Connect with us

Lifestyle

Model Citra Mayang Buka Studio Kecantikan Hadapi Krisis Dampak Covid-19

Published

on

FEM Indonesia – Pandemi covid-19 yang mewabah ke Indonesia, membuat banyak orang beralih profesi bahkan tak jarang kehilangan pekerjaan. Hal itu juga dialami oleh model cantik, Citra Mayang.

Sebelum pandemi, Citra Mayang bekerja disalah satu perusahaan kontraktor taraf internasional bergaji lumayan, lantaran mampu membayar angsuran mobil, rumah sampai membiayai keluarganya. Saat corona mewabah, kelahiran Tangerang, 25 Maret 1995 ini harus menerima kenyataan pahit tak lagi bekerja.

Untuk bertahan hidup, Citra lalu berpikir keras dan mencoba membuka jasa kecantikan dari sebuah studio ditempatnya Ia tinggal.

Berbekal belajar kursus kecantikan di sekolah estetika di JEF Jakarta Estetika First dengan meraih kelulusan, cewek yang pernah jalani karir model dan disc jockey ini lalu membuka gerai ‘CM Beauty Studio’. Dari studionya, Ia melayani masyarakat kurang mampu sampai kelas menengah keatas untuk urusan kecantikan wajah dan tubuh, seperti slimming, laser stretchmark, cellulite dan lainnya.

“Sebenarnya ini cita-cita aku dari kecil ingin jadi dokter kecantikan. Dan karena aku juga suka perawatan, healthy lifestyle, aku selalu olahraga agar awet muda dan harus berkulit sehat glowing akhirnya aku buka CM BEAUTY STUDIO, ” ujar Citra Mayang ditemui di studio kecantikannya, Mampang, Jakarta. Selatan, Jum’at (19/6/2020).

Dengan berbekal semangat keras, sejak sebulan membuka studionya, Citra mengaku sudah banyak mendapat pasien. Bahkan, Ia juga tak segan mendatangi orang ke rumahnya.

“Melalui CM Beauty Studio aku mau dedikasi diri aku menolong dan membantu dengan harga terjangkau, kualitas yang bagus bisa untuk semua kalangan, ” harap lulusan Fakultas Hukum Universitas Pamulang. Meski saat ini sibuk dengan prosfesi barunya, pehoby traveling baca buku dan berenang ini ternyata ingin melanjutkan karirnya namun di bidang tarik suara.

“Kalau bisa dijalanin bersamaan kenapa enggak, dan mungkin akan kembali aktif usai pandemi covid berakhir, ” tandasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lifestyle

Hasil Riset : Conscious Lifestyle Masyarakat Indonesia Lebih Tinggi Dari Jepang

Published

on

FEM Indonesia – Kabar gembira untuk negara-negara ASEAN, utamanya Indonesia. Dalam sebuah penelitian The Rise of Conscious ASEANs: Why should you CARE?” lewat forum HILL ASEAN ke-6 diketahui masyarakat ASEAN mempunyai 55 poin lebih tinggi dibandingkan masyarakat Jepang yang 40% di antaranya saat ini sudah memahami istilah Conscious Lifestyle serta 25% melakukan tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.

“Angka yang lebih menggembirakan tampak pada profil Indonesia, dimana 92% masyarakat kita telah mengetahui istilah Conscious Lifestyle dan bahkan 93% di antaranya telah mengaplikasikannya dalam kehidupannya,” ujar Institute Director HILL ASEAN dan Executive Director Strategy Hakuhodo International Indonesia, Devi Attamimi baru-baru ini.

Melalui webinar, pembicara tersebut menambahkan dalam melakukan penelitian Conscious Lifestyle tersebut menggunakan tiga pendekatan, kuantitatif, kualitatif dan wawancara dari masyarakat ASEAN.

“Metode kuantitatif dengan sampel 4.500 orang, metode kualitatif dengan sampel 24 orang serta wawancara dengan 12 orang Key Opinion Leader (KOL),” kata Devi lagi.

Atas temuan ini, Devi mengatakan muncul istilah baru yang disebut the Consciouslites sebagai segmen yang akan mendominasi pasar dalam waktu dekat.

“Temuan riset ini menjadi bukti perkembangan tren yang sangat positif. Kami menyaksikan terbentuknya segmentasi masyarakat baru, yaitu mereka yang sudah sepenuhnya sadar menjalankan gaya hidup yang bertanggung jawab dalam kesehariannya,” lanjutnya.

Sementara itu CEO Hakuhodo Internasional Indonesia, Irfan Ramli menyatakan bahwa dalam menjalankan usaha, pihaknya menerapkan filosofi ‘sei-katsu-sha’.

“Filosofi ini memandang konsumen dengan perspektif 360 derajat lebih dari sekedar pembeli yang melakukan fungsi ekonomi, namun sebagai individu secara holistik yang memiliki gaya hidup, mimpi dan aspirasi berbeda-beda. Hasil riset ini menjadi semangat baru dan energi positif bagi kita semua dalam membuka peluang, dan menggerakkan brand untuk memanfaatkan momentum besar, menuju ke arah yang benar,” urainya.

Untuk diketahui penelitian dilakukan guna menggali kesadaran dan perilaku masyarakat ASEAN akan gaya hidup dan pilihan mereka, yang memengaruhi aspek sosial dan lingkungan. Temuan ini menjadi petunjuk berbasis fakta yang sangat bermanfaat untuk membantu brand dari produk-produk konsumen di berbagai negara ASEAN dalam meredefinisikan dirinya, membubuhkan nilai tambah sosial dan lingkungan, serta memperkuat strategi pemasarannya, yang tentunya diperkuat dengan keunggulan manajemen dan solusi unik dari Hakuhodo. [foto : dokumentasi/teks : denim]

Continue Reading

Lifestyle

Jakarta Fashion Week 2021, Adakan Seleksi Model di Lima Kota Besar

Published

on

FEM Indonesia – Perhelatan Jakarta Fashion Week 2021 akan digelar Oktober 2020 mendatang, namun JFW Series rangkaian acara menuju Jakarta Fashion Week sudah dimulai di bulan Februari ini.

Rangkaian digelar Jakarta Fashion Week Model Search atau JFW Model Search. Berbeda dari tahun sebelumnya, JFW Model Search tahun ini tidak hanya diadakan di empat kota, tetapi di lima kota besar, termasuk Grand Final di Jakarta.

Audisi pertama akan diadakan di Hartono Mall, Yogyakarta, pada 8 9 Februari 2020, disusul audisi tanggal 15 16 Februari 2020 di Galaxy Mall 3, Surabaya. Pada tanggal 29 Februari 1 Maret 2020, audisi akan dilaksanakan di Delipark, Medan, kemudian tanggal 14 15 Maret 2020 di 23 Paskal, Bandung. Audisi terakhir sekaligus Grand Final akan berlangsung di Senayan City, Jakarta pada 20 22 Maret 2020.

JFW Model Search diadakan setiap tahun untuk mengaudisi para model yang akan berjalan di panggung Jakarta Fashion Week. Audisi ini terbuka untuk model dari agensi mana pun, modelfreelance yang tidak terikat agensi, serta model pemula.

Melihat antusiasme yang tinggi dari para peserta, penyelenggaraan tahun ini didukung oIeh UBS Gold, pusat emas model baru dan Make Over, kosmetik ternama Indonesia. Selain berkesempatan ambil bagian di Jakarta Fashion Week, JFW Model Search mencari Face of Indonesia, untuk bertanding di Asia Model Festival 2020, di Seoul, Korea Selatan.

Para pemenang JFW Model Search dari 5 kota juga mendapatkan kesempatan mengikuti proses pemilihan The Search for JFW Icons. Program yang dimulai sejak tahun lalu ini menampilkan 12 kandidat model di sebuah web series. Para model berkompetisi merebut gelar JFW Icons, yang menjadi model kampanye Jakarta Fashion Week 2021.

Yang baru tahun ini, pendaftaran hanya bisa dilakukan melalui aplikasi Jakarta Fashion Week, hasil kolaborasi dengan Monnlay Technologies, serta adanya interaksi voting yang dapat dimanfaatkan pencinta fashion mana pun untuk memilih pemenang regional favorit untuk menjadi bagian dari The Search forJFW Icons.

Aplikasi JFW yang diluncurkan sejak Oktober 2019 ini tersedia untuk diunduh secara gratis di App Store dan GoogIe Play.

Continue Reading

Lifestyle

Komunitas SaveJanda Protes, Kata Janda Diganti Prelove Partner

Published

on

FEM Indonesia –  Kembali penggunaan kata janda yang kurang tepat digunakan untuk menambah riuh ruang media sosial oleh seorang figur publik.

Kali ini kata sakti, yang akan cepat menarik perhatian warga netizen dan menimbulkan pro dan kontra tersebut, tertuang dalam cuitan Henry Manampiring, penulis buku non-fiksi terkenal di kalangan muda seperti Filosofi Teras dan The Alpha Girl’s Guide.

Dalam cuitannya di platform Twitter, Henry melalui akunnya @newsplatter berkata, “Istilah janda dan duda sebaiknya diganti preloved partner”. Setuju?”. Sontak cuitan Henry tersebut disambut marak oleh warga netizen, termasuk tuaian kemarahan yang diterima oleh Henry dari para aktivis perempuan, khususnya janda.

Mutiara Proehoeman yang merupakan founder dari komunitas Save Janda, membalas cuitan Henry melalui akun @proehoeman, “Hai Henry, di saat kami dan teman-teman di @SaveJanda sedang berusaha untuk meminimalisir stigma janda di masyarakat, anda justru menambah beban kami atas apa yang sedang kami perjuangkan. Preloved sama saja kata kerennya untuk bekas #lawanstigmajanda”.

Myrna Soeryo praktisi humas, content creator isu pemberdayaan perempuan sekaligus satu satu co-founder komunitas Save Janda pun bersikap bahwa hal itu sangat memprihatinkan bahwa kembali kata janda dipergunakan oleh seorang figur publik untuk menarik perhatian di ranah media sosial.

“Janda seolah sudah menjadi kata sakti, agar segera dapat meraih popularitas dari warga netizen, tanpa memperdulikan stigma negatif yang terbentuk serta semakin membebani mental seorang janda dalam menjalani hidupnya,” ujarnya

“Kalau kita merujuk kepada KBBI, jelas bahwa kata janda hanyalah sebuah status dan tidak ada makna negatif di balik kata tersebut. Namun, karena pandangan misogini serta tatanan sosial patriarki, kata janda banyak dilekatkan dengan padanan kata yang bermakna negatif sehingga membentuk persepsi tidak baik di mata masyarakat terhadap kata janda. Sangat disayangkan seorang penulis buku terkenal yang memiliki perhatian besar terhadap isu-isu kesetaraan perempuan, justru juga bisa membuat pernyataan yang salah mengenai kata janda dan ikut serta menambah pembentukan persepsi negatif terhadap janda,” tambah Myrna.

Menurutnya, berdasarkan data dari mesin pencarian Google, dalam waktu hanya 0.49 detik, ada 31.800.000 pencarian terhadap kata janda. Suatu angka pencarian yang fantastis sehingga membuat banyak tulisan di media daring menggunakan kata janda.

Hal ini juga dialami oleh komunitas Save Janda, di mana akun resmi Instagram @save_janda juga dipalsukan oleh akun lain yang menirukan nama akun resmi tersebut, tetapi malah berisikan foto-foto perempuan tak senonoh.

“Sudah saatnya, kita bersama-sama menghentikan pembentukan stigma negatif terhadap kata janda. Banyak janda-janda muda di daerah-daerah yang kesulitan mencari nafkah akibat stigma negatif tersebut. Dagangannya menjadi tidak laku, hanya karena ia berstatus seorang janda. Atau ia dijauhi oleh tetangga-tetangga perempuannya, karena takut suaminya bakal direbut karena janda dianggap sebagai pelakor (perebut laki orang), hanya karena ia berstatus janda. Justru sebagai anggota masyarakat yang baik, kita harus membantu para janda ini agar dapat menjadi perempuan yang berdaya sehingga mereka dapat memberikan penghidupan yang layak bagi keluarganya. Sehingga tidak ada lagi seorang janda pun yang takut diberi label kata janda, karena janda hanyalah sebuah status,” tandas Myrna.

Continue Reading

Trending