Femindonesia.com, Jakarta – Praktisi media sekaligus pemerhati program anak, Liza Maria (Maria Elizabeth), mengajak anak-anak Indonesia untuk mengembangkan kreativitas melalui produksi video sebagai bekal menghadapi era digital sekaligus membuka peluang berprestasi di tingkat internasional melalui Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) 2027 atau Festival Video Anak ASEAN.

Lebih dari tiga dekade berkarya di industri penyiaran televisi nasional, Liza meyakini Indonesia memiliki banyak talenta muda yang berpotensi menjadi kreator konten, sutradara, produser, animator, hingga inovator masa depan. Menurutnya, potensi tersebut dapat berkembang apabila didukung ruang berkarya, pendampingan, dan akses yang memadai.

Komitmen itu mengantarkan Liza kembali dipercaya sebagai Assistant Board of Indonesia pada panitia SEAVFC Indonesia. Sebelumnya, ia juga telah tiga kali dipercaya sebagai dewan juri SEAVFC, masing-masing pada penyelenggaraan di Filipina (2018), Malaysia (2024), dan Thailand (2025).


Kepercayaan tersebut tidak lepas dari rekam jejak panjangnya di industri televisi nasional serta konsistensinya menghadirkan program-program anak yang edukatif dan berkualitas.

“Latar belakang saya memang dunia media televisi. Saya bekerja di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program-program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan saya dipercaya menjadi juri dan memiliki kepedulian terhadap anak-anak,” ujar Liza.

Menurutnya, proses pemilihan dewan juri SEAVFC dilakukan secara selektif. Selain memiliki pengalaman di industri media, para juri juga dinilai berdasarkan rekam jejak profesional, kompetensi, serta kontribusinya dalam mengembangkan konten ramah anak di kawasan ASEAN.


Berpengalaman Mengembangkan Program Anak

Perjalanan Liza di dunia program anak dimulai sejak awal 2000-an. Pada 2003, ia memproduksi sinetron drama musikal “Amelia” yang tayang di RCTI dan mengangkat lagu-lagu karya maestro musik anak A.T. Mahmud.

Produksi tersebut berhasil meraih penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada Festival Film Bandung dan menjadi salah satu tonggak penting dalam kariernya mengembangkan tayangan berkualitas bagi anak Indonesia.

Saat bergabung dengan Rajawali Televisi, Liza kembali menghadirkan program anak seperti Pesta Sahabat dan Dubidubidam. Kedua program tersebut turut mengantarkan stasiun televisi tersebut meraih tiga penghargaan Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kategori Program Anak Terbaik.


“Konten saya memang sejak lama dekat dengan dunia anak. Dari sinetron musikal sampai program-program televisi yang memberikan ruang bagi kreativitas anak. Itu yang membuat saya semakin yakin untuk fokus mengembangkan potensi kreativitas anak Indonesia,” katanya.

Manfaatkan Teknologi untuk Berkarya Positif

Liza menilai perkembangan teknologi digital menjadi peluang besar bagi anak-anak untuk belajar membuat video, fotografi, menulis naskah, hingga mengedit konten secara mandiri.

Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus dibarengi pendidikan karakter agar karya yang dihasilkan memiliki manfaat bagi masyarakat.


“Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang punya nilai positif. Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi membuat karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan,” tuturnya.

Menurut Liza, karya berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memberikan dampak besar apabila memiliki cerita yang kuat, penyajian yang kreatif, dan pesan yang positif.

Melalui ajang SEAVFC, karya-karya tersebut bahkan berpeluang mewakili Indonesia di tingkat ASEAN.

“Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar. Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional,” ujarnya.

Hari Anak Nasional 2026 Jadi Momentum

Dalam momentum Hari Anak Nasional 2026, Liza mengajak generasi muda untuk terus mengasah kemampuan kreatif sebagai bekal menghadapi persaingan global.

Ia menilai pendidikan formal perlu dilengkapi dengan keterampilan seperti menulis, fotografi, produksi video, editing, hingga kemampuan bercerita.

“Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan,” katanya.

Liza juga menekankan bahwa pembinaan talenta anak tidak dapat dilakukan oleh sekolah semata. Menurutnya, orang tua, pemerintah, media, komunitas, hingga seluruh pemangku kepentingan perlu berkolaborasi membangun ekosistem yang mendukung kreativitas anak.

Selain itu, perhatian terhadap pengembangan talenta tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar.

“Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar. Kita harus melihat anak-anak di kota kecil, daerah pinggiran, hingga Indonesia Timur. Mereka juga memiliki mimpi dan potensi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka,” ujarnya.

Liza menilai pembinaan talenta kreatif memiliki prinsip yang sama dengan pembinaan atlet berprestasi, yakni membutuhkan proses yang berkesinambungan agar lahir generasi yang mampu menjadi sutradara, produser, animator, kreator digital, hingga inovator di berbagai bidang.

Karena itu, ia berharap SEAVFC 2027 dapat menjadi wadah strategis bagi anak-anak Indonesia untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperkenalkan karya terbaik mereka di tingkat regional.

“Kalau kita serius membina mereka sejak sekarang, saya yakin akan lahir lebih banyak anak Indonesia yang bukan hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional.

Mereka nantinya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas yang mereka miliki,” pungkasnya.