Femindonesia.com, Jakarta – Pedangdut Rachma Julia menyampaikan kritik keras terhadap fenomena perubahan lirik lagu dangdut “Gapapa” yang belakangan viral di media sosial. Menurutnya, mengubah lirik lagu orang lain menjadi bernuansa vulgar merupakan tindakan yang merusak karya seni sekaligus tidak menghargai penciptanya.
Pernyataan tersebut disampaikan Rachma Julia saat menjadi bintang tamu dalam program Ngobrol Bareng Santai Sore di Camajaya FM 102,6, Jakarta yang disiarkan live setiap Sabtu sore.
Kontroversi bermula setelah lagu “Gapapa” yang dipopulerkan Anisa Bahar kembali ramai diperbincangkan akibat versi yang dibawakan Icha Chellow dan Mala Agatha. Dalam versi tersebut, sejumlah lirik diubah sehingga memunculkan kesan vulgar dan menuai kritik dari berbagai kalangan.
Pada versi aslinya, lagu “Gapapa” berisi pesan tentang ketegaran menghadapi berbagai cobaan dengan lirik seperti, “Aku dijauhin ya gapapa, aku dimusuhin ya gapapa, aku dijahatin ya gapapa, aku dibully pun ya gapapa.”

Namun, perubahan lirik dalam versi yang viral dinilai telah menyimpang dari makna lagu aslinya. Sebagai sesama pelaku industri musik dangdut, Rachma mengaku prihatin terhadap fenomena tersebut. “Kita sebagai seniman dangdut kalau punya lagu yang bagus, tapi diubah seenaknya, apalagi dengan kata-kata yang tidak senonoh, ya saya pasti marah,” ujar Rachma Julia.
Penyanyi yang dikenal lewat lagu “Nathalia” ciptaan Obbie Messakh itu berharap para penyanyi, khususnya pendatang baru, dapat membangun popularitas melalui karya yang kreatif tanpa harus mengubah atau merusak karya milik orang lain.
“Kalau mau cari sensasi, carilah sensasi yang positif. Jangan sampai merusak karya orang lain karena itu bisa mengarah pada bentuk pelecehan terhadap sebuah karya seni,” katanya.
Rachma juga mengingatkan bahwa setiap karya musik memiliki aturan dan etika yang harus dihormati. “Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi kepada penyanyi mana pun. Siapa pun yang mengubah lagu tanpa izin sebaiknya segera meminta maaf kepada pemilik karya,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, penyiar senior Camajaya FM, Mas Kelik, yang memandu acara tersebut, turut menyayangkan maraknya perubahan karya musik tanpa izin. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya melanggar etika, tetapi juga berpotensi merugikan para musisi sebagai pemilik hak atas karya.
“Perbuatan seperti itu saya kira kurang etis. Itu adalah karya seni, jangan diubah-ubah hingga kehilangan nilai seninya. Tindakan seperti ini sangat merugikan musisi dan pihak yang telah menciptakan karya tersebut,” ujar Mas Kelik.
Kontroversi lagu “Gapapa” sendiri masih menjadi perbincangan publik setelah pencipta dan penyanyi aslinya menyampaikan keberatan atas perubahan lirik yang beredar di media sosial.
Polemik tersebut kembali memunculkan diskusi mengenai pentingnya menghormati hak cipta, etika berkarya, dan menjaga orisinalitas karya musik di industri hiburan Indonesia.


Tinggalkan Balasan