Femindonesia.com, Jakarta – Aktris pendatang baru Ayma Nabila Putri mulai menunjukkan perkembangan positif setelah mengalami dugaan perundungan verbal di lingkungan sekolahnya.
Meski kondisinya berangsur membaik, proses pemulihan masih terus dilakukan melalui pendampingan psikologis secara intensif.
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikolog yang disampaikan keluarga, Ayma mengalami tingkat kecemasan dalam kategori berat berdasarkan hasil MHCU dan masih membutuhkan terapi lanjutan. Pemeriksaan tersebut juga mencatat adanya fluktuasi emosi, kecemasan, serta perubahan perilaku yang berkaitan dengan persepsinya terhadap lingkungan sekolah sebagai dampak dari pengalaman perundungan verbal yang dialami.
Orang tua Ayma, Chandra Wahyu dan Sylvia Nabila, mengungkapkan bahwa putri mereka telah kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah sejak Senin (27/7/2026). Sebelum kembali bersekolah, Chandra telah menyampaikan kepada wali kelas bahwa Ayma sempat tidak masuk sekolah karena masih mengalami ketakutan pascakejadian dan menjalani pendampingan psikologis.
Menurut keluarga, pihak sekolah sebelumnya menyampaikan keinginan untuk menjenguk Ayma di rumah. Namun, kunjungan tersebut ditunda atas pertimbangan kondisi psikologis Ayma yang dinilai belum stabil sehingga keluarga memilih memprioritaskan proses pemulihan.
Selain fokus pada pemulihan putrinya, keluarga juga berharap adanya langkah konkret dari pihak sekolah dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Salah satu harapan yang disampaikan adalah terlaksananya pertemuan bersama seluruh siswa dan orang tua yang terlibat dalam peristiwa tersebut untuk mencari penyelesaian secara terbuka.
Keluarga juga meminta akses terhadap rekaman CCTV di area kantin sebagai bagian dari proses klarifikasi kejadian. Selain itu, mereka berharap seluruh video yang sempat beredar di media sosial terkait dugaan perundungan dapat dipastikan telah dihapus agar tidak terus memperburuk kondisi psikologis korban.
“Kami tidak ingin peristiwa ini dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau dinormalisasi. Perundungan bukan sekadar kenakalan remaja, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi dan setiap keputusan harus disertai rasa tanggung jawab,” ujar Chandra Wahyu.
Menurut Chandra, setiap kali permintaan tersebut disampaikan melalui wali kelas, jawaban yang diterima adalah bahwa aspirasi keluarga telah diteruskan kepada pimpinan sekolah. Pernyataan serupa juga disampaikan kuasa hukum keluarga, Ekky Zakiah Azis, S.H., dan Siti Rohayati, S.H., M.H., yang menyebut komunikasi dengan pihak sekolah masih mendapatkan respons yang sama.
Keluarga berharap sekolah dapat menunjukkan komitmen dalam menyelesaikan persoalan secara terbuka, adil, serta mengedepankan kepentingan terbaik bagi seluruh peserta didik. Mereka menilai penyelesaian kasus tidak semata-mata bertujuan mencari pihak yang bersalah, tetapi menjadi momentum membangun budaya sekolah yang aman, saling menghormati, dan bebas dari perundungan.
Di tengah proses tersebut, kondisi Ayma dilaporkan terus membaik. Setelah kembali mengikuti kegiatan belajar, Ayma mengaku kepada kedua orang tuanya bahwa teman-temannya bersikap baik dan dirinya tidak lagi mengalami gangguan selama berada di sekolah. Kabar itu menjadi angin segar bagi keluarga, meski mereka menilai proses pemulihan psikologis tetap membutuhkan waktu dan dukungan berkelanjutan.
Peristiwa yang dialami Ayma menjadi pengingat bahwa perundungan bukanlah sekadar candaan atau bagian dari proses pendewasaan yang dapat dimaklumi. Dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga masa depan anak.
Karena itu, keluarga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, sekolah, guru, siswa, pemerintah, hingga masyarakat luas, untuk bersama-sama memperkuat perlindungan terhadap anak dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan penuh empati.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari pihak sekolah terkait permintaan keluarga maupun langkah penyelesaian yang sedang dilakukan.


Tinggalkan Balasan