Femindonesia.com, DEPOK – Batik khas Kota Depok kembali tampil di panggung nasional melalui karya desainer Liana Dewi dalam peragaan busana yang menjadi bagian dari rangkaian Bedah Buku Fatmawati dan Fatmawati Trophy pada peringatan Bulan Bung Karno di Bandung, 7 Juli 2026.

Liana Dewi, warga Kecamatan Sukmajaya, mengaku bangga mendapat kesempatan mewakili Kota Depok dengan menampilkan kebaya yang memadukan batik khas Depok dan sentuhan desain modern. Baginya, ajang tersebut bukan sekadar menampilkan karya fesyen, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.

“Saya sangat senang dan bangga bisa terpilih mewakili Depok serta membawakan kebaya rancangan saya dengan khas batik Depok,” ujar Liana, Sabtu (11/7).

Koleksi kebaya yang ditampilkan terinspirasi dari sosok Fatmawati, istri Proklamator Soekarno yang dikenal sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih. Liana menerjemahkan nilai keteguhan, keberanian, dan pengabdian Fatmawati ke dalam rancangan busana yang memadukan teknik kolase batik, bordir pada kain polos, serta detail bunga dan payet yang memberikan kesan elegan tanpa menghilangkan karakter batik Depok sebagai identitas utama.


Menurutnya, kebaya tidak hanya berfungsi sebagai busana tradisional, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan cerita, memperkenalkan budaya, serta menumbuhkan kebanggaan terhadap wastra Indonesia.

Ia berharap budaya berkebaya terus dilestarikan dan dikenakan dalam berbagai kesempatan, baik formal maupun nonformal. Dengan desain yang mengikuti perkembangan zaman, kebaya diyakini tetap relevan dan diminati lintas generasi.

Liana juga optimistis industri fesyen di Kota Depok memiliki prospek yang besar. Berbagai pelatihan menjahit, desain, penguatan branding, hingga pembinaan yang dilakukan Pemerintah Kota Depok dinilai menjadi modal penting bagi pelaku ekonomi kreatif untuk terus berkembang.

“Depok sangat berpotensi. Banyak pelatihan menjahit, desain, branding, serta fasilitas dari pemerintah yang membina industri fesyen secara berkelanjutan,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen mencetak talenta baru, Liana mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) LINAD. Melalui lembaga tersebut, ia membina calon penjahit dan desainer muda agar mampu berkarya sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya Indonesia melalui dunia fesyen.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Depok Yuni Indriany menilai penyelenggaraan Bedah Buku Fatmawati dan Fatmawati Trophy menjadi cara efektif memperkenalkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda melalui pendekatan literasi dan kreativitas.

“Kami ingin menghadirkan kembali sosok Fatmawati kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat, menarik, dan mudah dipahami. Literasi mengajak masyarakat mengenal sejarah secara lebih mendalam, sedangkan kreativitas menjadi jembatan agar nilai-nilai perjuangan dapat diwujudkan dalam karya, gagasan, dan tindakan nyata,” ujarnya.

Menurut Yuni, keikutsertaan desainer asal Depok dalam ajang tersebut menunjukkan bahwa kreativitas daerah mampu menjadi sarana merawat sejarah sekaligus memperkenalkan identitas lokal di panggung yang lebih luas.

“Bulan Bung Karno bukan sekadar momentum mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan agar menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus berkarya dan mengabdi kepada bangsa. Semangat Fatmawati harus terus hidup dalam karakter, karya, dan pengabdian generasi penerus Indonesia,” tutupnya. [sumber:berita depok go id]