FEM Indonesia – Setelah lima dekade hanya hidup dalam legenda, grup musik legendaris Guruh Gypsi akhirnya menorehkan sejarah baru. Mereka tampil kembali di panggung Synchronize Festival 2025, pada hari Sabtu malam (4/10), dalam konser megah yang menggetarkan ribuan penonton.

Dalam konser tersebut, Guruh Sukarnoputra, sang maestro di balik karya monumental tahun 1977, menggandeng dua personel aslinya, Keenan Nasution dan Abadi Soesman, untuk mewujudkan reuni bersejarah ini.

Kolaborasi tiga tokoh besar tersebut melahirkan aransemen baru yang tetap berpegang pada semangat orisinal Guruh Gypsi perpaduan antara kekuatan musik progressive rock dan kekayaan musik tradisi Nusantara.

guruh Soekarno putra

Sebelum tampil di Synchronize, terjadi diskusi intensif berlangsung antara Guruh, Keenan, dan Abadi. Guruh menegaskan kembali warna tradisi Nusantara, Keenan memperkuat fondasi musikal dari versi orisinal, sementara Abadi menambahkan sentuhan rock yang mempertebal karakter Guruh Gypsi.

Penampilan dikemas secara apik oleh sutradara panggung Taba Sanchabahtiar dan tim produksi suara Harry Suhardiman. Formasi lengkap mencakup tiga kibordis, dua hingga tiga drummer (termasuk pengguna Simmons drums khas 1980-an), empat pemain tiup, satu violinis, dan dua gitaris.

Mereka membuka konser dengan “Barong Gundah”, disertai kemunculan penari Barong di atas panggung — simbol pertemuan magis antara timur dan barat.
Lagu berikutnya, “Smaradhana”, dinyanyikan oleh Daryl Nasution, putra Keenan, yang menghadirkan suasana haru saat ribuan penonton ikut bernyanyi.

Dilanjutkan dengan “Janger 1897 Saka”, duet Daryl dan Keenan membangkitkan semangat tradisi Bali. Andy /rif turut memeriahkan lagu “Chopin Larung”, sementara “Geger Gelgel” menghadirkan arak-arakan marching band dan penari GSP yang mengguncang panggung.

Puncaknya, lagu “Indonesia Maharddhika” menggema dengan penuh semangat nasionalisme. Keenan memimpin vokal, Abadi menampilkan solo keyboard spektakuler, dan tiga drummer tampil serempak dalam sesi solo megah. Banyak penonton menitikkan air mata haru menyaksikan momen yang sebelumnya hanya hidup dalam sejarah musik Indonesia.

Pertunjukan Guruh Gypsi di Synchronize Festival 2025 bukan sekadar nostalgia. Ia adalah perayaan terhadap kekayaan budaya, kreativitas, dan semangat kebangsaan yang tak lekang oleh waktu.
Seperti kata Guruh Sukarnoputra, “Ini bukan sekadar tampil kembali, tetapi menulis ulang babak baru sejarah musik Indonesia dengan cinta tanah air yang sama kuatnya seperti 50 tahun lalu.”

Guruh Gypsi pertama kali muncul di era 1970-an, membawa gagasan musik yang melampaui zamannya. Album debut mereka memadukan musik Barat dengan elemen gamelan Bali, Jawa, dan Sunda, menghasilkan karya yang kaya nuansa budaya dan nasionalisme.

Kini, setelah 50 tahun, mereka “menulis buku kedua” menghadirkan versi baru dari mahakarya lama, tanpa kehilangan ruhnya.