Femindonesia.com, Jakarta – Sutradara sekaligus aktor Bayu Skak kembali menghadirkan karya terbarunya melalui film Foufo, sebuah film komedi fiksi ilmiah (sci-fi) produksi Skak Studios dan Sinemart yang resmi tayang di bioskop mulai 9 Juli 2026.
Menggabungkan komedi absurd, drama keluarga, budaya Madura, hingga teknologi CGI, Foufo disebut menjadi proyek paling rumit sepanjang karier Bayu sebagai pembuat film.
Berbeda dari karya-karya sebelumnya yang identik dengan latar dan dialog berbahasa Jawa, kali ini Bayu mengangkat bahasa Madura sebagai bahasa utama dalam film. Langkah tersebut menjadi salah satu pembeda yang diharapkan mampu menghadirkan warna baru bagi industri perfilman nasional.
Menurut Bayu, tantangan terbesar dalam produksi Foufo berasal dari penggunaan teknologi visual efek (CGI) untuk menghadirkan karakter alien dan pesawat UFO yang menjadi elemen utama cerita.
“Foufo adalah project-ku yang paling berani. Karena ada alien, tentunya kami menggunakan CGI, dan itu ternyata susah banget. Kami melibatkan ratusan animator untuk membuat karakter alien dan pesawat UFO-nya. Kalau dibandingkan dengan project-project-ku sebelumnya, ini bikinnya rumit. Melibatkan alat-alat berat termasuk saat bawa UFO-nya ke lokasi syuting,” ujar Bayu Skak.
Produksi film ini melibatkan ratusan animator guna menciptakan efek visual yang mendukung konsep sci-fi. Bayu mengaku ingin keluar dari zona nyaman dan menawarkan sesuatu yang belum banyak ditemui dalam perfilman Indonesia dengan memadukan kisah alien, budaya Madura, serta komedi khasnya.
Tak hanya menghadirkan teknologi visual yang lebih kompleks, Foufo juga menjadi ruang bagi talenta baru dari daerah. Tim produksi menggelar open casting yang diikuti sekitar 2.500 peserta, terutama dari wilayah Surabaya Utara dan Jawa Timur.
Hasil seleksi tersebut melahirkan banyak wajah baru yang kini tampil sebagai pemeran dalam film Foufo. Sebagian besar berasal dari Madura dan Jawa Timur, bahkan beberapa di antaranya belum pernah berkecimpung di dunia akting profesional.
“Ini membuktikan bahwa ketika kita yang ada di daerah diberikan kesempatan, kita juga bisa. Kesempatan itu dari dulu jauh banget kan, adanya cuma di Jakarta. Tapi kami ingin memberikan kesempatan ke teman-teman di daerah, dengan open casting di Surabaya Utara saat itu. Dan jebolan-jebolan casting itu sekarang menjadi jajaran pemain di film Foufo,” kata Bayu.
Selain membuka peluang bagi para pemain baru, Foufo juga menjadi debut penulis skenario Ahmad Faishol untuk film panjang layar lebar. Bayu menilai film ini menjadi wadah bagi generasi baru perfilman Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Menurutnya, penggunaan bahasa Madura tidak akan menjadi kendala bagi penonton dari berbagai daerah karena film telah dilengkapi subtitle bahasa Indonesia.
“Ini panggungnya kita semua sebagai orang daerah. Aku di sini bilang sebagai orang Jawa dan film ini kan mengangkat budaya dan bahasa Madura. Ini film berbahasa Madura tapi campur, ada bahasa Jawa, Madura, yang juga ada di Jawa Timur. Kalian yang nggak berbahasa Madura, jangan khawatir, karena ada subtitle,” tutur Bayu.
Melalui Foufo, Bayu Skak berharap penonton tidak hanya disuguhkan komedi yang menghibur, tetapi juga cerita keluarga yang emosional dengan balutan budaya lokal dan sentuhan visual modern.
Kombinasi genre komedi, sci-fi, serta kearifan lokal tersebut diharapkan menjadi alternatif segar di tengah industri film Indonesia.


Tinggalkan Balasan