Femindonesia.com, JAKARTAPenyanyi senior Sita Nursanti kembali mencuri perhatian di panggung musikal. Penyanyi sekaligus aktris senior itu tampil memukau sebagai Dewi Durga dalam pertunjukan drama musikal “Calon Arang” produksi EKI Dance Company di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (17/9/2026) malam.

Penampilan Sita menjadi salah satu momen yang mendapat sambutan hangat penonton. Di tengah cerita legenda Nusantara yang dikemas dengan musik, koreografi, dan tata panggung modern, Sita menunjukkan kualitas vokalnya melalui sejumlah bagian dengan tuntutan nada tinggi.

Tepuk tangan terdengar meriah dari penonton yang memadati Graha Bhakti Budaya setelah pementasan yang disutradarai Ara Ajisiwitersebut berakhir.


Menariknya, kehadiran Sita di “Calon Arang” juga membawa cerita nostalgia bagi EKI Dance Company. Pendiri EKI,
Aiko Senosoenoto, mengungkap bahwa keterlibatan Sita dalam pertunjukan kali ini terasa seperti kembali ke masa lalu.

Aiko mengingat pementasan klasik “Madame Dasima” pada awal 2000-an yang juga digelar di Graha Bhakti Budaya. Saat itu, pementasan tersebut menjadi debut Sita di dunia teater musikal.

“Kini, Sita kembali dalam pementasan musikal Calon Arang untuk memerankan karakter Dewi Durga,” kata Aiko dalam video sambutannya yang diputar sebelum pertunjukan.

Lebih dari dua dekade berselang, Sita kembali berdiri di panggung yang sama dengan pengalaman puluhan tahun sebagai penyanyi dan aktris. Performanya yang tetap bertenaga pun membuat banyak penonton penasaran dengan cara Sita menjaga kualitas vokalnya.


Namun, Sita justru menyebut tidak ada rahasia khusus atau ramuan instan yang membuat suaranya tetap terjaga. Menurut mantan personel grup vokal
Rida Sita Dewitersebut, kuncinya adalah disiplin menjalani latihan dan memahami teknik bernyanyi.

“Kalau pesan untuk teman-teman yang lain yang baru, rajin-rajin belajar, berlatih vokal saja dengan baik. Jangan takut suaranya nanti berubah kalau tekniknya benar, nggak apa-apa,” ujar Sita.

Bagi Sita, teknik bukan sekadar pelajaran dasar bagi penyanyi, tetapi menjadi bekal yang menentukan keberlangsungan suara dalam perjalanan karier. “Teknik itu penting karena tekniklah yang menyelamatkan kita sampai usia, sampai kapan pun gitu,” tegasnya.


Sita juga memiliki cara tersendiri dalam memahami sebuah lagu. Ia tidak melihat lagu hanya sebagai kumpulan nada, melainkan seperti sebuah bangunan yang mempunyai konstruksi.
Karena itu, penyanyi harus memahami setiap bagian lagu, termasuk menentukan kapan harus bernyanyi dengan suara lembut dan kapan memberikan tekanan yang lebih kuat.

Dalam “Calon Arang”, pemahaman tersebut menjadi penting karena Sita tidak hanya dituntut bernyanyi, tetapi juga menghidupkan karakter Dewi Durga di atas panggung.

Ia mengaku sangat terbantu dengan aransemen musik yang digarap komposer Oni Krisnerwinto. Menurut Sita, aransemen yang telah dipersiapkan dengan matang membuat dirinya dapat lebih fokus pada penjiwaan karakter.

Kesiapan tersebut juga membantunya ketika harus mengeksekusi bagian-bagian vokal dengan nada tinggi.


Meski sudah lama berkecimpung di dunia musik dan seni pertunjukan, Sita tetap menjaga kebiasaan latihan. Di sela rangkaian pementasan “Calon Arang”, ia memilih melakukan latihan mandiri untuk menjaga stamina sekaligus memastikan materi pertunjukan tetap melekat.

“Enggak masih, biasa aja, nyanyi biasa aja. Latihan biasa aja. Ya saya latihan sendiri aja menghafal terus gimana biar hafal,” kata Sita.

“Calon Arang” sendiri menjadi bagian dari perayaan 30 tahun EKI Dance Company, kelompok seni pertunjukan yang didirikan pada 1996 oleh mendiang Rusdy Rukmarata dan Aiko Senosoenoto.


Pertunjukan ini menghadirkan perspektif baru terhadap legenda Calon Arang, sosok janda sakti dari Desa Girah yang ditakuti masyarakat karena kekuatan ilmunya. Kisah tersebut kemudian dikembangkan menjadi drama musikal dengan pendekatan modern.

Selain Sita Nursanti sebagai Dewi Durga, pertunjukan ini dibintangi Ara Ajisiwi sebagai Calon Arang, Nala Amrytha sebagai Ratna Manggali, Gerry Gerardo sebagai Bahula, dan Gabriel Harvianto sebagai Barada.

Musikal “Calon Arang” masih dapat disaksikan hingga 20 September 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Bagi Sita Nursanti, kembalinya ke panggung musikal bukan sekadar kesempatan untuk tampil, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang di dunia seni dibangun dari konsistensi, latihan, dan kecintaan terhadap panggung.