Connect with us

Movie & TV

Sembilan Finalis Film Pendek Bertarung di Europe on Screen 2020

Published

on

FEM Indonesia – Masyarakat penyuka film kembali dimanjakan dengan kehadiran Festival Europe on Screen (EoS). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ajang untuk kali ke 20 ini berlangsung secara virtual sejak 16 hingga 30 November melalui situs Festival Scope.

Selain dapat menyaksikan ragam film Eropa terbaik, pada festival ini diadakan juga pembuatan film pendek atau Short Film Pitching Project (SFPP) yang diikuti masyarakat untuk memperebutkan dana produksi.

Menurut Festival co-director EoS, Meninaputri Wismurti diselenggarakan program pada ajang ini merupakan bentuk dukungan terhadap industri film tanah air yang berkelanjutan sehingga dapat lebih berbicara di mata dunia.

“Keberagaman narasi serta inovasi teknis perfilman pendek Indonesia secara konsisten terus meningkat setiap tahunnya, baik dalam ajang SFPP dan juga industri film internasional. Hal ini dibuktikan dengan adanya 170 ide cerita yang kami terima. Kami sudah memilih 9 finalis dan mereka akan mempresentasikan idenya di depan para juri secara daring untuk dipilih 3 pemenang,” urainya.

Ia menambahkan ke 9 finalis tersebut adalah Kaum – Bayu Topan (Banyuwangi), Two Suicide Bombers and A Godot (Bom Bunuh Diri dan Godot) – Carya Maharja & Radisti Ayu Praptiwi (Jakarta), Setengah Lima – Jatmiko Wicaksono & Abiyoso (Tanjung), Kacamata (Glasses) – Guns Gunawan & Mariah Kibtia (Jakarta), Seseorang Yang menutupi Layar – Nashiru Setiawan (Malang), The Great Eclipse of The Heart – Fadel R & Yanuar Priambodo (Jakarta), Kepada Istriku (Marta, I’m Home) – Patrick Warmanda & Robert Darmawan (Jakarta), Can I Get Some Those Packages? – Gemilang Cahaya Adibrata & Shahabi Sakri (Jakarta) serta Bicycle With Thief – Abel Fattim Diawara & Jeremy Randolph (Tangerang).

Sedangkan juri yang terlibat akan menilai yakni sutrdara Lucky Kuswandi, Tumpal Tampubolon dan produser Yulia Evina Bhara. Penilaian ketiga juri ini dapat disaksikan masyarakat 23 -24 Novemver secara daring. [foto : dokumentasi/teks : denim]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Movie & TV

Dipuji Jago Akting, Apoy Gitaris Band Wali Merendah

Published

on

FEM Indonesia – Bintang sinetron, Roby Tremonti yang perankan preman Rohmat di sinetron “Amanah Wali 4”, mengatakan bahwa Apoy bukan lagi seorang gitaris, tapi sebaliknya sudah jadi aktor.

Pasalnya, saat keduanya beradegan dialog dalam sinetron itu, Roby terkesima dengan pemahaman agama yang dikuasai Apoy. Terutama, soal ajaran Al Qur’an dan Hadits.

“Apoy bukan gitaris lagi. Apoy itu pemain. Dialog sepanjang kaya gitu, tapi aktingnya bukan hanya hafalin. Apalagi tentang dakwah, Apoy benar-benar menguasai materi. Menguasai haditsnya dalam bahasa Arab. Berarti dia tahu kontennya yang dia baca di sini,” ungkap Roby Tremonti dari laman Nagaswara News di konten YouTube Wali TV.

Melihat latar belakang Apoy yang bernama asli Aan Kurnia, boleh jadi Roby Tremonti tidak salah. Meski terjun di dunia seni, baik sebagai gitaris Wali dan berakting dalam sinetron, akar Apoy adalah seorang santri dan lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sebaliknya, Apoy sendiri menganggap akting yang dimainkan juga dipengaruhi pendalaman karakter dari Roby. Apalagi, saat keduanya membicarakan soal akting kematian yang menurutnya membuat sebagian besar orang menjadi depresi.

“Tapi ini mudah-mudahan inspirasi (satu). Kedua, saya pribadi kebawa juga oleh apa yang dimainkan atau diperankan oleh seorang Roby terhadap Rohmat di karakternya ini,” kata Apoy.

Lagu-lagu Wali yang ia ciptakan lekat dengan nuansa religi. Saat ini, Apoy tengah mengambil S2 di STIE Lantansha Mashiro, termasuk mengajar di pesantren  La Tansa, Lebak, Banten. Sesekali, lelaki berkacamata itu juga tampil berdakwah.

Continue Reading

Movie & TV

Tahun 2021, Vega Jely Akui Makin Semangat Nyanyi dan Akting

Published

on

FEM Indonesia – Bagi penyanyi Vega Jely, dunia akting bukanlah hal baru. Pasalnya, pelantun tembang “Kamera Jahat”, pernah main diberbagai judul sinetron.

Seperti wajahnya pernah hadir dilayar kaca di sinetron “Misteri Gunung Merapi”, “Putri Duyung”, dan “Prabu”.

Meski bakat aktingnya untuk melengkapi kiprahnya sebagai penyanyi, Vega mengaku punya kesan tersendiri di antara dua profesinya.

“Kalau di akting, penonton semakin menikmati ekspresinya semakin diam dan hanyut sama akting aku. Sedangkan kalau di nyanyi aku merasa penonton hanyut tapi rame dengan jogetan dan teriakan,” kata Vega Jely dikutip dari Nagaswara. News, belum lama ini.

Menghadapi tahun 2021, Vega Jely mengaku makin bersemangat untuk menjalani kedua profesi. Akting dan nyanyi baginya wujud ekspesi seni yang siap dipersembahkanya.

“Di nyanyi aku sedang persiapkan single baru yang kali ini beda karena lagunya mellow dan baru. Di akting, juga sudah mulai dan ada beberapa judul sinetron aku akan mainkan,” pungkasnya.

Continue Reading

Movie & TV

Legenda ‘Pulung Gantung’ Gunung Kidul Akan Dibuatkan FTV

Published

on

FEM Indonesia – Mengawali 2021, Maesa Sinema Produksi bekerja sama dengan Trah Hamengkubuwono II mengumumkan akan memproduksi film televisi tentang “Pulung Gantung (Babad Giring)”.

FTV bergenre horor yang diangkat dari kisah nyata di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahwa masyarakat setempat meyakini jika peristiwa bunuh diri yang terjadi di daerah mereka karena adanya Pulung Gantung yang berbentuk bola api berekor.

Jika Pulung Gantung berhenti di sebuah rumah, maka dipercaya akan ada salah satu anggota keluarga di rumah tersebut yang meninggal dunia dengan cara gantung diri.

“Pulung Gantung bukanlah mitos. Ada sejarah besar dibalik Peristiwa Pulung Gantung di Gunung Kidul Yogyakarta. Dan, Pulung Gantung ini harus segera berakhir. Film ini juga akan membuka bagaimana cara menyudahi Pulung Gantung di Gunung Kidul, Yogyakarta,” kata R. Fajar Bagoes Putranto selaku Eksekutif Produser dari keterangan siaran persnya, Minggu (2/1/2021).

Melalui film ini tambah Fajar, akan mengungkap sejarah tentang Pulung Gantung  yang belum pernah terungkap. Yang ternyata memiliki kaitan dengan perjanjian Ki Ageng Giring dan iparnya Ki Ageng Pamanahan dan disaksikan oleh Nyi Ageng Giring. “Bahwa film Pulung Gantung ini perlu diwujudkan, karena momentumnya  adalah sekarang! Keberanian sejarah perlu dibuka. Film Pulung Gantung tidak hanya menyajikan hiburan melainkan dapat membuka sejarah yang hingga kini belum terungkap,” paparnya.

Sementara Indra Tirtana sang Sutradara sekaligus penulis skenario menambahkan bahwa ftv dibuat untuk memberi pengetahuan yang benar kepada masyarakat, khususnya warga Gunung Kidul Yogyakarta, tentang keberadaan Pulung Gantung .

“Hidup kita sangat berkaitan erat dengan kehidupan para leluhur kita. Film ini dapat  mengakhiri persoalan Pulung Gantung, sehingga daerah Gunung Kidul kembali menjadi daerah yang subur, makmur dan maju secara peradaban tentunya dengan kepemimpinan baru,” ujarnya.

Indra melanjutkan, film “Pulung Gantung” direncanakan akan tayang di Televisi nasional dan Televisi berbayar. Tak tertutup juga ke layar Sinema di bioskop. Film juga direncanakan akan diputar di Negara Eropa dan Amerika.

Film Pulung Gantung menceritakan tentang  seorang gadis bernama Ratna Anjani yang berasal dari luar Jawa. Ia tengah melakukan penelitian untuk tesisnya tentang banyaknya peristiwa bunuh diri yang terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Dan akhirnya terungkap, jika peristiwa gantung diri yang terjadi di gunung kidul, Yogyakarta berkaitan erat dengan Pulung Gantung yang sebelumnya ia anggap sebagai mitos belaka.

Continue Reading

Trending