Connect with us

Berita Movie & TV

Film Anak Garuda, Kisah Nyata Anak-Anak Sekolah Kurang Beruntung Menggapai Sukses

Published

on

FEM Indonesia –  Satu lagi film produksi anak negeri meramaikan bioskop pada 16 Januari 2020. Adalah Anak Garuda produksi Butterfly Pictures menceritakan sepak terjang anak-anak sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) dalam menimba ilmu hingga menjadi sukses di bidangnya kendati dari sisi ekonomi kekurangan. Film yang disutradarai Faozan Rizal dan Verdi Solaiman ini mengambil lokasi syuting di Malang dan sejumlah kota lain di Eropa.

Menurut Verdi Solaiman, dirinya terkesan kala mengetahui perjuangan siswa-siswi yang mencari ilmu di sekolah yang terletak di Kota Batu, Malang, Jawa Timur hingga memiliki kemampuan untuk bekerja sesuai bidang termasuk di dalamnya entrepreneur. Terlebih saat bersekolah, tak sedikit perbedaan yang harus dihadapi.

“Aslinya, saya ini memang sangat terkesan dengan siswa-siswi SPI ini. Tak cuma sanggup mengatasi hambatan pribadi yang rumit, seperti self-esteem dan percaya diri, mereka semua serius mengasah skill agar bisa jadi usahawan muda yang sukses, lalu mereka juga mampu membentuk tim kerja yang efisien dan valuable,” ujarnya di sela gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta.

“Berbagai tempaan ini yang menjadikan mereka pribadi-pribadi yang berintegritas tinggi, padahal masih sangat muda. Saya rasa, ini perlu disampaikan kepada masyarakat, karena ini kisah nyata dan kisah sukses, bukan cuma teori di atas kertas,” sambung Verdi.

Hal senada diungkapkan produser film Anak Garuda, Yohana Jusuf. Alumni SPI ini mengatakan walau cerita mengangkat kisah nyata sendiri namun tetap memiliki tantangan dalam membuatnya. Bahkan ia ingin masyarakat dapat mengambil pengalaman dari film yang dibintangi sejumlah pemain muda seperti Tissa Biani (Sayidah), Violla Georgie (Yohana), Ajil Ditto (Robet), Clairine Clay (Olfa), Geraldy Kreckhoff (Wayan), Rania Putrisari (Sheren), Rebecca Klopper (Dila) dan Kiki Narendra (Koh Jul) serta lainnya.

“Begitu banyak nilai dan sari kehidupan yang kami dapatkan di SPI yang rasanya semua bernilai untuk diceritakan kembali ke masyarakat, tetapi kami tidak boleh lupa bahwa medium film juga bertujuan memberi hiburan yang inspiratif untuk masyarakat, apalagi dengan target penonton para milenial yang tentunya tidak ingin diceramahi lewat film. Maka tantangan film ini adalah bagaimana menyajikan pengalaman hidup kami ini lewat perspektif yang fresh, mudah diikuti, sambil tetap menyenangkan dan menghibur bagi penonton,” urainya, Senin (13/1) malam.

Verdi juga berharap orangtua dapat mengajak anak untuk melihat film Anak Garuda lantaran pelajaran yang dapat dijadikan contoh.

“Harapannya film ini bisa menjangkau seluruh kalangan masyarakat, karena film ini cocok untuk semua lapisan, dari anak-anak muda remaja yang sedang mengejar cita-cita, hingga orang tua yang memberi arahan. Bahkan bagi calon pengusaha muda yang mau bikin startup, saya sarankan nonton. Kalau anak-anak SPI yang dari kalangan miskin saja bisa, apalagi kita yang dari kalangan lebih beruntung, juga pasti bisa !,” jelasnya.

Film ANAK GARUDA terinspirasi kisah nyata tujuh alumni Sekolah SPI di tahun-tahun awal berdiri. Ceritanya berangkat saat Julianto Eka Putra sang inisiator (biasa dipanggil Koh Jul) mengajak 7 anak dengan latar belakang (suku, agama dan ras) berbeda – Sheren, Olfa, Wayan, Dila, Sayidah, Yohana dan Robet menjadi satu tim yang membantunya mengelola operasional sekolah dan unit-unit bisnis.

Namun menyatukan mereka bukan persoalan sederhana. Pertengkaran dan keributan silih berganti, mulai dari salah paham hingga rasa iri dan cemburu. Tambah lagi, bibit-bibit cinta terpendam di antara mereka, menambah munculnya potensi perpecahan. Satu-satunya yang bisa merekatkan adalah figur Koh Jul. Namun hingga kapan ketergantungan ini terjadi ? Akhirnya Koh Jul melepas ketujuh anak tersebut berangkat ke Eropa tanpa didampingi.

Di Eropa, semua yang ditakutkan, menjadi kenyataan. Pertengkaran dan keributan meledak, perpecahan di depan mata. Di Eropa, ketujuh anak muda ini harus bersama-sama membangun kembali fondasi kebersamaan yang sebelumnya dibangun Koh Jul, sambil menjalankan tugas belajar mereka di Eropa. Seperti apa cara mereka mengelola konflik dan mencipta harmoni kembali ? [foto : dokumentasi/teks : pr/denim]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Movie & TV

Jadi Jagoan, Aksi Baru Ladya Cheryl di Film ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’

Published

on

FEM Indonesia – Palari Films mengumumkan ​garapan film twrbarunya yang di adaptasi novel karya Eka Kurniawan berjudul ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’.

Sutradara film ‘Posesif’ dan ‘Aruna dan Lidahnya’, Edwin akan menyutradarai dan menulis skenarionya. Film ini direncanakan syuting di akhir tahun 2020. Film ini akan ditayangkan pada tahun 2021.


Kolaborasi Ladya dan Edwin menandai kerja sama ketiga untuk film panjang. Dua film panjang awal karier Edwin yaitu ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’ (Nominasi – New Currents Awards, Busan International Film Festival 2008) dan ‘Postcards from the Zoo’ (Nominasi – Golden Bear, Berlin International Film Festival 2012), Edwin dan Ladya juga berkolaborasi di tiga film pendek yaitu ‘Kara, Anak Sebatang Pohon’ (Directors’ Fortnight, Cannes Film Festival 2005), ‘Trip to the Wound’ (International Film Festival Rotterdam 2008), dan ‘Hulahoop Soundings’ (Clermont-Ferrand International Short Film Festival, Perancis: 2009).

Dalam film ini, Ladya akan memerankan sosok Iteung, salah satu karakter utama dalam novel tersebut. Film bergenre drama, romansa, dan laga bercerita tentang Ajo Kawir, jagoan yang tak takut mati. Hasratnya yang tak terpadamkan untuk berkelahi didorong oleh rahasia – dia impoten.


Ketika bertemu dengan seorang petarung bernama Iteung, jagoan perempuan yang tangguh, Ajo dibuat babak belur sekaligus bahagia – Ajo jatuh cinta. Apakah Ajo dan Iteung dapat berbahagia berdua? Apakah Ajo dapat menerima dirinya?

Dengan mengambil latar suasana Indonesia tahun 80 hingga awal 90an, mengupas maskulinitas dan relasi kekuasaan. “Kami berencana untuk bekerjasama dengan Kabupaten Rembang sebagai lokasi ​shooting film ini,” ujar Meiske Taurisia, produser film dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Film ini direncanakan syuting di akhir tahun 2020. Dan akan ditayangkan pada tahun 2021 mendatang.

Continue Reading

Movie & TV

Visinema Pictures Rilis Teaser Film Terbaru “Generasi 90an: Melankolia”

Published

on

FEM Indonesia – Setelah sukses dengan film ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ di awal tahun, Visinema Pictures kembali meluncurkan teaser poster dan video dari film terbarunya yang berjudul ‘Generasi 90-an: Melankolia’.

Teaser film berdurasi 63 detik ini masih berbicara tentang relasi personal antar individu, baik dengan keluarga atau teman dan posisi mereka dalam kehidupan kita yang tak tergantikan.

Film yang diproduseri oleh Angga Sasongko ini, disutradarai oleh Irfan Ramly. Seorang sutradara muda baru yang sebelumnya kerap membantu Angga untuk menulis berbagai skenario filmnya, diantaranya Cahaya Dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi 2 dan Surat Dari Praha.

“Ipang adalah salah satu dari sedikit orang yang percaya sejak awal dengan visi kami di Vis- inema, pelan – pelan kami bangun Visinema hingga hari ini. Senang sekali melihat banyak kawan berproses hingga pada saatnya berani dan berhasil untuk unjuk gigi belajar menjadi sutradara”, ungkap Angga terkait pemilihan sutradara yang tepat untuk film ini.

Generasi 90-an: Melankolia yang juga diadaptasi dari buku Generasi 90an karya Machella FP ini bercerita tentang, Abby (Ari Irham), anak muda yang sedang mencari jadi diri dan selalu men- jadikan kakaknya, Indah (Aghniny Haque) sebagai sosok yang ia kagumi. Tiba – tiba, Abby harus menerima kenyataan bahwa kakaknya hilang dalam sebuah kecelakaan pesawat.

Di dalam kesedihannya, ia menemukan Sephia (Taskya Namya), sahabat kakaknya sebagai sosok peng- ganti Indah. Namun benarkah kehadiran Sephia bisa membantu Abby mengikhlaskan kakaknya atau justru membuat Abby kehilangan dirinya.

Film ini diperankan oleh banyak aktor muda diantaranya ada Ari Irham, Taskya Namya, Aghniny Haque, Jennifer Coppen, Wafda. Tak hanya menghadirkan aktor muda berbakat, film ini juga dilengkapi dengan penampilan dari para aktor yang hits pada era 90-an seperti Gunawan, Mar- cella Zalianty. Frans Mohede, dan Amara Mohede.

Generasi 90an: Melankolia rencananya akan tayang pada April 2020 di bioskop seluruh Indonesia.

Continue Reading

Movie & TV

Ranti Maria Dapat Pengalaman Baru Main di Film “4 Mantan”

Published

on

FEM Indonesia – Produser film, Raffi Ahmad dan Frensen Susanto lewat RA Picture kembali merilis film berjudul “4 Mantan”. Film arahan sutradara Hanny R Saputra kali ini disajikan bergenre thriller horor yang menarik seputar cerita anak muda.

Dengan menawarkan kisah seputar empat mantan yang salah satunya melakukan balas dendam. Kisah bercerita tentang Sara (Ranti Maria), Airin (Melanie Berezntz), Rachel (Melayu Nicole), dan Amara (Denira Wiraguna) mereka berempat mantan pacar Alex (Jeff Smith) yang memiliki latar belakang berbeda-beda.


Keempat wanita tersebut dipertemukan tanpa sengaja dengan suasana yang canggung ketika suatu peristiwa dikabarkannya sang mantan Alex (Jeff Smith) meninggal dunia secara naas.

Namun, ada hal yang mengejutkan dalam film yang akan tayang 20 Februari 2020 serentak ini, ketika ke empat mantan Alex (Jeff Smith) masing-masing mendapatkan sebuah surat misterius. Dalam surat tersebut memberikan indikasi beberapa diantara mereka bahwa ada salah satu pelaku pembunuh Alex (Jeff Smith).

“Dan orang yang ngebunuh gue adalah salah satu dari keempat mantan terakhir yang gue pacarin secara bersamaan,” tulis isi surat dari Alex. Setelah Alex (Jeff Smith) meninggal, mereka pun bertemu di suatu tempat dan saling mencurigai satu sama lain. Selain itu, banyak juga teror yang menghampiri mereka, mulai dari orang yang berpakaian serba hitam dan orang yang membawa pisau. Salah satu dari mereka ada yang menganggap bahwa jika surat dari mantannya itu adalah Prank dari seseorang yang tidak dikenal. 


Sementara artis muda berbakat, Ranti 
Maria yang memerankan salah satu mantan mengaku tertantang bisa bermain di film ini menjadi sosok Rara yang berbeda dengan karakter asli pribadinya. “Kebetulan ini film pertama aku, dan jujur senang banget, kayak di atas ekspektasi aku. Ini jadi pengalaman baru yang menyenangkan. Apalagu aku kan nggak pernah syuting dengan suasana sunyi banget, malam-malam,” ujar Ranty Maria disela premiere 4 Mantan di CGV Grand Indonesia pada Senin (17/2/2020).

Wanita kelahiran 26 April 1999 dalam film ini juga mengaku dapat tantangan dan pengalaman baru. Ranty dituntut menjadi seseorang yang jauh berbeda dari kesehariannya dan juga karakter yang belum pernah dilakoninya, baik di sinetron maupun film.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending