Femindonesia.com, JAKARTA — Perkembangan pola konsumsi hiburan di era digital mendorong industri perfilman Indonesia untuk terus beradaptasi. Salah satu format yang tengah berkembang adalah vertical drama atau microdrama, yang dirancang khusus untuk dinikmati melalui layar smartphone.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Workshop Vertical Drama yang digelar dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 di PFN Heritage, Jakarta Timur, 20 Agustus 2026 yang menghadirkan pembicara Rugun Jessica dan Romario dari Storybox dan Danny Ambarita serta Ade Yemy Irawan dari TVD Asia.
Kegiatan ini fokus mempertemukan pelaku industri kreatif dan komunitas perfilman untuk membahas peluang, tantangan, serta potensi kolaborasi dalam pengembangan konten vertikal.
Production Consultant TVD Asia, Danny Ambarita, mengatakan perubahan perilaku penonton menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan vertical drama. Menurutnya, masyarakat kini memiliki waktu yang semakin terbatas untuk menikmati hiburan karena perhatian mereka banyak tersita oleh media sosial.

“Yang kami ingin lakukan adalah membuka dialog dengan komunitas, mengeksplorasi tantangan baru, termasuk produksi vertical drama,” ujar Danny.
Ia menjelaskan, perkembangan konten saat ini tidak hanya mengarah pada produksi live action, tetapi juga mulai memasuki format hybrid yang menggabungkan video dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). TVD Asia, kata Danny, ingin mengeksplorasi berbagai pendekatan baru bersama komunitas perfilman Indonesia. Salah satunya melalui kerja sama dengan StoryBoxsebagai platform distribusi konten digital.
Menurut Danny, platform digital memberikan keleluasaan kepada penonton untuk memilih konten berdasarkan minat dan waktu yang tersedia. Perubahan tersebut sekaligus membuat industri televisi menghadapi pergeseran perilaku audiens dan belanja iklan ke platform digital.
Ia menilai platform digital menawarkan peluang konversi yang lebih terukur bagi brand dibandingkan iklan televisi yang selama ini lebih banyak berorientasi pada awareness.
Bidik Pasar Diaspora Indonesia
TVD Asia dan StoryBox juga melihat peluang untuk memperluas distribusi konten berbahasa Indonesia ke pasar internasional, khususnya komunitas diaspora Indonesia.
Danny menyebut masyarakat Indonesia yang tinggal di Malaysia, Australia, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lainnya merupakan pasar potensial.
“Kita ingin masuk ke pasar Indonesia terlebih dahulu, kemudian melakukan scaling ke luar negeri. Banyak orang Indonesia di luar negeri yang tetap ingin menikmati konten dengan bahasa dan nuansa Indonesia,” katanya.
Menurutnya, vertical drama bukan dimaksudkan untuk menggantikan televisi. Format tersebut justru menjadi alternatif hiburan yang menyesuaikan kebutuhan dan preferensi penonton di era digital.
Indonesia Punya Potensi Besar
Head of IFCA (Indonesia Film Content Academy) PFN, Suranta Brahmana, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri film dan konten karena memiliki jumlah penduduk yang hampir mencapai 280 juta jiwa.
Namun, salah satu tantangannya adalah keterbatasan jumlah layar bioskop yang saat ini berada di kisaran 2.500 layar.
Suranta menilai pemerintah dan pelaku industri perlu bekerja sama untuk meningkatkan jumlah layar sekaligus menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar. Sebab, distribusi konten kini tidak lagi hanya bergantung pada bioskop.
“Distribusi film kini tidak hanya melalui bioskop, tetapi juga melalui smartphone, YouTube, dan berbagai platform digital,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya berbagi pengalaman antara sutradara, produser, kru, dan pelaku industri lainnya. Transfer pengetahuan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas produksi sehingga film Indonesia mampu bersaing tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di tingkat global.
Selain platform digital, Suranta melihat peluang distribusi konten melalui berbagai ruang baru, seperti transportasi umum, kereta api, dan pesawat.
StoryBox Buka Peluang bagi Kreator Muda
Produser TVD Asia, Ade Yemy Irawan atau Ojim, mengatakan pengembangan StoryBox tidak hanya berfokus pada drama. Platform tersebut juga membuka kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat dalam produksi konten digital.
Ojim menyebut StoryBox telah bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Sunny Day, yang memproduksi konten secara mandiri untuk ditayangkan di platform tersebut.
Ke depan, StoryBox berencana menghadirkan berbagai jenis konten vertikal, mulai dari reality show hingga serial horor yang diproduksi secara khusus untuk format vertikal.
Untuk pola kerja sama dengan kreator, Ojim mengatakan skemanya masih dibahas bersama manajemen. Bentuk kerja sama dapat berupa pembelian konten secara langsung maupun sistem bagi hasil berdasarkan performa dan koin yang diperoleh.
AI Dinilai Bisa Tekan Biaya Produksi
Perkembangan teknologi AI juga dinilai membuka peluang baru bagi industri microdrama. Teknologi tersebut dapat membantu kreator memproduksi adegan yang sulit dan membutuhkan biaya besar.
Ojim mencontohkan adegan kecelakaan atau kendaraan jatuh ke jurang yang secara konvensional membutuhkan biaya produksi cukup tinggi. Dengan pemanfaatan teknologi AI secara tepat, kreator berpotensi membuat adegan tersebut dengan biaya yang lebih efisien.
Kondisi tersebut dinilai dapat membuka kesempatan lebih besar bagi kreator baru untuk masuk ke industri produksi konten digital.
Meski pasar microdrama disebut tengah menghadapi tantangan akibat kondisi pasar yang cenderung menurun, Ojim melihat peluangnya masih terbuka.
Menurutnya, penonton dan pasar untuk konten tersebut tetap tersedia sehingga pelaku industri perlu terus melakukan eksplorasi dan inovasi.
Ia berharap perkembangan StoryBox dan industri konten vertikal dapat melahirkan generasi baru yang tertarik terjun ke dunia produksi digital.
“Format vertikal masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan, tidak hanya terbatas pada microdrama, tetapi juga berbagai bentuk hiburan lainnya,” kata Ojim.
Kreatif Merdeka Carnival Dorong Variasi Karya Sineas
Ketua Panitia Kreatif Merdeka Carnival 2026, Herty Purba, menyambut positif penyelenggaraan Workshop Vertical Drama. Menurutnya, format tersebut menjadi salah satu saluran baru bagi sineas untuk menyalurkan kreativitas di tengah perubahan pola konsumsi hiburan.
Ia menilai tren drama vertikal yang populer melalui layar smartphone dapat menjadi referensi sekaligus peluang bagi sineas Indonesia untuk menghasilkan karya baru melalui kanal digital seperti StoryBox.
“Workshop Vertikal Drama kerja sama dengan StoryBox dan TVD ini juga menambah variasi acara selain Sepekan Diskusi Film dengan berbagai tema dan narasumber sineas film yang menarik seperti film anak, film inklusi, film animasi dan digital AI bahkan film horor yang lagi tren di Indonesia sekarang,” ujar Herty.
Ketua Diskusi Film, Liza Maria, menambahkan workshop tersebut memberikan wawasan praktis kepada sineas mengenai proses produksi vertical drama atau microdrama untuk kanal digital.
Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai format konten, tetapi juga tips dan trik produksi yang dapat langsung diterapkan.
“Dengan referensi drama Cina yang sangat populer dan viral, para sineas bisa langsung memproduksi film vertikal atau microdrama setelah workshop dua hari dengan StoryBox dan TVD, serta membuka peluang kerja sama dengan sineas film untuk mengirimkan karya vertical drama mereka ke StoryBox dan TVD,” ujar Liza.
Perkembangan vertical drama pun menunjukkan bahwa ekosistem perfilman Indonesia semakin memiliki beragam pilihan distribusi. Kolaborasi antara komunitas, rumah produksi, platform digital, dan pelaku teknologi dinilai menjadi salah satu kunci untuk melahirkan format konten baru yang sesuai dengan kebiasaan penonton sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.


Tinggalkan Balasan