FEM Indonesia, Jakarta — Musik rock Indonesia kembali menggeliat! Grup band rock Lawang Pitu sukses menggelar konser eksklusif bertajuk “Intimate Concert Collaboration With Legend Rock” di Lidah Lokal, Artotel, kawasan GBK Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu malam (19/7/2025).

Acara ini tak hanya menampilkan aksi panggung yang memukau, tapi juga menjadi momen peluncuran dua video musik terbaru mereka berjudul “Anugerah Harmoni” dan “Pengkhianat”, yang merupakan penutup dari album perdana Lawang Pitu.

Tak tanggung-tanggung, Lawang Pitu menggandeng sederet legenda rock Indonesia seperti Eet Sjahranie (Edane), John Paul Ivan (Boomerang), Edwin (Cokelat), Irang Arkad, Windy Saraswati, dan Audra, musisi muda berbakat dari generasi Gen Z.

Panggung Eksklusif, Kolaborasi Spektakuler

Konser yang digagas oleh ACC Production ini sukses menghadirkan suasana intimate namun berenergi tinggi. Para legenda dan musisi lintas generasi tampil bergantian, membawakan lagu-lagu kolaborasi yang menghidupkan kembali semangat rock Tanah Air.

Asisi Basuki, bassist, produser sekaligus otak di balik Lawang Pitu, mengungkapkan bahwa peluncuran dua video klip malam itu merupakan bagian dari strategi kreatif untuk memperkenalkan karya mereka ke khalayak yang lebih luas.

“Lagu ‘Anugerah Harmoni’ dan ‘Pengkhianat’ kami luncurkan malam ini sebagai penutup album pertama. Tapi tidak hanya itu, kami sengaja menghadirkan para legenda rock sebagai bentuk penghormatan dan juga kolaborasi lintas generasi,” ujar Asisi.

Ia juga memperkenalkan Audra, musisi muda yang turut tampil memukau di lagu “Kau Pikir Kaulah Segalanya” milik Edane.

“Dengan menghadirkan Audra dari kalangan Gen Z, kami ingin memperlihatkan bahwa musik rock tidak mati justru sedang mengalami regenerasi.”

Trison Manurung: Rock Masih Hidup, Tapi Butuh Nafas Baru

Vokalis utama Lawang Pitu, Trison Manurung yang juga dikenal sebagai mantan vokalis Roxx dan Edane menyampaikan bahwa proyek ini adalah bukti bahwa musik rock masih memiliki ruang besar di hati pendengar Indonesia.

“Kolaborasi dengan Eet Sjahranie di lagu ‘Pengkhianat’ bukan hanya soal chemistry musikal, tapi soal kekuatan pesan dan energi,” kata Trison.

Ia menjelaskan, lagu “Pengkhianat” adalah kritik tajam terhadap penyalahgunaan kepercayaan publik oleh para pejabat, sedangkan “Anugerah Harmoni” mengangkat isu toleransi dan keberagaman di Indonesia.

“Kami ingin sampaikan bahwa musik rock bukan hanya soal distorsi dan riff cepat, tapi juga bisa menjadi media perlawanan dan penyampaian pesan moral.”

Penampilan Panas, Panggung Berapi-api

Lawang Pitu menggebrak panggung dengan sejumlah lagu andalan seperti “Dagelan”, “Ditikam Badai”, dan tentu saja dua lagu utama malam itu: “Anugerah Harmoni” dan “Pengkhianat”. Tak ketinggalan, mereka juga membawakan beberapa lagu klasik Metallica seperti “One” dan “Master of Puppets”.

Aksi panggung semakin panas saat Eet Sjahranie membawakan lagu-lagu ikonik seperti “Ikuti”, “Kau Pikir Kaulah Segalanya”, hingga “Kehidupan” milik God Bless. Penampilan dari John Paul Ivan, Edwin, Irang Arkad, dan Windy Saraswati juga turut mengguncang suasana dengan karakter rock yang kuat.

Simbol Persatuan Musisi Rock Indonesia

Menurut Budi Ace dari ACC Artist Management, konser ini tak hanya menjadi ajang peluncuran video musik, tapi juga simbol persatuan musisi rock Indonesia yang sempat terpecah karena tren digital dan genre baru.

“Kami ingin musik rock kembali berjaya. Dengan mempertemukan para legenda dan musisi muda, kami berharap semangat rock Indonesia menyala kembali,” ujar Budi.

Konser ditutup dengan penampilan kolaboratif seluruh musisi membawakan lagu “Enter Sandman” dari Metallica. Sorakan dan nyanyian penonton menjadi bukti bahwa rock belum mati ia hanya menunggu momen untuk bangkit.

“Awalnya kita hanya ingin launching video klip ‘Pengkhianat’ dan ‘Anugerah Harmoni’. Tapi sekalian saja kami ajak para legenda agar acaranya lebih hidup dan keren,” pungkas Asisi Basuki.