Seremonial

Festival Jajanan Bango 2019, Tak Sekedar Ajak Generasi Milenial Manjakan Lidah

Redaksi •    27 April 2019 | 21:32:28 WIB
Prahara Persatuan Artis Film Indonesia
( Foto:FEM | REDAKSI )

FEM Indonesia – Walau telah menjadi agenda tahunan, gelaran Festival Jajanan Bango (FJB) tetap ditunggu pecinta kuliner. Hal ini terlihat saat perhelatan FJB 2019 yang diadakan 16 hingga 17 Maret lalu di Area Parkir Squash, Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Tak tanggung – tanggung, sekira 80 both penjaja kuliner turut berpartisipasi untuk memanjakan lidah para pengunjung. Bahkan dari 80 both tersebut penyelenggara menyediakan 10 both khusus kuliner yang telah berkiprah di dunia makanan autentik nusantara selama beberapa generasi sekaligus implementasi tema FJB kali ini, Kelezatan Asli, Lintas Generasi.

“Bango memiliki misi sosial untuk melestarikan dan memajukan kuliner Indonesia dengan cara membantu mempopulerkan, menyejahterakan penjaja makanan tradisonal dan autentik Indonesia. Salah satunya melalui Festival Jajanan Bango. Tahun ini kami gelar untuk mengedepankan pentingnya eksistensi diapresiasi dan dinikmati hingga nanti. Di antara lebih kurang 80 penjaja kuliner yang kami persembahkan untuk menyajikan aneka ragam kuliner autentik Nusantara, kami dedikasikan sebuah area khusus bagi 10 penjaja kuliner lintas generasi yang telah membuktikan tekadnya untuk melanjutkan regenerasi pelestarian kuliner asli Indonesia,” tutur Foods Director PT Unilever Indonesia Tbk, Hernie Raharja.

Selain itu, lanjut Hernie, untuk mendorong regenerasi agar terus bersemangat melestarikan kuliner, pihaknya juga menghadirkan 3 penjaja kuliner langka, yakni Bubur Ase Bu Neh, Sate Kuah Pak H. Diding dan Cungkring Pak Jumat.

“Para pecinta kuliner dapat mengenal ragam kuliner Indonesia yang kini semakin langka sekaligus menunjukan apresiasi terhadap jasa mereka yang berperan besar dalam menjaga kuliner Indonesia dari kepunahan. Kami sangat bangga bahwa ternyata pecinta kuliner Indonesia juga ikut beregenerasi. Di tengah kuliner internasional yang semakinbermunculan di sekitar kita ternyata animo dari generasi muda untuk mencari kelezatan asli khas negeri sendiri sekarang semakin tinggi,” katanya.

Berkat usaha menjaga sekaligus melestarikan kuliner langka autentik Indonesia, ketiga penjaja kuliner tersebut pun memperoleh apresiasi masing – masing sebesar 50 juta rupiah. Dengan apresiasi ini Hernie berharap ketiga penjaja kuliner langka bisa mempergunakan sesuai kebutuhan usaha agar terus berkembang sehingga dapat diteruskan ke generasi berikutnya. Di sisi lain, pihaknya juga membantu dengan promo di media offline dan online.

Di tempat yang sama, Asisten Brand Manager Bango, Jessica mengatakan alasan diberikan apresiasi kepada ketiga penjaja kuliner langka lantaran mereka mempunyai keunikan sendiri yang sudah jarang ditemukan dengan penjaja kuliner lain di Indonesia.

“Pertama, kita angkat tema tahun ini kelezatan lintas generasi. Kedua, memang tujuan brand Bango sendiri mewaiskan kuliner - kuliner Indonesia. Jadi ketiga penjaja kuliner tersebut mempresentasikan 2 hal tersebut. Mereka itu punya kelezatan kuliner asli Indonesia yang telah diwariskan turun temurun dan selain itu mereka punya keunikan, yakni kuliner yang mereka sajikan sudah mulai langka ditemukan di Indonesia. Karena makanan tersebut harus dilestarikan, siapa lagi yang harus melestarikan kalau bukan kita ? Makanya kita pilih mereka,” jelasnya.

Ia meneruskan, kendati pemberian apresiasi ini merupakan kali pertama dilakukan namun pihaknya ingin terus melakukan hal serupa di masa mendatang. Bahkan tak tertutup kemungkinan penjaja kuliner yang akan memperoleh apresiasi kian banyak asal memenuhi kriteria yang ditentukan pihaknya.

“Untuk selanjutnya harapan kita ingin terus menerus lakukan ini, kalau bisa lebih banyak lagi. Namun tentunya kita memilih penjaja-penjaja kuliner yang lain, yang berbeda. Tapi untuk cari itu membutuhkan waktu karena kita harus cari bukan hanya langka tapi juga enak, kelezatan asli Indonesia dan tentu sudah lintas generasi. Hal tersebut cukup sulit. Tapi tentunya harapan kami bisa terus menerus lakukan ini karena penjaja kuliner punya peran penting di keberlangsungan Bango hingga ke depannya,” ucap Jessica lagi.

Sementara itu tampilan serta suasana di area FJB 2019 tampak lain dari penyelenggaraan tahun- tahun sebelumnya. Seperti adanya ruangan kotak berpendingin ruangan untuk berkaraoke bagi pengunjung yang berada di depan beberapa tenda berjajar yang diperuntukan tempat shalat bagi laki – laki, shalat untuk perempuan, ruang menyusui serta medic atau kesehatan. Mengenai hal ini, Jessica menyatakan bahwa tenda – tenda penunjang event FJB sebagai bentuk kepedulian pihaknya kepada para pengunjung, terutama pengunjung yang membawa anak.

“Kalau misalnya both-both termasuk untuk menyusui dari tahun ke tahun sebenarnya sudah ada. Kebetulan memang ada switsal yang satu brand. Jadi direpresentasikan dan produk-produk lain untuk anak, tiap tahun ada itu. Jadi sebenarnya FJB bentuk penghargaan Bango pada petani biji malika, penjaja kuliner dan penikmat kuliner. Sebagai produk Unilever, banyak brand lain yang ikut berkontribusi seperti Walls, Switsal dan lain-lain disini. Apalagi event ini terbesar Unilever, bukan cuma di Indonesia tapi di Asia Tenggara,” paparnya.

Pun dengan ruang untuk berkaraoke di FJB kali ini, ia mengaku merupakan bagian strategi pihaknya untuk mengajak kaum milenial dan berpartisipasi untuk ikut melestarikan kuliner khas Indonesia. Sehingga nantinya makanan asli negeri sendiri bisa terus dinikmati dari generasi ke generasi.

“Nah ada, jadi kenapa gaya kita tempatnya unik-unik ? ada karaoke karena kita lihat brand Bango identik dengan orang-orang, ibu-ibu yang bukan generasi milenial tapi generasi yang lebih tua dari milenial. Tapi di Indonesia dominasi penduduk sekarang adalah milenial, 20 hingga 35 tahun. Untuk itu kita rombak suasananya dari FJB itu sendiri. Mulai dari gaya, penggunaan batik-batik, semua diubah. Dari stylenya, logonya. Makanya suasananya sangat kekinian, ada karaoke, foto both yang lucu-lucu seperti itu. Tapi untuk makanan tetap yang otentik, hanya kemasan yang disesuaikan,” ucap Jessica.

Sebab itu pula pada FJB tahun berikutnya tidak tertutup kemungkinan event serupa menampilkan perubahan dibandingkan tahun ini. Terlebih jika ada sesuatu yang bisa menarik perhatian kaum milenial.

“Selanjutnya kita akan selalu bawa kayak gini, yang kekinian dan milenial style gitu. Cuma tentunya diubah terus dong. Misal tahun ini ada karaoke, tahun depan stylenya beda. Lebih ke desain sih. Kita nanti lihat saja dari FJB tahun ini, mana sih yang paling disukai dan pasti kita akan bawa lagi di tahun berikutnya,” imbuhnya lalu tersenyum.

Pada Festival Jajanan Bango 2019 pengunjung yang hadir dimudahkan dengan sejumlah papan petunjuk both kuliner yang dibagi tiga distrik, yakni F, B dan J. Distrik F pengunjung bisa menikmati kuliner seperti sate klatak Pak Pong, nasi jamblang Mang Dul, kambing bakar Cairo Sambas dan lontong balap asli Pak Gendut. Untuk distrik B kuliner yang tersedia antara lain bubur ase Bu Neh, mie aceh Seulawah, cungkring Pak Jumat, sate kuah Pak H.Diding dan dapur jawa Perawang. Sedangkan distrik J merupakan kuliner yang penjajanya merupakan lintas generasi, pengunjung dapat menikmati makanan seperti tengkleng klewer Bu Edi Solo, tahu tek telor Cak Kahar Surabaya, kupat tahu Gempol Bandung, nasi liwet Wongso Lemu Solo serta soto Betawi H. Ma`ruf sejak 1940 Jakarta.

Selain itu ketersediaan fasilitas penunjang pun dihadirkan disini sehingga para pengunjung yang ingin buang air kecil, melaksanakan sholat, menyusui anak dan ruang kesehatan,dimudahkan. Bahkan bagi pengunjung yang hobi bernyanyi di FJB kali ini bisa menyuarakan di ruang karaoke. Ada pula spot foto berlatar belakang gambar merk kecap Bango beserta huruf FJB, both merchandise, panggung hiburan, mural wall serta both produk pendukung.

Tak ketinggalan ruang galeri kelezatan asli lintas generasi, asal muasal kecap Bango, perjalanan event Festival Jajanan Bango hingga tahun ini dan tempat lain menarik lainnya pula menjadi magnet para pengunjung selain memanjakan lidah, selama dua hari FJB berlangsung. [foto/dis : deni]