Femindonesia.com, Jakarta – Pameran industri percetakan dan periklanan ALLPrint Indonesia 2026 resmi digelar di Hall A JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-27, pameran ini menghadirkan sekitar 400 peserta dari lebih dari 10 negara.
Pembukaan ALLPrint Indonesia 2026 berlangsung meriah dengan pertunjukan lima penari berbusana kuning keemasan dan dua penari berwarna hijau zamrud. Dua model dengan sayap emas raksasa setinggi sekitar tiga meter turut tampil sebelum confetti emas dan perak memenuhi area panggung.
CEO Krista Exhibitions Daud D Salim bersama jajaran tamu undangan kemudian mengibarkan bendera Merah Putih sebagai tanda resmi dimulainya pameran.

Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi, membuka acara dengan pantun. “Dari Cikini ke Gondangdia, mampir sebentar membeli tinta, hadir bersama kreativitas media, menggerakkan ekonomi kreatif kita,” ujar Cecep.
Dalam sambutannya, Cecep mengapresiasi konsistensi ALLPrint Indonesia yang telah berlangsung selama 27 tahun. Menurutnya, keberlangsungan pameran tersebut menunjukkan bahwa industri percetakan masih memiliki prospek di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Ia mengatakan, berdasarkan data BPS hingga semester I 2026, subsektor penerbitan telah menyumbang ekspor ekonomi kreatif sebesar 6,63 juta dolar AS dan berada di posisi kelima secara nasional. “Banyak yang mengira di era serba digital industri percetakan akan meredup, realitasnya justru sebaliknya,” katanya.

Menurut Cecep, industri percetakan telah bertransformasi dengan mengintegrasikan teknologi digital ke dalam ekosistem produksinya. Karena itu, sektor tersebut tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan ekonomi kreatif Indonesia.
Ia menilai ALLPrint Indonesia bukan sekadar pameran mesin dan teknologi, melainkan menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, industri, kewirausahaan, dan UMKM. “Ini mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas sektor di dalam membangun industri ini,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut mencakup kreativitas yang dikembangkan Kementerian Ekonomi Kreatif, kapasitas industri yang diperkuat Kementerian Perindustrian, serta kewirausahaan dan UMKM yang diberdayakan Kementerian UMKM.
Cecep juga menilai industri percetakan kini memiliki cakupan yang semakin luas, mulai dari desain, periklanan, penerbitan, fotografi, packaging, hingga berbagai produk berbasis kekayaan intelektual.

“Industri percetakan tidak hanya berkaitan dengan teknologi mesin dan proses manufaktur, tetapi juga menjadi medium bagi kreativitas untuk menghasilkan nilai tambah melalui desain, periklanan, penerbitan, fotografi, packaging, serta berbagai produk berbasis kekayaan intelektual,” katanya.
Teknologi printing, lanjut dia, juga membuka peluang bagi UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, kemasan, branding, hingga daya saing di pasar.
Dorong Green Printing
ALLPrint Indonesia 2026 mengangkat tema “Green Printing and Advertising Solution”. Menurut Cecep, tema tersebut menjadi momentum untuk mendorong industri percetakan menuju praktik produksi yang lebih berkelanjutan.
“Percetakan bukan lagi sekadar memindahkan tinta ke atas kertas. Hari ini kita berbicara tentang digital printing, 3D printing, smart packaging, hingga teknologi ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penggunaan material daur ulang, tinta berbasis nabati, serta efisiensi energi dalam proses produksi sebagai bagian dari standar baru industri percetakan.
“Mendorong transisi menuju praktik green printing, penggunaan material daur ulang, tinta berbasis nabati, dan efisiensi energi dalam proses produksi harus menjadi standar baru yang kita banggakan,” tegasnya.
Kementerian Ekonomi Kreatif, kata Cecep, akan terus berperan sebagai fasilitator dan katalisator, termasuk melalui dukungan kebijakan untuk mempermudah akses teknologi bagi industri kreatif serta memperkuat kampanye Bangga Buatan Indonesia.
Ia kemudian menutup sambutannya dengan pantun. “Gambang kromong mempunyai irama, menggema indah di Jakarta Raya, mari terus mencetak inovasi bersama, untuk ekonomi Indonesia berjaya.”
75 Persen Teknologi Digital Printing
Sementara itu, CEO Krista Exhibitions Daud D Salim mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara industri percetakan menjalankan proses produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar. “Melalui ALLPrint Indonesia, kami mempertemukan pelaku industri dengan teknologi dan solusi yang dapat mereka lihat serta evaluasi secara langsung,” kata Daud.
Daud mengungkapkan sekitar 75 persen teknologi yang ditampilkan dalam pameran tahun ini merupakan teknologi cetak digital dengan berbagai variasinya. “Hampir 75 persen di pameran ini teknologi cetak digital dengan berbagai variasinya, baik mencetak di atas plastik, branding, packaging, promosi, arsitektur juga ada di sini,” ujarnya.
Usai pembukaan, rombongan VIP mengunjungi sejumlah booth peserta, di antaranya EKA MAJU dan ZONTEN, untuk melihat langsung perkembangan teknologi serta solusi yang ditawarkan industri.
ALLPrint Indonesia 2026 menghadirkan sekitar 400 peserta, termasuk 20 UMKM, dari lebih dari 10 negara. Peserta berasal dari Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan.
Pameran berlangsung pada 7-10 Oktober 2026 dan digelar bersamaan dengan Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, serta Pro Label Asia di Hall A JIExpo Kemayoran.
Selama empat hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menyaksikan langsung pengoperasian mesin dan teknologi percetakan serta mengikuti berbagai seminar dan forum industri.
Sejumlah agenda yang dihadirkan antara lain Ready for 2027 New Rules of Digital Textile Printing, Future of Carton Smart Machines, Single Pass Technology, Food Safety Packaging, Halal Certification is Must, Munas PPGI Era Pengadaan Digital, hingga forum “Perkawinan antara 2D dan 3D” dari Printridi.
Selain itu, terdapat sesi “Dari Spanduk ke Layar Digital” dari AMLI, “Jadi ZINE!” dari Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Creative Lino Stamp Workshop dari Trisakti. Penyelenggara juga menghadirkan program business matching dan hosted buyer untuk mempertemukan exhibitor dengan calon pembeli secara lebih terarah.
Dengan rangkaian tersebut, ALLPrint Indonesia 2026 tidak hanya menjadi ruang pamer teknologi percetakan, tetapi juga menjadi wadah bertemunya pelaku industri, UMKM, buyer, dan ekosistem ekonomi kreatif.
Pameran masih berlangsung hingga 10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.


Tinggalkan Balasan