Connect with us

Music

Trio Macan Lepas “Anumu” Usai Dikarantina Tiga Bulan

Published

on

FEM Indonesia – Lama tak terdengar lantaran suatu hal, Trio Macan, yang berpersonilkan wajah baru, kembali menyapa telinga penikmat music dengan single anyar Anumu.

Lagu yang mengisahkan sifat dan karakter cowok yang menyebalkan dan kerap obral janji dengan koreo aktratif itu, belum lama berselang dirilis di sebuah hotel bilangan Selatan Jakarta.

Menurut owner Proaktif, Sugiyanto, ketiga biduan ini merupakan penyanyi baru hasil penyaringan melalui platform digital yang dilakukan beberapa waktu lalu. Dari ribuan peserta akhirnya, Proaktif memilih Nanda (18) asal Banyuwangi, Vita (17) dari Kediri dan Elok (19) asal Bandung. Ketiganya langsung memperoleh gemblengan semisal tehnik vocal, koreografi sampai kepribadian selama tiga bulan dalam karantina.

“Trio Macan yang baru harus memiliki skill yang lebih baik sehingga secara mental sudah disiapkan menjadi bintang. Apalagi mereka berasal dari daerah yang berbeda dan ini dapat memberikan warna serta karakter tersendiri,” ujarnya.

Bahkan, pihaknya menuntut Trio Macan tidak hanya piawai dalam mengolah vokal dan bergoyang namun bisa mengikuti perkembangan dunia digital yang kian pesat.

“Jadi mereka mesti bisa acting dan berkomunikasi dalam bentuk reality show. Contohnya, belum lama ini mereka adu acting dengan Komeng dan Adul di sebuah web series,” kata Sugiyanto lagi. [foto : dokumentasi/teks : denim]

Music

Single ‘Tak Ada Yang Tak Bisa’ Milik Aletta Stars Karya Faizal Lubis Rilis di 8 Negara

Published

on

FEM Indonesia – Grup ALETTA STARS yang lahir dari ajang audisi aplikasi SMULE di tahun 2019, yang diikuti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Taiwan, dan Hong Kong.

Kini merilis single “Tak Ada Yang Tak Bisa” (TAYTB) sebagai pembuka dari album mereka “Ini Karya ALETTA STARS” yang akan hadir pada 2021 nanti.

Tiga personil Thia, Fikri dan Stevani dalam keterangan persnya, merilis single ini lebih kepada project kemanusiaan, di mana ada persamaan rasa dari musisi Indonesia dan luar negeri di tengah bencana dunia wabah pandemi Covid-19.

“Lagu ini bercerita tentang spirit kemanusiaan dalam menghadapi bencana. Single TAYTB karya dari musisi Faizal Lubis, selain sarat warna, juga merupakan hasil kolaborasi yang sinergis antara ALETTA STARS dengan musisi terkenal lainnya, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar ketiga personil Aletta Stars. Seperti ada nama Rafli Kande, seniman musik asal Aceh yang mendunia sekaligus anggota parlemen Republik Indonesia.

Liriknya pun mengartikan doa penyemangat dari para orang tua terdahulu, dimana doa tersebut juga untuk kesembuhan dan kembali sehat dari bencana apapun yang mendera manusia di dunia.

Lalu ada Edo Kondologit, salah satu penyanyi terbaik tanah air asal Papua. Juga ada Aweera vokalis dari band rock PELITA LUSOH yang setahun ini lagi ekspansi Go Internasional dari negara asalnya Malaysia. Band beraliran cadas ini terkenal dengan dua lagu dan video klip berjudul “Kekaseh Syurga” dan “PIL”. Banyak awak media asing dari negara-negara di Asia yang memprediksi band ini akan popular dan sehebat band legend SEARCH.

Hadir pula dalam penggarapan nama Azlan yang tergabung di grup musik “Azlan & Typewriter”, artis musik asal negara jiran ini, karya lagunya yang berjudul “Jangan Khianati Aku” juga tengah digandrungi penikmat musik di negara Singapura, Brunei, dan Filipina. Karena dalam waktu sebulan viewers video klipnya di You Tube tembus angka 2 jutaan, ini sebuah kebanggaan industri musik di negaranya.

Proses penggarapan single TAYTB ini dari awal hingga akhir tergolong cepat hanya sekitar 10 hari. Komunikasi dua arah yang dibangun dari inisiasi project Pop Kemanusiaan hingga proses rekaman dan penggarapan video klip padahal dilakukan melalui teleconference aplikasi antara Faizal Lubis selaku produser musik sekaligus founder FABIS STUDIO yang memanajemeni grup vokal ALETTA STARS di Jakarta dengan Osman Arrifin petinggi label musik internasional LIFE RECORDS yang berkantor di tiga negara, yaitu Singapura, Malaysia dan Hong Kong.

“Mudah-mudahan project Pop Kemanusiaan ini menjadi karya musik yang masterpiece di industri musik Indonesia dan industri musik internasional,” harap Thia.

Sementara Rafli Kande, seniman musik dunia & anggota parlemen Republik Indonesia mengungkapkan, karena musik bagian dari peradaban dunia dan bagian dari identitas bangsa, Ia merasa terpanggil untuk andil dan peduli dengan bencana. “Dalam hal ini lewat musik di project Pop Kemanusiaan. Hal seperti ini juga pernah saya lakukan saat bencana Tsunami di Aceh, ” ujarnya lagi.

Sedangkan Aweera berpendapat, ia dan sahabat musik di negaranya, dari dulu sangat care dan solidaritas untuk membantu korban kemanusiaan. Dan project musik Pop Kemanusiaan ini berbeda dengan lainnya, karena kolaborasi artis musik antar negara.

“Semoga Pop Kemanusiaan dari kolaborasi artis musik antar negara ini menjadi kenangan terindah sepanjang masa,” tegas Azlan. Osman Arrifin mewakili label musik LIFE RECORDS International, mengatakan bahwa project pop kemanusiaan di single Tak Ada Yang Tak Bisa adalah kerjasama kehormatan internasional dibidang musik.

“Semoga lagu karya Faizal Lubis ini sukses di 8 negara dalam pemasaran platform digitalnya. Karena semua penghasilan dari lagu ini akan disumbangkan untuk membantu paramedia dalan penanganan covid 19,” tandas Osman.

Continue Reading

Hot News

Single ‘Hush’ Kolaborasi Apik Yellow Claw, Weird Genius dan Reikko

Published

on

FEM Indonesia – Bukan rahasia Iagi, duo dari Belanda, Yellow claw menyimpan cinta yang dalam untuk Indonesia, label mereka pun dinamai Barong dari Bali.

Keduanya semakin memperkuat rasa kecintaan akan Indonesia dengan cara berkolaborasi bersama group EDM yang lagi bersinar, Weird Genius.

Kolaborasi supergrup ini lalu merilis single ‘Hush’ yang menampilkan penyanyi Indonesia Reikko, dirilis melalui Pluus Records dan bermitra dengan Barong Family.

“Kami dan Weird Genius sudah beberapa tahun belakangan sudah menjalin pertemanan yang cukup baik, kami selalu bertemu ketika kami berada di Jakarta. Ketika Reza mulai menekuni musik dengan lebih serius dengan teman-temannya, seketika percakapan tentang kolaborasi ini datang secara alami. Jelas kami membuat ini melalui internet karena kami tidak bisa bertemu muka antara satu sama lain selama berbulan-bulan, tetapi kami rasa ini sangat luar biasa,” ujar Yellow Claw dikutip dari siaran persnya baru-baru ini.

Weird Genius hadir setelah rilis terbesar mereka hingga saat ini, yang telah memecahkan rekor tunggal dengan lagunya ‘Lathi’ dan mengakumulasi lebih dari 150 juta streamdi seluruh dunia dan memegang tempat #1 di Spotify selama Iebih dari 6 minggu di Indonesia, di YouTube , Joox dan mencapai nomor 2 di tangga lagu Viral Global.

Yellow Claw di album terbaru mereka ‘Never Dies’ yang dirilis oleh Roc Nation yang membuat sering berkeliling di beberapa festival dunia. Diskografi eklektik mereka yang telah berhasil di industri musik global dan telah mengukir hits di berbagai spektrum, diantaranya kolaborasi dengan beberapa legenda besar seperti DJ Snake, San Holo, Krewella, Galantis, Flux Pavillion, beberapa ikon Hip hop termasuk ASAP Ferg , Lil Toe, Saweeu’e, Lil Debbie, Mustard dan Migos anggota Offset, dan Era lstrefi, Inna dan Tinashe yang telah melahirkan beberapa lagu pop andalan.

Di lagu ini mereka meninggalkan identitas musik trapdan bassyang melekat di Yellow Claw dan Weird Genius, dengan ‘Hush’ ini yang bernuansakan pop, bercerita tentang kisah cinta yang rumit serta toxic ‘Hush’ bernuansa pagi hari dimana sepasang kekasih yang mulai ragu akan perasaan mereka masing-masing, dan begitu banyak perkataan orang-orang terhadap hubungan mereka.

Lagu dirilis melalui Pluus Records, label yang merupakan kemitraan antara sebuah artis manajemen dan agensi digital management terbesar di Asia, Gushcloud (didirikan oleh Althea Lim dan Russel Simmons Co-Founder Def Jam), bersama Reza Oktovian (Weird Genius), dan Rick Tjong yang juga selaku A&R label ini.

Sejak berdirinya tahun 2019, Pluus telah merilis beberapa artis bergenre Pop, Hip-Hop dan Elektronik serta akan selalu mencari dan mengembangkan talenta terbaik Indonesia untuk masa depan, yang kini telah bersinergi bersama beberapa artis ternama di dunia. [foto: istimewa]

Continue Reading

Music

Soal Karir, Emil ‘NeXGen’ : Sang Juara Tak Datang Dengan Tiba-Tiba

Published

on

FEM Indonesia – Nama Emiliano Fernando Cortizo atau Emil dikenal di kalangan remaja tanah air sejak wajahnya tampil di sinetron “Dari Jendela SMP” sebagai Gino.

Putra pasangan Dr. Wilfredo Fernando Cortizo dan Angelina Sofiany Sumapode sejak kecil sudah akrab dengan dunia akting, musik, model dan iklan. Bahkan bakat akting dan musiknya seperti oksigen diperjalanan karirnya. Tak salah dikemudian hari, remaja 15 tahun ini bakal menjadi inspirasi kaum milenial.

Untuk meraih sukses, Emil selalu berpegang teguh prinsip bahwa sang juara tak akan datang dengan sendirinya.

“Sebenarnya jadi terkenal itu bukan yang utama bagi saya, karena semua bakat yang diberikan Tuhan, hanya sekali saja. Dan waktu yang diberikan itulah saya pergunakan dengan sebaik yang diberikan,” ujar Emil dikutip dari Nagaswara News, Kamis (30/7/2020).

Bersama tiga rekannya yaitu Maxhen, Trayen dan Chrisher, Emil membentuk boyband NeXGen. Ia menyebut, boyband lahir dari persahabatan. Emil bersama tiga sahabatnya di NeXGen sudah seperti saudara.

“Persahabatan itu lebih kurang seperti video visual klip NeXGen single ‘Kesan Pertama’. Bagi saya, persahabatan itu adalah kepercayaan dan tak boleh dihianati,” ungkap Emil yang telah memulai karir keartisannya sejak tahun 2015 silam.

Terjun ke musik, Emil tak hanya bisa bernyanyi, tetapi juga menguasai beberapa alat musik seperti gitar, piano, drum, bas, dan celo.Dengan keahlianya itu, Ia berharap dapat mengembangkan konsep NeXGen bersama rekan-rekannya.

Sementara itu, di luar dunia hiburan, Emil juga aktif dan menguasai beberapa cabang olahraga seperti Mua Thay, sepatu roda, renang, sepeda motor, bola voli dan sepak bola. Selagi muda, Emil ingin aktif di segala hal yang baik dan bermanfaat.

“Tentunya proses panjang ini aku lalui dengan tekad dan kerja keras, karena sang juara itu ngga datang begitu saja,” pungkas Emil.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending