FEM Indonesia — Indonesia kembali menunjukkan kekuatan budayanya di panggung dunia. Kali ini, lewat keikutsertaan dalam ajang Festival Culture and Art Jordan 2025, sebuah festival budaya internasional yang digelar selama dua bulan penuh di kota-kota bersejarah Yordania seperti Jerash dan Petra.
Delegasi Indonesia hadir sejak 24 Juli hingga 2 Agustus 2025, di bawah kepemimpinan Hj. Amanah Asri, SE., M.Si., M.Sn., yang juga dikenal sebagai inovator kain “benang rempah”. Kehadiran Indonesia menjadi sorotan karena memadukan pertunjukan seni musik angklung, tarian tradisional, dan peragaan busana berbasis limbah rempah-rempah.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari promosi budaya internasional yang melibatkan 67 negara. Indonesia mendapat kehormatan tampil di dua lokasi ikonik dunia—Amfiteater Jerash dan situs warisan dunia UNESCO, Petra,” ujar Hj. Amanah Asri dalam wawancara di Jakarta, 4 Agustus 2025.
Angklung, Wastra, dan Semangat Nusantara
Sebanyak 15 orang delegasi mewakili berbagai komunitas seni dan UMKM dari Indonesia. Mereka terdiri dari:
• Komunitas Angklung Giri Svara
• Komunitas dan UMKM Dayak Kalimantan Timur
• Komunitas UMKM Sumatra Barat
• Komunitas Pengrajin Tas Banten
• Sanggar Tari Nona Asri Indonesia
Penampilan mereka menghadirkan harmoni antara musik angklung—yang telah diakui UNESCO sebagai intangible cultural heritage—dengan busana berbahan benang rempah, serta tarian daerah penuh makna. Kolaborasi ini menjadi magnet perhatian publik dan delegasi negara lain.
“Kami tidak hanya tampil, kami mewakili wajah budaya Indonesia: kaya, ramah lingkungan, dan penuh inovasi,” ungkap Amanah.
Kain Benang Rempah: Dari Limbah Menjadi Warisan Dunia
Daya tarik utama dari partisipasi Indonesia adalah peragaan busana berbahan benang rempah, yakni serat tekstil alami yang dibuat dari limbah batang dan daun rempah-rempah seperti lengkuas dan serai wangi. Inovasi ini adalah hasil penelitian Hj. Amanah Asri, yang kini menjabat sebagai Ketua Bidang Sains dan Riset pada sebuah NGO resmi di bawah naungan UNESCO.
“Kami mengubah limbah yang biasanya dibakar menjadi benang berkualitas tinggi. Ini bukan sekadar kain, tapi simbol ketahanan budaya dan solusi ekologis,” jelas Amanah.
Produk yang diberi nama Wastra Benang Rempah ini telah memiliki hak paten dan diakui secara internasional sebagai satu-satunya kain berbahan rempah di dunia. Proses produksinya melibatkan masyarakat adat dan alat tenun tradisional, serta telah diuji secara ilmiah di berbagai balai industri tekstil dan pulp di bawah Kementerian Perindustrian RI.
Diplomasi Budaya yang Dibiayai Mandiri
Berbeda dari negara lain yang disponsori oleh lembaga pemerintah, seluruh biaya keikutsertaan delegasi Indonesia ditanggung secara mandiri oleh para peserta. Mereka berasal dari beragam latar belakang: dosen, ibu rumah tangga, direktur bank, penggiat UMKM, hingga penari profesional.
“Kami menari dengan cinta. Ini bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi pengabdian kepada Indonesia dan kearifan lokal,” ujar Amanah Asri haru.
Dukungan juga datang dari Duta Besar Indonesia untuk Yordania, Bapak Ade Padmo Sarwono, yang menyambut langsung para peserta di Kedutaan Besar RI di Amman. Dalam kunjungan tersebut, Amanah juga mempresentasikan langsung inovasi benang rempah kepada sang Dubes.
Dari Rempah Nusantara untuk Dunia
Konsep benang rempah membawa misi besar: authenticity, marketability, dan sustainability. Tak hanya cantik dan etnik, kain ini membawa pesan kuat soal ekologi, ketahanan pangan, dan pengelolaan limbah.
“Kain ini sudah menembus pasar di Saudi Arabia, Jepang, Korea Selatan, Turki, hingga Amerika Serikat. Saya ingin dunia tahu: inilah wajah baru Indonesia,” tegas Amanah.
Setelah sukses di Jordania, Yayasan Amanah Asri telah menerima undangan ke festival budaya lainnya di Osaka (Jepang), Oman, dan Serbia. Misi mereka tetap sama: menjahit peradaban baru dari akar rempah-rempah Indonesia.
“Dari rempah Indonesia, kami ingin membangun dunia yang lebih lestari. Budaya bukan hanya dilestarikan, tapi harus juga dijadikan solusi,” tutup Hj. Amanah Asri.


Tinggalkan Balasan