Femindonesia.com, JAKARTA – Perjuangan mendapatkan pekerjaan, menghadapi tekanan atasan, hingga membuktikan kemampuan selama masa percobaan kerja (probation) menjadi potret kehidupan anak muda yang diangkat dalam film Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?.
Film produksi BASE Entertainment ini bukan sekadar menyuguhkan komedi tentang dunia perkantoran. Lebih dari itu, film yang diadaptasi dari buku karya Samuel Ray tersebut membawa pesan tentang perjuangan, kesehatan mental, kepercayaan diri, dan pentingnya tetap menjadi manusia di tengah tuntutan pekerjaan.
Pesan itu terasa dalam press screening yang digelar di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (5/11/2026). Sepanjang pemutaran, penonton dibuat tertawa, tetapi juga diajak merenungkan pengalaman yang mungkin pernah mereka alami ketika memasuki dunia kerja.
Produser BASE Entertainment, Shanty Harmayn, mengatakan film ini berangkat dari buku Lagi Probation karya Samuel Ray yang berisi berbagai cerita dan pengalaman orang-orang ketika mencari pekerjaan.
“Perjalanan ini cukup ada lonely-nya, cukup berjuang sendiri. Kami ingin membuat film ini supaya ada temannya. Mudah-mudahan film ini memeluk, bahwa Anda tidak berjuang sendirian. Kita memuliakan juga perjalanan yang dilalui banyak orang,” ujar Shanty.
Samuel Ray mengungkapkan, materi buku tersebut awalnya berasal dari curhatan warganet di media sosial. Saat bekerja sebagai HRD, ia membuka forum untuk menjawab berbagai persoalan seputar dunia kerja, mulai dari membuat CV, menghadapi wawancara, hingga mendapatkan pekerjaan.
Curhatan-curhatan itulah yang kemudian dikembangkan menjadi konten dan akhirnya dibukukan.
“Film ini lahir dari curhatan-curhatan netizen. Ini lahir dari teman-teman juga. Saya tidak bisa berhenti mengucapkan terima kasih kepada segenap tim BASE, pemain, kru, dan teman-teman media,” kata Samuel.
Sementara itu, sutradara Archie Hekagery mengakui menggarap film ini menjadi pengalaman sekaligus tantangan baru. Ia bukan berasal dari generasi Z dan belum pernah merasakan pengalaman bekerja kantoran.
Untuk membangun cerita yang autentik, Archie bersama kru melakukan riset langsung dengan mengunjungi sejumlah kantor, bertemu HRD, serta mewawancarai karyawan yang sedang menjalani masa probation.
Bahkan, mereka mencoba merasakan langsung padatnya perjalanan menggunakan KRL pada jam sibuk pagi hari.
“Film ini bukan soal menang atau kalah, tetapi mengenai bagaimana bertahan dan menjaga kewarasan. Mudah-mudahan film ini bisa memeluk semua yang sedang berjuang,” tutur Archie.
Penulis skenario Rifki Ardisha menambahkan, tantangan terbesarnya adalah memasukkan berbagai nilai kehidupan dari buku ke dalam cerita tanpa membuat film terasa menggurui.
Menurutnya, pesan-pesan tersebut lebih efektif disampaikan melalui karakter dan perjalanan masing-masing tokoh.
“Film ini sebenarnya mengamini bahwa kita semua kadang ketika sudah berjalan suka lupa untuk menjadi manusia juga,” ungkap Rifki.
Pengalaman Personal Para Pemain
Pengalaman menghadapi dunia kerja juga menjadi bekal para pemain dalam membangun karakter.
Daffa Wardhana, misalnya, mengaku pernah merasakan bekerja kantoran di kawasan SCBD setelah lulus kuliah pada 2020. Namun, masa transisi pandemi Covid-19 membuatnya tidak mendapatkan banyak pengalaman bekerja secara langsung.
Ia juga mengambil inspirasi dari pengalaman teman-teman SMA yang kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Pengalaman mengikuti training di Korea yang memiliki kemiripan dengan masa probation turut menjadi referensinya.
Arafah Rianti mengaku karakter yang diperankannya memiliki kemiripan dengan kepribadiannya. Ia bahkan menyebut sejumlah sisi karakter tersebut terasa sangat dekat dengan dirinya.
Sementara Aurora Ribero menggambarkan karakter Rainbow sebagai sosok baik yang kerap disalahpahami.
Pemeran Bintang mengungkapkan bahwa karakternya memiliki banyak lapisan. Di balik sosok yang terlihat baik dan mudah membantu orang lain, Bintang menyimpan kebutuhan besar terhadap validasi dari atasannya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya keberanian dan kepercayaan diri.
Hal serupa disampaikan Gabriella Ekaputri yang memerankan Claudia. Ia mengaku banyak belajar dari karakter tersebut, terutama mengenai batasan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (boundaries).
Menurut Gabriella, seseorang harus memahami apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaan dan apa yang merupakan urusan personal.
Adapun pemeran Mika menyoroti bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Seseorang mungkin tampak baik-baik saja, tetapi sesungguhnya sedang menghadapi persoalan identitas maupun tekanan dari lingkungan keluarga.
Lutfi Afansyah juga membagikan pengalaman pertamanya terlibat dalam film tersebut. Ia mengaku sempat gugup, terutama ketika harus menjaga ritme komedi agar tetap terasa alami.
Samuel Ray sendiri turut terlibat dalam film ini dan menyebut kesempatan tersebut menjadi jembatan baru untuk membawa karya serta pengalamannya dari dunia penulisan ke layar lebar.
Bukan Sekadar Cerita tentang Pekerjaan
Melalui komedi dan kisah para karakternya, Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih?mencoba menggambarkan bahwa memasuki dunia kerja bukan hanya tentang mendapatkan gaji, jabatan, atau status sebagai karyawan tetap.
Ada proses panjang untuk beradaptasi, menghadapi kegagalan, membangun kepercayaan diri, hingga menjaga kesehatan mental di tengah berbagai tuntutan.
Hampir seluruh pihak yang hadir dalam pemutaran perdana tersebut mengaku memiliki pengalaman tersendiri saat mengawali perjalanan karier dan berjuang mendapatkan tempat di dunia kerja.
Film ini diproduseri Shanty Harmayn, disutradarai Archie Hekagery, dengan skenario karya Rifki Ardisha. Selain Aurora Ribero, film ini dibintangi Rey Bong, Gabriella Ekaputri, Daffa Wardhana, Arafah Rianti, Lutfi Afansyah, Wafda Saifan, hingga Indra Birowo.
Lagi Probation: Kerja Ngejar Apa Sih? dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026.
Film ini menjadi pengingat bahwa setiap orang punya proses dan perjuangannya masing-masing. Sebab, di tengah ambisi mengejar karier, manusia juga perlu ruang untuk bertumbuh, melakukan kesalahan, dan tetap menjaga kewarasannya. (Sofyan Lubis)


Tinggalkan Balasan