funventure, selain bermain para buah hati juga dapat belajar tentang keselamatan lalu lintas yang bekerjasama dengan polisi sahabat anak atau POLSANAK  khusus di tanggal 6 Juli 2019,” urainya belum lama ini.

Selain belajar mengenai keselamatan dalam berlalu lintas, meet and greet bersama Tayo The Little Bus, Gani dan Lani juga dapat dinikmati saban Jumat, Sabtu, Minggu sejak 26 Mei hingga 30 Juni. Untuk ikut ini, pengunjung diharuskan berbelanja minimal 250 ribu rupiah di semua tenant Central Park dan neo Soho Mall atau pembelian merchandise sebesar 150 ribu rupiah.

Sedangkan bagi pengunjung yang ingin menumbuhkan kreatifitas anak bisa mengikuti Art and Craft Activity di Fun Activity Both yang berlangsung 30 Mei sampai 30 Juni 2019.

“Kegiatannya adalah mewarnai dan kolase karakter Tayo The Little Bus setiap harinya dengan hanya menunjukan struk belanja minimal senilai Rp 250.000 di seluruh tenant Central Park dan Neo Soho dan minimal senilai Rp 150.000 di area Retail and Merchandise. Bakery Activity juga dihadirkan untuk mengajak anak-anak menghias cupcake sekreatif mungkin di setiap hari Sabtu dan Minggu jam 14.00 WIB dan 17.00 dengan menunjukan struk belanja minimal senilai Rp 250.000 di seluruh tenant Central Park dan Neo Soho di Laguna Atrium Central Park Mall dan minimal senilai Rp 150.000 di area Retail and Merchandise,” papar Silviyanti.

Sementara untuk anak pengunjung berusia 4 – 10 tahun yang mau menunjukan bakat terpendamnya, dapat ikut serta Tayo’s Funventure Costume Competition. Diadakan 30 Juni 2019, peserta bisa menampilkan kostum bertema Tayo The Little Bus terbaiknya. Hadiah menarik menanti pada acara yang di mulai jam 12.00 di Laguna Atrium Central Park Mall.

Untuk usia yang sama namun tak ingin ikut Tayo’s Funventure Competition, pengunjung dapat menyertakan anak untuk lomba mewarnai. Tayo’s Funventure Coloring Competition sendiri diadakan tanggal 7 Juli 2019 mulai pukul 16.00 hingga 18.00 di Laguna Atrium Central Park Mall. [foto/teks : denim]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lifestyle

Hasil Riset : Conscious Lifestyle Masyarakat Indonesia Lebih Tinggi Dari Jepang

Published

on

FEM Indonesia – Kabar gembira untuk negara-negara ASEAN, utamanya Indonesia. Dalam sebuah penelitian The Rise of Conscious ASEANs: Why should you CARE?” lewat forum HILL ASEAN ke-6 diketahui masyarakat ASEAN mempunyai 55 poin lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jepang yang 40% di antaranya saat ini sudah memahami istilah Conscious Lifestyle serta 25% melakukan tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

“Angka yang lebih menggembirakan tampak pada profil Indonesia, dimana 92% masyarakat kita telah mengetahui istilah Conscious Lifestyle dan bahkan 93% di antaranya telah mengaplikasikannya dalam kehidupannya,” ujar Institute Director HILL ASEAN dan Executive Director Strategy Hakuhodo International Indonesia, Devi Attamimi baru-baru ini.

Melalui webinar, pembicara tersebut menambahkan dalam melakukan penelitian Conscious Lifestyle tersebut menggunakan tiga pendekatan, kuantitatif, kualitatif dan wawancara dari masyarakat ASEAN.

“Metode kuantitatif dengan sampel 4.500 orang, metode kualitatif dengan sampel 24 orang serta wawancara dengan 12 orang Key Opinion Leader (KOL),” kata Devi lagi.

Atas temuan ini, Devi mengatakan muncul istilah baru yang disebut the Consciouslites sebagai segmen yang akan mendominasi pasar dalam waktu dekat.

“Temuan riset ini menjadi bukti perkembangan tren yang sangat positif. Kami menyaksikan terbentuknya segmentasi masyarakat baru, yaitu mereka yang sudah sepenuhnya sadar menjalankan gaya hidup yang bertanggung jawab dalam kesehariannya,” lanjutnya.

Sementara itu CEO Hakuhodo Internasional Indonesia, Irfan Ramli menyatakan bahwa dalam menjalankan usaha, pihaknya menerapkan filosofi ‘sei-katsu-sha’.

“Filosofi ini memandang konsumen dengan perspektif 360 derajat lebih dari sekedar pembeli yang melakukan fungsi ekonomi, namun sebagai individu secara holistik yang memiliki gaya hidup, mimpi dan aspirasi berbeda-beda. Hasil riset ini menjadi semangat baru dan energi positif bagi kita semua dalam membuka peluang, dan menggerakkan brand untuk memanfaatkan momentum besar, menuju ke arah yang benar,” urainya.

Untuk diketahui penelitian dilakukan guna menggali kesadaran dan perilaku masyarakat ASEAN akan gaya hidup dan pilihan mereka, yang memengaruhi aspek sosial dan lingkungan. Temuan ini menjadi petunjuk berbasis fakta yang sangat bermanfaat untuk membantu brand dari produk-produk konsumen di berbagai negara ASEAN dalam meredefinisikan dirinya, membubuhkan nilai tambah sosial dan lingkungan, serta memperkuat strategi pemasarannya, yang tentunya diperkuat dengan keunggulan manajemen dan solusi unik dari Hakuhodo. [foto : dokumentasi/teks : denim]

Continue Reading

Lifestyle

Jakarta Fashion Week 2021, Adakan Seleksi Model di Lima Kota Besar

Published

on

FEM Indonesia – Perhelatan Jakarta Fashion Week 2021 akan digelar Oktober 2020 mendatang, namun JFW Series rangkaian acara menuju Jakarta Fashion Week sudah dimulai di bulan Februari ini.

Rangkaian digelar Jakarta Fashion Week Model Search atau JFW Model Search. Berbeda dari tahun sebelumnya, JFW Model Search tahun ini tidak hanya diadakan di empat kota, tetapi di lima kota besar, termasuk Grand Final di Jakarta.

Audisi pertama akan diadakan di Hartono Mall, Yogyakarta, pada 8 9 Februari 2020, disusul audisi tanggal 15 16 Februari 2020 di Galaxy Mall 3, Surabaya. Pada tanggal 29 Februari 1 Maret 2020, audisi akan dilaksanakan di Delipark, Medan, kemudian tanggal 14 15 Maret 2020 di 23 Paskal, Bandung. Audisi terakhir sekaligus Grand Final akan berlangsung di Senayan City, Jakarta pada 20 22 Maret 2020.

JFW Model Search diadakan setiap tahun untuk mengaudisi para model yang akan berjalan di panggung Jakarta Fashion Week. Audisi ini terbuka untuk model dari agensi mana pun, modelfreelance yang tidak terikat agensi, serta model pemula.

Melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta, penyelenggaraan tahun ini didukung oIeh UBS Gold, pusat emas model baru dan Make Over, kosmetik ternama Indonesia. Selain berkesempatan ambil bagian di Jakarta Fashion Week, JFW Model Search mencari Face of Indonesia, untuk bertanding di Asia Model Festival 2020, di Seoul, Korea Selatan.

Para pemenang JFW Model Search dari 5 kota juga mendapatkan kesempatan mengikuti proses pemilihan The Search for JFW Icons. Program yang dimulai sejak tahun lalu ini menampilkan 12 kandidat model di sebuah web series. Para model berkompetisi merebut gelar JFW Icons, yang menjadi model kampanye Jakarta Fashion Week 2021.

Yang baru tahun ini, pendaftaran hanya bisa dilakukan melalui aplikasi Jakarta Fashion Week, hasil kolaborasi dengan Monnlay Technologies, serta adanya interaksi voting yang dapat dimanfaatkan pencinta fashion mana pun untuk memilih pemenang regional favorit untuk menjadi bagian dari The Search forJFW Icons.

Aplikasi JFW yang diluncurkan sejak Oktober 2019 ini tersedia untuk diunduh secara gratis di App Store dan GoogIe Play.

Continue Reading

Lifestyle

Komunitas SaveJanda Protes, Kata Janda Diganti Prelove Partner

Published

on

FEM Indonesia –  Kembali penggunaan kata janda yang kurang tepat digunakan untuk menambah riuh ruang media sosial oleh seorang figur publik.

Kali ini kata sakti, yang akan cepat menarik perhatian warga netizen dan menimbulkan pro dan kontra tersebut, tertuang dalam cuitan Henry Manampiring, penulis buku non-fiksi terkenal di kalangan muda seperti Filosofi Teras dan The Alpha Girl’s Guide.

Dalam cuitannya di platform Twitter, Henry melalui akunnya @newsplatter berkata, “Istilah janda dan duda sebaiknya diganti preloved partner”. Setuju?”. Sontak cuitan Henry tersebut disambut marak oleh warga netizen, termasuk tuaian kemarahan yang diterima oleh Henry dari para aktivis perempuan, khususnya janda.

Mutiara Proehoeman yang merupakan founder dari komunitas Save Janda, membalas cuitan Henry melalui akun @proehoeman, “Hai Henry, di saat kami dan teman-teman di @SaveJanda sedang berusaha untuk meminimalisir stigma janda di masyarakat, anda justru menambah beban kami atas apa yang sedang kami perjuangkan. Preloved sama saja kata kerennya untuk bekas #lawanstigmajanda”.

Myrna Soeryo praktisi humas, content creator isu pemberdayaan perempuan sekaligus satu satu co-founder komunitas Save Janda pun bersikap bahwa hal itu sangat memprihatinkan bahwa kembali kata janda dipergunakan oleh seorang figur publik untuk menarik perhatian di ranah media sosial.

“Janda seolah sudah menjadi kata sakti, agar segera dapat meraih popularitas dari warga netizen, tanpa memperdulikan stigma negatif yang terbentuk serta semakin membebani mental seorang janda dalam menjalani hidupnya,” ujarnya

“Kalau kita merujuk kepada KBBI, jelas bahwa kata janda hanyalah sebuah status dan tidak ada makna negatif di balik kata tersebut. Namun, karena pandangan misogini serta tatanan sosial patriarki, kata janda banyak dilekatkan dengan padanan kata yang bermakna negatif sehingga membentuk persepsi tidak baik di mata masyarakat terhadap kata janda. Sangat disayangkan seorang penulis buku terkenal yang memiliki perhatian besar terhadap isu-isu kesetaraan perempuan, justru juga bisa membuat pernyataan yang salah mengenai kata janda dan ikut serta menambah pembentukan persepsi negatif terhadap janda,” tambah Myrna.

Menurutnya, berdasarkan data dari mesin pencarian Google, dalam waktu hanya 0.49 detik, ada 31.800.000 pencarian terhadap kata janda. Suatu angka pencarian yang fantastis sehingga membuat banyak tulisan di media daring menggunakan kata janda.

Hal ini juga dialami oleh komunitas Save Janda, di mana akun resmi Instagram @save_janda juga dipalsukan oleh akun lain yang menirukan nama akun resmi tersebut, tetapi malah berisikan foto-foto perempuan tak senonoh.

“Sudah saatnya, kita bersama-sama menghentikan pembentukan stigma negatif terhadap kata janda. Banyak janda-janda muda di daerah-daerah yang kesulitan mencari nafkah akibat stigma negatif tersebut. Dagangannya menjadi tidak laku, hanya karena ia berstatus seorang janda. Atau ia dijauhi oleh tetangga-tetangga perempuannya, karena takut suaminya bakal direbut karena janda dianggap sebagai pelakor (perebut laki orang), hanya karena ia berstatus janda. Justru sebagai anggota masyarakat yang baik, kita harus membantu para janda ini agar dapat menjadi perempuan yang berdaya sehingga mereka dapat memberikan penghidupan yang layak bagi keluarganya. Sehingga tidak ada lagi seorang janda pun yang takut diberi label kata janda, karena janda hanyalah sebuah status,” tandas Myrna.

Continue Reading

Trending