FEM Indonesia, TangSel — Heri Chayadi Wibowo, yang akrab disapa Heri, memasuki tahun kedua kiprahnya membangun perusahaan rekaman WAVE MUSIC. Label musik yang berdiri sejak September 2024 itu berlokasi di BSD City, tepatnya di Ruko Loca 65 Blok C/7, Serpong, Kota Tangerang Selatan.
Musisi sekaligus pencipta lagu ini melalui WAVE MUSIC telah meluncurkan berbagai karya anak negeri dari beragam genre. Sejumlah nama yang telah merilis single di bawah label tersebut antara lain MuMu, Mage, Kulturaga, Gilang Samsu, Valaga, Ardila Key, 87, hingga Hyra.
“Saya mendirikan WAVE MUSIC untuk menjawab keresahan sekaligus keyakinan bahwa industri musik modern membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel dan relevan dengan era digital,” ujar Heri saat berbincang bersama Bois Famous Maker di studio rekaman WAVE MUSIC.
Menurutnya, WAVE MUSIC hadir bukan hanya sebagai wadah bagi talenta untuk berkembang dan eksis di industri musik Tanah Air, tetapi juga menempatkan para artis sebagai mitra sejati dalam berkarya dan berkarier. Ia menekankan prinsip kerja sama yang adil, termasuk dalam pembagian pendapatan sebagai bagian dari aset kreatif bersama.
Filosofi WAVE MUSIC sendiri mencerminkan perjalanan musikal yang mengikuti ritme perubahan zaman. Label ini dibangun dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberanian bereksperimen di tengah dinamika industri yang terus berkembang.
Lulusan IT dari Perbanas Jakarta tersebut menjelaskan bahwa WAVE MUSIC didukung fasilitas studio rekaman untuk menghasilkan produksi berkualitas, serta manajemen jejaring musik lintas industri berbasis teknologi dengan sumber daya manusia yang kompeten.
“Ini menjadi aset penting bagi WAVE MUSIC dalam menghadapi tantangan era digital. Brand WAVE MUSIC melambangkan adaptasi dan fleksibilitas, karena industri musik terus berevolusi mengikuti tren teknologi dan perilaku pasar,” katanya.
Berbekal pengalaman sebagai anak band, Heri berupaya mengimplementasikan pola kemitraan dialogis antara musisi dan label — sesuatu yang menurutnya masih kerap terabaikan di Indonesia, terutama dalam upaya menduniakan karya melalui platform digital di tengah perubahan besar pola bisnis musik.
“Bisnis di industri kreatif harus melibatkan hati. Karya musik lahir dari kejujuran musisi. Jadi bisnis musik bukan hanya soal kalkulasi, tetapi juga chemistry yang berbasis ‘algoritma hati’,” pungkas Heri, kelahiran Jakarta, 6 Desember 1982.


Tinggalkan Balasan