Selebritis

Julia Rossie Angkat Bicara Pro Kontra Sistem Zonasi PPDB

Redaksi •    04 Juli 2019 | 11:45:54 WIB
Prahara Persatuan Artis Film Indonesia
( Foto:FEM | REDAKSI )

FEM Indonesia – Sistem zonasi yang telah diberlakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam pendaftaran peserta didik baru sejak beberapa tahun lalu, hingga kini masih menuai pro kontra. Artis peran yang kini focus mengurus anak, Julia Rossie angkat bicara soal ini.

Baginya, sistem zonasi yang diterapkan menteri ditujukan agar siswa tak perlu bepergian jauh ke sekolah. Namun kadang sekolah dalam area zonasi tidak memiliki kualitas seperti yang diharapkan orangtua siswa. Karena itu sampai sekarang masih terdengar suara kontra atas kebijakan zonasi tersebut.

“Zonasi ini upaya untuk memberikan kemudahan kepada siswa untuk bisa bersekolah tidak jauh dari domisilinya dan adanya pemerataan kesempatan. Tapi faktanya, dalam pendidikan kita sekolah itu tidak merata kualitasnya. Masalah kualitas inilah yang menjadi pokok masalah ributnya penerapan zonasi. Setiap orangtua pastinya menginginkan anaknya mendapatkan sekolah terbaik,” paparnya. Hanya kepada Femindonesia, isteri Lalu Tjuck Sudarmadi itu mengatakan kebijakan zonasi yang kini sebenarnya belum tepat untuk dilaksanakan. Terlebih sosialisasi soal ini masih kurang sering digemakan kepada masyarakat.

“Menteri Pendidikan tidak melakukan persiapan yang cukup untuk menerapkan kebijakannya. Sosialisasi kurang, pengembangan untuk meratanya kualitas pendidikan belum cukup sehingga semua sekolah menjadi sekolah favorit,” katanya.

“Bukankah kualitas pendidikan sekolah - sekolah sampai saat ini masih jomplang/ gapnya lebar didalam zona itu sendiri ataupun antar zonasi. Lebih jauh apakah perlu zonasi ? Bagaimana bagi siswa - siswa yang prestasi dan otaknya bagus dan tidak ada sekolah yang bagus kualitasnya pada zonasinya ?,” sambung Julia bertanya.

Sebab itu perlu disiapkan terlebih dahulu tempat menimba ilmu berkualitas di semua wilayah hingga merata dengan disertai sosialisasi sistem zonasi yang terus menerus diinformasikan kepada masyarakat.

“Kritik kita kepada Menteri untuk mempersiapkan kualitas sekolah yang merata, sebelum mengeksekusi satu kebijakan. Harus ada sosialisasi yang cukup dan ada proses pembahasan dengan berbagai stake holders dulu. Seingat saya, Menteri pendidikan ini beberapa kali membuat policy selalu rebut,” imbuh ibu satu anak ini. [foto : dokumentasi/teks : denim]