Connect with us

Movie & TV

Garap Film Horor Baru, ‘Tu7uh Rumah Produksi’ Kenalkan Bintang Berwajah Kpop

Published

on

FEM Indonesia – Setelah sukses dengan web series, “Abi Ghea”, PH Tu7uh Rumah Produksi kembali menggarap film layar lebar.

Film  yang sedang digodol serius memasuki proses pencarian aktris pemeran utama dan hunting lokasi, produser Tirta Siregar dan Andre Murtono mengungkapkan kali mengangkat film bergenre horor menegangkan.

Selain akan mengambil lokasi syuting di Bandung dan Jakarta, film rencananya akan menggelar syuting usai lebaran tahun ini.

“Kita kembali konsen menggarap film layar lebar. Menurut kami, film tayang di bioskop lebih menantang dan menghasilkan dari pada hanya tayang di aplikasi,” ujar Tirta Siregar ditemui saat sedang menggelar photo composite dua talent barunya di DM Studio, Jakarta, belum lama ini.

Tirta Siregar sebagai produser eksekutif di Tu7uh Rumah Produksi menuturkan, bahwa cerita film horor yang akan diangkatnya kali ini adalah cerita sosok hantu yang paling menyeramkan. Ia bersama sang suami Andre Murtono akan menggarapnya oleh sutradara yang belum mau disebutkan namanya dengan serius dan ke hati-hatian agar hasilnya menarik ditonton tahun ini.

Sementara Andre Murtono menambahkan, filmnya nanti akan menggandeng aktris terkenal dan sederet bintang baru. Salah satu pendatang baru yang sudah di plot dalam filmnya kali ini adalah Fransiska asal Kalimantan Barat.

“Selain berkarakter, Fransiska berwajah kpop dan jepang. Saat ini Fransiska sudah masuk kelas akting secara serius agar nanti ia sudah siap saat syuting digelar usai lebaran ini,” ujar Andre Murtono.

Meski Andre belum mau membeberkan judul filmnya, namjn filmnya nanti diharapkan bisa mengguncang perfilman horor Indonesia.

Sementara Fransiska yang lahir di Jongkong pada 7 Juli 2002, mengaku senang bukan main bisa bergabung di Eigthteen Managemen di bawah naungan PH Tu7uh Rumah Produksi.

Fransiska yang berwajah karakter kpop dan jepang ini bahkan sampai berhijrah dari kampung halamanya di Kalimantan Barat ke Jakarta, agar bisa main film dengan serius.

“Main film bagi aku adalah impian yang selama ini saya belum terwujud. Semoga bersama Eigthteen Management, bakat aktingku terasah dan lancar menggapai cita-citaku menjadi pemain film seperti idolaku, Reza Rahadian,” kata Fransiska yang juga penggemar film horor Thailand.

Hiburan

Tembus 1 Juta, Trailer Film “Heartbreak Motel” di Perani Laura Basuki dan Reza Rahadian

Published

on

FEM Indonesia – Visinema Pictures merilis official trailer dan poster film drama romansa terbaru mereka, “Heartbreak Motel” yang dibintangi Laura Basuki, Reza Rahadian, dan Chicco Jerikho. 

Official trailer terbaru yang diunggah melalui akun Instagram @visinemaid dan @heartbreakmotelfilm serta kanal Youtube Visinema, serta beberapa kanal resmi jaringan bioskop, berhasil menembus 1 juta views dalam waktu kurang dari 12 jam.

Angka ini tentu sangat fantastis dan menandakan antusiasme penonton terhadap film “Heartbreak Motel”.

Pada official trailer, Ava (Laura Basuki) terlihat begitu mesra dengan Raga (Chicco Jerikho). Melalui perbincangan tengah malam yang mendalam, keduanya seperti berada di dunia yang lain.

Sementara, ketika berhadapan dengan Malik (Reza Rahadian), Ava kembali terlempar ke kehidupan nyatanya di depan layar yang penuh sorotan lampu dan hiruk-pikuk dunia selebritis. Hingga kemudian Ava teringat dengan traumanya semasa kecil, ketika sang ayah melakukan kekerasan terhadap ibunya yang semuanya ia saksikan dengan mata kepala sendiri. Berbeda dengan Raga yang penuh kelembutan, Malik terlihat seperti sosok yang temperamental dan berani melakukan kekerasan, jadi pelatuk trauma masa lalu Ava.

Official poster yang menampilkan tiga bintang utama, Laura Basuki, Reza Rahadian dan Chicco Jerikho, menempatkan Laura duduk bersimpuh di depan Reza Rahadian. Sementara Chicco berada di samping keduanya. Laura dan Chicco terlihat mengenakan busana yang senada. Sementara Reza terlihat mencolok dengan busana aksen merahnya.

Film drama romansa “Heartbreak Motel” disutradarai Angga Dwimas Sasongko dan diadaptasi dari novel laris Ika Natassa berjudul sama mengisahkan perjalanan Ava, seorang aktris terkenal yang merindukan cinta sejati di balik gemerlapnya dunia selebriti. Kehadiran Malik, aktor pujaan dan Raga, pekerja biasa semakin memperumit kisah cintanya. Ava harus memilih antara cinta yang glamor dan familiar, atau cinta yang sederhana namun tulus.

Melalui official trailer, Angga Dwimas Sasongko juga menunjukkan dimensi dunia yang berbeda. Lapisan para karakternya semakin terkuak, dan memberikan pengalaman menonton dengan penataan sinematografi yang dinamis.

“Saya melihat naskah yang ditulis oleh Alim Sudio di film ini memiliki potensi untuk bisa memanfaatkan format yang yang dinamis. Ada cerita yang direkam dengan kamera digital, ada sub cerita dengan kamera seluloid 16 milimeter, dan ada juga yang dengan 35 milimeter. Ini bisa memberikan sebuah pengalaman menonton tiga dunia berbeda. Bukan cuma dari karakternya tapi juga secara sinematografi dan visual disajikan,” kata CEO Visinema dan sutradara “Heartbreak Motel” Angga Dwimas Sasongko.

Sementara Laura Basuki beradu akting dengan Reza Rahadian. Sementara dengan Chicco Jerikho, ini menjadi pengalaman perdananya. Baik Laura, Reza dan Chicco, ketiganya pernah memenangkan Piala Citra FFI untuk pemeran utama terbaik.

“Di sini, karakter yang aku perankan adalah dia aktris yang sulit untuk membedakan perannya dengan kehidupan langsung. Dia masih merasakan peran yang dibawakan, jadi butuh waktu menyendiri,” kata Laura Basuki.

Reza Rahadian, yang juga merupakan kolaborator lama Visinema dan Angga Sasongko, mengungkapkan di film terbarunya Angga memberikan perkembangan yang sangat progresif. Sementara kerja samanya kembali dengan Laura Basuki, selalu membawa Reza untuk menemukan hal-hal baru. Rekan mainnya tersebut, disebut Reza selalu memberikan upaya maksimal sehingga pekerjaannya sebagai aktor juga separuhnya telah terbantu.

“Saya sendiri sebagai orang yang mengenal Angga dan Visinema sejak film pertama Visinema, saya melihat progress-nya Angga sangat progresif. Saya senang dia kembali lagi menyutradarai dan menawarkan sesuatu yang baru,” kata pemeran Malik, Reza Rahadian.

Diproduseri Kori Adyaning, film “Heartbreak Motel” akan segera hadir di bioskop pada 1 Agustus 2024. 

Continue Reading

Movie & TV

Angkat Kisah Keluarga Indonesia Timur, Film “Kaka Boss” Rilis Official Poster

Published

on

FEM Indonesia – Setelah sukses disederer judul film “Ngeri-Ngeri Sedap”, “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film”, “Agak Laen”, dan “Harta Tahta Raisa”, rumah produksi Imajinari kembali mempersembahkan film kelimanya.

Film kali ini sebuah komedi keluarga berjudul “Kaka Boss” yang disutradarai Arie Kriting, merilis official poster pada Selasa, 9 Juli 2024. Dalam official poster yang meriah dengan ornamen etnik Indonesia Timur warna tersebut tampak para bintang utama di film ini. 

Pemeran utama Godfred Orindeod yang memerankan Ferdinand ‘Kaka Boss’ Omakare menjadi sentral official poster. Ia yang memegang mikrofon, bersanding dengan Glory Hillary. Sementara di bawah mereka, juga hadir Mamat Alkatiri, Nowela Mikhelia, Ernest Prakasa, Putri Nere, dan Abdur Arsyad.

Ini menjadi film debut bagi bintang muda Glory Hillary yang saat ini masih duduk di bangku SMA.

Ia belum pernah memiliki pengalaman akting, dan lebih banyak bergelut dengan dunia musik yang ia tekuni di bangku pendidikannya. Duetnya bersama Godfred Orindeod sebagai pasangan anak perempuan dan sang ayah di film “Kaka Boss” pun patut dinanti.

“Kaka Boss” akan menjadi film komedi keluarga terbaru dari Imajinari, mengangkat kisah yang berlatar keluarga Indonesia Timur. Sebelumnya, Imajinari juga sukses dengan film drama komedi keluarga dengan latar keluarga Batak, “Ngeri-Ngeri Sedap” yang berhasil mendapatkan 2,8 juta penonton dan lima nominasi Piala Citra.

“Kaka Boss” berkisah tentang Ferdinand ‘Kaka Boss’ Omakare, penagih utang (debt collector) yang terkenal dan sangat disegani, mencoba untuk mengubah haluan dalam perjalanan kariernya untuk menjadi seorang penyanyi untuk membahagiakan sang anak semata wayang yang merasa malu pada profesi ayahnya.

Film diproduseri Ernest Prakasa dan Dipa Andika ini, Arie Kriting juga dibantu Kristo Imanuel sebagai ko-sutradara dan Arif Brata sebagai konsultan komedi. Selain menyutradarai, Arie juga menulis skenario film “Kaka Boss”. 

Mengangkat kisah tentang keluarga Indonesia Timur, film ini dibintangi oleh mayoritas para pemeran keturunan Indonesia Timur dari berbagai disiplin ilmu mulai dari aktor, atlet MMA, penari, hingga penyanyi. “Saya bangga bukan main terhadap film ini. Apa yang disuguhkan sangat fresh, dan sesuai dengan DNA Imajinari untuk selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang unik dan otentik,” ucap Ernest Prakasa selaku produser.

“Pertama kali mendengar cerita ini justru jauh sebelum Imajinari berdiri. Dan ketika Arie menceritakannya kepada saya, saya percaya “Kaka Boss” akan semakin membuat perfilman Indonesia jauh lebih berwarna,” tambah Dipa Andika yang juga menjadi produser.

Film “Kaka Boss” akan tayang di bioskop mulai 29 Agustus 2024, dan informasi

Continue Reading

Movie & TV

Tiga Film Indonesia Raih Penghargaan di Project Market BIFAN 2024 dari Korea

Published

on

FEM Indonesia – Tiga proyek film genre Indonesia mendapatkan penghargaan dalam NAFF Project Market dan Goedam Campus Pitching yang menjadi rangkaian Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2024. 

Dua proyek film genre Indonesia, “Dancing Gale” dan “Virgin Bash” mendapatkan penghargaan di NAFF Project Market. Sementara proyek film “The Heirlooms” mendapat Bucheon Awards di Goedam Campus Pitching. Pengumuman pemenang berlangsung pada Selasa, 9 Juli 2024 di Convention Hall, Webtoon Convergence Center Bucheon, Korea Selatan.

Sebelum penghargaan diumumkan dewan jury menyampaikan bahwa jury yang terdiri dari Yulia Evina Bhara (Autobiography, Tiger Tripes, 24 Jam Bersama Gaspar), Mike Macari dan Yohwan Kim, sepakat untuk memberikan penghargaan kepada proyek-proyek yang memiliki kombinasi aspek: 

Memperesentasikan proyek dengan jelas dan hadir pitching dengan persiapan yang baik, Kreativitas cerita dan seberapa siap untuk segera masuk pada proses produksi.

“Dancing Gale” mendapatkan DHL Award dan berhak menerima hadiah sebesar 5 Juta Won (sekitar Rp58,8 juta). Proyek film “Dancing Gale” disutradarai Sammaria Simanjuntak dan diproduseri Lies Nanci Supangkat dari rumah produksi Pomp Films juga menerima penghargaan skenario terbaik 1 dari lab Indonesiana Film pada tahun 2023. Film ini mengangkat tema budaya Batak melalui kisah boneka Sigale-gale, boneka pelipur lara dari Tanah Toba. Film akan mengambil latar di Danau Toba.

“Tim kami sangat bangga dapat membawa nama Indonesia, juga masyarakat Batak dan Danau Toba ke panggung internasional melalui proyek film “Dancing Gale” yang meraih penghargaan DHL Award di NAFF Project Market BIFAN. Penghargaan ini tidak lepas dari dukungan luar biasa Direktorat Perfilman Musik dan Media (PMM) Kemendikbudristek dan seluruh delegasi Indonesia. Semoga film ini segera mendapatkan pendanaan penuh, diproduksi, dan menambah kekayaan film horor Indonesia di dunia internasional, dan menjadi kebanggaan kita semua,” kata sutradara “Dancing Gale” Sammaria Simanjuntak.

Sementara proyek film “Virgin Bash” mendapatkan Mocha Chai Laboratories Post Production Award dan berhak menerima hadiah fasilitasi pasca-produksi setara dengan nilai $35 ribu (sekitar Rp569 juta). Film “Virgin Bash” disutradarai Randolph Zaini, diproduseri Susanti Dewi dari rumah produksi IDN Pictures.

Berkisah tentang pesta dara sebelum pernikahan yang menyenangkan, berubah menjadi tragedi berkepanjangan.

Kedua film, “Dancing Gale” dan “Virgin Bash” terseleksi ke NAFF Project Market BIFAN dan masuk dalam Project Spotlight bersama tiga proyek film lain dari Indonesia, “Mad of Madness” (Forka Films), “Into the Woods” (Talamedia), dan “The Hidden Flowers” (Relate Films). 

Kelimanya berkesempatan melakukan presentasi di hadapan juri dan bersaing dengan proyek-proyek film dari negara Asia lain untuk mendapatkan penghargaan dan menerima hadiah. “Perjalanan “Virgin Bash” hingga mencapai titik ini penuh dengan tantangan dan kerja keras. Mulai dari pengembangan konsep, penulisan naskah hingga proses pitching yang intens, semuanya memerlukan dedikasi dan kolaborasi yang luar biasa dari seluruh tim. Ke depan, kami berharap dapat menemukan calon-calon kolaborator lainnya seperti investor internasional dan ko-produser, untuk dapat menjadikan “Virgin Bash” menjadi karya film yang dinikmati bukan saja oleh penonton Indonesia, namun juga penonton global. Kami sangat antusias untuk melihat perjalanan cerita ini ke depannya,” kata produser “Virgin Bash” Susanti Dewi.

Produser Susanti Dewi dan tim “Virgin Bash” juga mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Kemendikbudristek bagi seluruh delegasi Indonesia di BIFAN 2024. “Dukungan ini sangat berarti bagi kami, karena partisipasi di BIFAN tidak hanya memberikan platform untuk memperkenalkan karya kami kepada dunia internasional, namun juga memperkuat jaringan kolaborasi dengan sesama pembuat film dari berbagai negara. Dukungan dari Kemendikbudristek membuka banyak pintu dan akses ke berbagai sumber daya yang berharga bagi pengembangan proyek film kami,” lanjut Susanti Dewi.

Proyek film “The Heirlooms” dari sutradara Devina Sofiyanti mendapat Bucheon Awards dalam forum Goedam Pitching. Sebelumnya, Devina dan proyek filmnya terseleksi mengikuti Goedam Residency. Goedam Residency merupakan program afiliasi dari Goedam Planning & Development Camp yang diperkenalkan BIFAN sejak 2023. Selama residensi berlangsung, Devina Sofiyanti bersama dengan dua sineas lain asal Jepang dan Taiwan dibimbing oleh produser asal Korea Selatan, Jenna Ku, yang sebelumnya sukses melahirkan karya-karya seperti “The Running Actress” (2017), “Little Forrest” (2018), hingga “Josee” (2020).

“Tidak menyangka akan menang di Goedam Pitching, karena proyek-proyek film lain juga bagus-bagus dan peserta lain lebih berpengalaman. Tapi senang dan bangga juga akhirnya bisa mendapat Bucheon Awards. Rencananya setelah ini akan memantapkan naskah lagi dan mencari ko-produser internasional dan nasional agar bisa melangkah ke tahap pra-produksi,” kata Devina Sofiyanti.

“Kemendikbudristek sangat mendukung dari awal proses keberangkatan saya residensi di Bucheon. Selain itu, Goedam Campus Residency yang saya ikuti juga merupakan inisiasi dari Jakarta Film Week (JFW), Kemendikbudristek, dan BIFAN,” kata Devina. 

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending