Femindonesia.com, JAKARTA — Ketimpangan sosial dan kerasnya perjuangan anak muda bertahan hidup menjadi isu yang diangkat film Siti Si Vampir. Dikemas dalam balutan drama-komedi satir, film garapan sutradara Rahabi Mandra ini menghadirkan kisah vampir lokal yang berhadapan dengan realitas kehidupan masyarakat dari kelas sosial berbeda.

Vidsee bersama Bahagia Tanpa Drama, berkolaborasi dengan Z Films, Spectrum Film, dan PK Films, resmi merilis official trailer dan poster Siti Si Vampir pada 28 September 2026. Film tersebut dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.

Dalam trailer, penonton diperkenalkan dengan Siti, karakter yang diperankan Satine Zaneta, seorang perempuan muda yang menjalani kehidupan sederhana dan bekerja sebagai tukang angkat galon. Ia tinggal di sebuah rumah susun bersama ayahnya dan harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup.

Kehidupan Siti kemudian berubah drastis setelah dirinya digigit vampir elit bernama Nakula, yang diperankan Ciccio Manassero.

Gigitan tersebut membuat Siti berubah menjadi vampir. Di tengah kesulitan ekonomi yang selama ini dihadapinya, perubahan itu justru membuka peluang bagi Siti untuk menikmati kehidupan yang jauh lebih mewah.

Siti tak lagi harus bersusah payah seperti sebelumnya. Ia bahkan bisa meninggalkan kehidupan lamanya sebagai tukang angkat galon, sementara sahabatnya, Dudi (Ajil Ditto), masih menjalani pekerjaan sebagai teknisi AC.

Namun, kemewahan tersebut memiliki konsekuensi besar. Untuk mempertahankan kehidupan barunya, Siti harus memilih menjadi vampir selamanya dan meninggalkan kehidupan sebagai manusia.

Pertanyaan besar kemudian muncul: akankah Siti memilih kehidupan mewah sebagai vampir atau kembali menghadapi kerasnya kehidupan sebagai manusia?

Selain Satine Zaneta, Ajil Ditto, dan Ciccio Manassero, film ini juga menghadirkan Shania Gracia, Nugie, dan Kimberly Ryder.

Rahabi Mandra mengatakan, pemilihan para pemeran muda dalam Siti Si Vampir tidak sekadar mempertimbangkan karakter dan kemampuan akting, tetapi juga berkaitan dengan tema yang ingin disampaikan film tersebut.

Menurutnya, kisah Siti merefleksikan keresahan yang dihadapi banyak anak muda saat ini, terutama terkait tekanan ekonomi dan sulitnya mempertahankan kehidupan di tengah kondisi sosial yang semakin kompleks.

“Jajaran pemeran di film Siti Si Vampir terbilang generasi aktor muda yang saat ini menjadi bagian dari regenerasi perfilman Indonesia. Namun, mengapa kami menampilkan karakter-karakter anak muda di film ini juga sebenarnya karena kisah di film ini juga membawa keresahan tentang kondisi yang dihadapi anak muda saat ini, bagaimana susahnya bertahan hidup dengan segala impitan ekonomi,” ujar Rahabi Mandra.

Produser Kenny Png menyebut Siti Si Vampir sebagai proyek ko-produksi internasional antara Singapura dan Indonesia yang membawa tema sosial-ekonomi sekaligus relasi emosional antara anak perempuan dan ayahnya.

“Film Siti Si Vampir menjadi proyek ko-produksi internasional yang sangat unik antara Singapura dan Indonesia, film ini membawa tema sosial-ekonomi yang sangat relevan dengan situasi kehidupan kita saat ini, dan sisi emosional dari relasi anak perempuan dan seorang ayah,” kata Kenny.

Sementara itu, produser Celerina Judisari mengatakan film tersebut mencoba menghadirkan cerita yang berbeda melalui perpaduan drama-komedi dan konsep vampir lokal.

“Melalui film Siti Si Vampir kami ingin menghadirkan keragaman cerita, dengan kemasan genre drama-komedi yang memiliki keunikan tentang vampir lokal, sekaligus membawa cerita yang relevan dengan banyak orang mengenai sulitnya bertahan hidup di situasi saat ini,” ujar Celerina.

Bagi Satine Zaneta, karakter Siti memiliki kedekatan dengan realitas perempuan muda yang harus mengambil tanggung jawab ekonomi dalam keluarga.

Siti digambarkan bukan hanya sebagai perempuan yang bekerja keras, tetapi juga sebagai sosok yang mengambil peran sebagai salah satu tulang punggung keluarga.

“Ada hal yang menarik dan relate dengan banyak orang di film ini. Bagaimana Siti sebagai anak perempuan juga berada di posisi yang menjadi tulang punggung keluarga secara ekonomi,” ujar Satine.

Ia menambahkan, Siti juga melakukan berbagai pekerjaan dan mengambil tanggung jawab yang secara sosial masih kerap dianggap sebagai peran laki-laki.

“Siti melakukan banyak hal dan mengambil tanggung jawab yang secara sosial sering kali masih dianggap sebagai tugas atau peran laki-laki. Menurut aku, ini menarik karena film ini tidak hanya berbicara tentang perbedaan kelompok sosialnya, tapi juga tentang bagaimana perempuan bisa mengambil ruang dan peran yang mungkin selama ini dianggap bukan ‘tempatnya,’” lanjut Satine.

Film Siti Si Vampir diproduseri Kenny Png dan Celerina Judisari. Film ini akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.