Connect with us

Hot News

Kenapa Artis Tersandung Narkoba ? Ini Kata Tata Liem

Published

on

FEM Indonesia – Tepat jika narkoba dan obat psikotropika jadi musuh nomor satu. Pasalnya semua lapisan masyarakat dapat terjeremus ke lingkaran barang haram ini. Salah satu yang rawan bersentuhan dengan narkoba dan sejenisnya, dunia entertainmen. Terbaru, Lucinta Luna harus berurusan dengan hukum lantaran polisi menemukan narkoba dan obat psikotropika serta hasil positif usai tes urine di kamar salah satu apartemen di Jakarta.

Kejadian ini pun memunculkan sejumlah opini. Semisal Tata Liem. Sepupu Fauzi Syahputra atau lebih dikenal Ozy Syahputra itu mengaku prihatin dengan kasus artis tersandung narkoba kembali terjadi. Terlebih dunia sosial saat ini bikin orang dengan mudah untuk terkenal walau tanpa karya bahkan cenderung hanya mengumbar kehebohan semata.

“Dunia entertain jaman sekarang sudah kehilangan arah. Fenomenal jaman digital dimana yang menjadi artis beneran itu ya yang harus seperti ini tanpa karya. Sensasi boleh tapi harus dengan gimmick yang tepat dan normal,” katanya.

“Sekarang yang halu halu karena untuk rating views tinggi malah digadang-gadang kan ? setidaknya setelah ini harus lebih selektif untuk mengatakan mana yang artis beneran atau publik figur beneran,” sambung Tata seraya menyarankan semua yang real artis harus tes jika mereka bukan pemakai atau pengguna narkoba.

Karena itu, lanjutnya, tak heran, menjadi terkenal sekarang lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu hanya menjual sensasi. Manajer beberapa selebritas ini pun merindukan jaman dimana artis lebih mengedepankan kerja nyata.

“Kalau sekarang saling hina, saling maki maki hanya ngejar endorse kali ya, lupa dengan namanya prestasi atau tampil untuk bisa syuting sinetron atau film. Kangen suasana dulu tahun 90 an dan 2000 awal dimana karya atau prestasi sangat diutamakan dari seorang talent. Semua talent mengejar bisa syuting atau masuk tv demi dapat nama jadi artis,” tutur Tata lagi.

Tak ketinggalan Tata juga berpesan agar seorang artis harus selalu mawas diri terhadap lingkungan sekitar termasuk dalam memilih teman pergaulan.

“Kejadian artis LL ini semoga bisa menjadi pelajaran betapa pentingnya jaga image atau jaga sikap untuk bisa dikatakan seorang bintang,” pungkasnya hanya kepada Femindonesia.com. [foto : dokumentasi/teks : denim]

Hot News

Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna Beberkan Tips Jitu Cegah Corona

Published

on

FEM Indonesia – Mengenai virus corona, Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna mengatakan bahwa tak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Pradi pun memberikan tips jitu terkait pencegahan virus Corona yaitu senantiasa dengan berwudhu.

“Air wudhu merupakan obat mujarab untuk pencegahan agar tidak terjangkit segala macam virus, termasuk virus Corona,” ujar Pradi di Balai Kota Depok, Kamis (5/3) seperti dikutip dari laman Republika online.


Pradi juga mengajak warga 
untuk menegakkan sholat dan berdoa. “Sholat dan berdoa juga sangat ampuh untuk kita dapat terhindar dari segala macam penyakit. Untuk itu mari kita benahi sholat kita dan berdoa. Semuanya ini merupakan ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi dengan ikhlas dan tawakan. Berserah padaNya,” tuturnya.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok beber Pradi sudah membuat krisis center terkait wabah virus Corona. Dan RSUD Kota Depok juga sudah menjadi rumah sakit satelit untuk penindakan dan perawatan pasien terindikasi virus corona. Ada juga layanan Nomor Tunggal Panggilan Darurat (NTPD) 112.

“Apabila ada warga yang ingin memberikan laporan adanya warga yang terindikasi virus corona, bisa disampaikan melalui NTPD 112. Dan bagi yang merasa kondisi tubuhnya sedang tidak fit, diharapkan segera periksa ke Puskesmas, agar dari situ bisa langsung terdeteksi statusnya seperti apa, dan ditangani secara cepat dan tepat di rumah sakit, khususnya di RSUD,”  tandas Pradi.

Continue Reading

Hot News

Peace Winds Japan Bantu dan Berikan Cara Pakai Masker Yang Benar Cegah Virus Corona

Published

on

FEM Indonesia – ​Virus Corona sudah menelan puluhan ribu jiwa, jumlah kematiannya pun sudah melebihi kematian disebabkan virus SARS di Cina. Penyebarannya yang sangat cepat bukan hanya di negara Cina tetapi juga di negara-negara lain di Asia, Eropa, dan Amerika.

Peace Winds Japan (PWJ) ikut merespon kejadian luar biasa yang disebabkan virus Corona. Bantuan tahap pertama PWJ dikirimkan ke sejumlah rumah sakit yang berafiliasi dengan Shanghai University. Sedangkan, bantuan kedua berupa perlengkapan medis sebanyak 1,2 ton telah dibagikan ke beberapa pihak lainnya di Cina.


Saito selaku Deputy Director Program for Overseas Program dari Peace Winds Japan (PWJ) 
menyatakan dengan kondisi penyebaran virus Corona di Indonesia yang masih rendah bahkan nihil, pencegahannya akan lebih mudah dibandingkan negara-negara yang sudah terdampak kasus-kasus virus Corona sebelumnya.

Untuk mencegah virus tersebut, warga Indonesia dapat melakukan tindakan preventif atau edukatif seperti mengenakan masker untuk melindungi diri dari virus. Saito turut memberikan saran terkait tindakan preventif penyebaran virus Corona. Contoh sederhananya adalah penggunaan masker dan rutin membersihkan tangan.


”Mungkin banyak orang yang merasa terlindungi dengan mengenakan masker. Sebenarnya, masker biasa yang tersedia di pasaran tidak seratus persen efektif untuk melindungi dari virus karena virus masih dapat masuk. Selain itu, pengguna harus tahu bagaimana cara mengenakan dan melepas masker dengan benar. Jika Anda mengenakan masker biasa, bagian luarnya masih dapat terpapar virus. Maka, untuk melepasnya, jangan sentuh maskernya, tetapi copotlah masker melalui talinya. Lalu jika sudah langsung buang dan jangan menyentuh lembaran maskernya,” jelas Saito dalam siaran persnya, baru-baru ini di Jakarta.

Di Jepang sendiri, pemerintah dan sejumlah NGO menerapkan beberapa cara untuk menanggulangi penyebaran virus Corona. Misalnya dengan melakukan sistem karantina yang ketat di perbatasan, bandara, dan pelabuhan hingga sosialisasi penggunaan masker yang tepat. “Karantina tidak hanya untuk orang Jepang yang baru saja kembali ke negaranya, namun juga orang asing yang memiliki kemungkinan terinfeksi. Karantina ini cukup efektif. Begitu pun untuk orang-orang yang baru datang ke Jepang dari luar negeri menggunakan kapal,” tambah Saito​.

Dengan kondisi penyebaran wabah yang cepat, Saito turut mengajak sebanyak-banyaknya kolaborasi antarbangsa. “Ada banyak kasus di negara-negara lain termasuk negara-negara Asia, beberapa orang yang mengenakan masker diserang hanya karena mereka mengenakan masker. Kebencian semacam ini yang terjadi hanya karena wabah penyakit. Ini hal yang tidak perlu terjadi, tidak perlu ada benturan antarbangsa hanya karena ini. Yang kita butuhkan saat ini adalah kolaborasi kerja sama satu sama lain untuk menemukan solusi terbaik tidak hanya dalam lingkup nasional, tapi juga antarbangsa maupun komunitas dan masyarakat umum,” ungkapnya.

Saito juga menghimbau kepada masyarakat Indonesia maupun negara lainnya agar tetap bersikap tenang dan bertindak berdasarkan pengetahuan dari para spesialis. Masyarakat tetap dapat menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasa. Hal ini karena, meskipun virus Corona merupakan virus baru dengan sistem yang berubah, akan tetapi tidak beracun. Sehingga, tidak akan menyebabkan kematian secara langsung begitu saja. Namun, yang sangat perlu diperhatikan adalah para lansia yang mungkin sudah mengalami sakit sebelumnya.

“Bahkan masyarakat umum tidak diharuskan membeli masker. Yang harus mereka lakukan hanya mencuci tangan dan menjaga kebersihan tangan serta jangan menyentuh area hidung atau wajah secara langsung ketika keluar rumah. Hal Ini lebih penting dari menggunakan masker. Walaupun ini adalah wabah yang luar biasa tetapi masyarakat harus bersikap tenang, karena jika kita panik maka semuanya akan menjadi lebih buruk,”ungkapnya.

Sebagai salah satu mitra stretegis yang berkolaborasi bersama ​Peace Wind Japan​, ​Amir Firdaus dari tim Global Philanthropy Network (GPN) – ACT ​turut menyambut baik sinergi yang akan dilakukan. Hal ini sebagai bentuk kerjasama ​antarbangsa dalam menemukan solusi terbaik dalam penanggulangan virus Corona.

Amir Firdaus menyatakan apresiasinya kepada PWJ sebagai mitra strategis untuk memberikan bantuan ke Cina atau negara terdampak lainnya. “PWJ memberikan beberapa ​advice bermanfaat yang bisa kita kerjakan terkait penyebaran virus Corona, seperti pengiriman bantuan ke negara-negara terdampak. Misalnya, alat-alat kesehatan serta edukasi masyarakat terkait kebersihan yang bisa kita laksanakan di dalam negeri. Sedangkan, untuk misi di Jepang, PWJ siap untuk memfasilitasi jika suatu hari ACT ingin membantu masyarakat di Cina seperti pembagian masker maupun alat-alat kesehatan lainnya,” tambahnya.

Sebelumnya, ACT telah mendistribusikan sebanyak 2000 masker ke warga Indonesia yang baru saja tiba dari Tiongkok di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng dan terus melakukan kampanye kesehatan. Selain itu, ACT juga telah mengirimkan 1.610 kotak masker; 1.210 kotak ke Hong Kong, 300 kotak ke Taiwan, dan 100 kotak ke Singapura.

ACT juga terus mengupayakan pencarian stok masker untuk Warga Negara Indonesia maupun masyarakat umum di Hong Kong, Macau, Singapura, dan Taiwan.

Continue Reading

Hot News

PWI Pusat Imbau Insan Pers Tidak Ungkap Identitas Pasien Virus Corona dan Tidak Ciptakan Kepanikan

Published

on

FEM Indonesia, Jakarta – Pengurus PWI Pusat dalam siaran persnya secara resmi mengimbau seluruh masyarakat pers, khususnya para penanggung jawab pers, agar di dalam pemberitaan mengenai Virus Corona  di Tanah Air memberi pemahaman mendalam kepada publik.

Selain itu, pemberitaan hendaknya menciptakan ketenangan di tengah masyarakat, mengedukasi, dan tidak menciptakan kepanikan.

Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat juga mengingatkan para wartawan mengenai kewajiban melindungi identitas atau data pribadi masyarakat yang tengah dalam dalam penanganan medis Virus Corona. “Silakan para wartawan menyampaikan informasi yang bermanfaat terkait Virus Corona ini, namun secara bersamaan melindungi data atau identitas pribadi korban virus yang tengah dalam perawatan medis,” kata Ketua Umum PWI Atal Sembiring Depari, Selasa (3/3/2020).

Pernyataan Pengurus PWI itu disampaikan sebagai respons atas adanya keluhan masyarakat terhadap pemberitaan sebagian media yang menyiarkan identitas pribadi pasien yang diduga mengalami infeksi Virus Corona. Pernyataabn PWI ini juga telah dibahas dalam Rapat Pleno Pengurus PWI Pusat. “Silakan wartawan atau media menyampaikan fakta-fakta yang telah terkonfirmasi. Tetapi, jangan lupa juga harus menghormati hak-hak pribadi korban. Jangan sampai diungkap secara vulgar. Ini jelas mengganggu hak pribadi pasien dan keluarganya. Bahkan masyarakat yang tinggal di lingkungan ru-mah pasien,” tambah Atal S Depari di Kantor PWI di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

PWI Pusat juga mengingatkan wartawan dan para pengelola news room sebagai gate keeper berita agar tetap menghormati Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam mengembangkan berita terkait  kasus Virus Corona. Pasal 9 KEJ secara tegas menyebutkan, “Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber ten-tang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.” Menghormati hak nara sumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati. Sementara  kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepent-ingan publik.

Selain itu, Pasal 17 huruf h UU No 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik juga melarang identitas dan riwayat kesehatan seseorang dibuka ke publik tanpa seizing yang bersangkutan. Pasal 17 huruf h  berbunyi: “Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi, yaitu: 1. riwayat dan kondisi anggota keluarga; 2. riwayat, kondisi dan perawatan, pengobatan kesehatan fisik, dan psikis seseorang.

PWI juga mengimbau nara sumber, baik itu dari tenaga medis, pejabat pemerintah, tokoh masyarkat, maupun masyarakat umum agar tidak mudah juga mengungkap identitas korban tanpa seizing yang bersangkutan. Bagi mereka yang telah disebutkan identitasnya, maka pemerintah maupun nara sum-ber terkait agar segera merehabilitasi nama korban apabila secara medis mereka dinyatakan negatif Virus Corona.

“Kami menilai ada beberapa media yang pemberitaannya sudah keluar dari koridor peraturan terse-but dan bisa menciptakan trauma kepada pasien maupun keluarga pasien. Karena itu, kami meng-ingatkan semua masyarakat pers, lebih khusus kepada para pemred atau penanggungjawab media, supaya tetap menghormati hak-hak pasien,” pungkas Atal S Depari. [foto: istimewa]

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending