Femindonesia.com, JAKARTA – Krista InterFOOD Roasting Competition (KIROC) 2026 yang digelar di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, pada 4–7 November 2026, jadi bagian dari pameran Krista InterFOOD 2026, kompetisi ini mempertemukan para pelaku roasting kopi untuk menguji keterampilan, ketepatan teknik sangrai, serta kemampuan menghasilkan profil kopi sesuai karakter biji yang digunakan.
Head Crew KIROC, Rahmat Indra, mengatakan kompetisi tersebut merupakan bagian dari Indonesia Coffee Up Battle (ICAB), yang menghadirkan roasting sebagai salah satu cabang perlombaan.
Tahun ini, KIROC diikuti sembilan peserta dengan dukungan enam juri dan satu head judge. Kompetisi terbuka untuk umum dan dirancang menggunakan standar penilaian serta regulasi yang berlaku bagi seluruh peserta.
“Kompetisi roasting bukan sekadar mengoperasikan mesin. Peserta harus memahami karakter biji kopi, mulai dari origin, proses pascapanen, hingga varietas yang digunakan,” ujar Rahmat.

Dalam kompetisi tersebut, peserta menjalani sejumlah tahapan, mulai dari mengenali mesin roasting, menganalisis karakter green bean, menyusun strategi sangrai, hingga membuat perencanaan profil roasting atau roast plan.
Rencana tersebut kemudian diterapkan dalam proses sangrai. Hasilnya dinilai berdasarkan kesesuaian antara profil yang direncanakan dengan karakter dan kualitas roasted bean yang dihasilkan.
Panitia menyiapkan lima origin kopi dari sejumlah daerah di Indonesia dengan dua varietas utama, yakni Robusta dan Arabika. Di antaranya Robusta asal Temanggung, Jawa Tengah, dan Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Rahmat menjelaskan, proses roasting menjadi salah satu tahapan penting dalam menentukan cita rasa kopi yang dinikmati konsumen. Pemahaman terhadap asal biji, varietas, dan proses pascapanen menjadi modal utama seorang roaster untuk menghasilkan karakter seduhan yang optimal.
“Roasting menjadi salah satu proses penting karena di sinilah karakter kopi dibentuk. Bagaimana kita mengolah biji kopi berdasarkan origin, varietas, dan proses pascapanennya akan menentukan hasil akhir yang disajikan kepada konsumen,” jelasnya.
Roasting Membuka Peluang Bisnis Kopi
Selain mengembangkan kompetensi, KIROC juga menjadi ruang untuk memperkuat ekosistem bisnis kopi nasional, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Rahmat, produk kopi sangrai memiliki peluang pasar melalui skema business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C).
Roaster dapat memasok kebutuhan kedai kopi, kafe, dan warung kopi, sekaligus mengembangkan produk dengan merek sendiri untuk dipasarkan langsung kepada konsumen.
Ia melihat kemampuan roaster Indonesia terus mengalami peningkatan. Antusiasme mengikuti kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta semakin banyaknya pelatihan roasting menjadi indikator berkembangnya keterampilan para pelaku industri.
Rahmat berharap kompetisi serupa semakin banyak diselenggarakan sehingga semakin terbuka kesempatan bagi roaster Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan memperkenalkan kopi Nusantara ke pasar yang lebih luas.
“Kami berharap kompetisi roasting di Indonesia semakin banyak diselenggarakan. Dengan semakin banyaknya ajang kompetisi, semakin banyak pula roaster yang berpartisipasi di tingkat nasional maupun internasional. Kualitas biji kopi Indonesia yang bagus juga bisa semakin dikenal melalui kreativitas para roaster,” ungkapnya.
Peserta: Konsistensi Menentukan Kualitas Kopi
Pengalaman mengikuti KIROC juga dirasakan Iry, peserta asal Surabaya. Ia mengaku mengikuti kompetisi tersebut untuk mengasah keterampilan sekaligus memperluas wawasan mengenai teknik roasting.
Iry mendapatkan golden ticket untuk mengikuti KIROC setelah berpartisipasi dalam kompetisi sebelumnya di Yogyakarta.
Kemampuannya berkembang melalui proses belajar secara otodidak, bertukar pengalaman dengan sesama pelaku kopi, serta mengikuti sejumlah kelas dan pelatihan di Bandung dan Jakarta.
Menurutnya, kompetisi ini memberikan pengalaman berbeda karena peserta harus bekerja dengan standar waktu, tahapan, dan target hasil yang telah ditentukan.
“Motivasi saya mengikuti lomba ini sebenarnya untuk mengasah skill. Kebetulan saya mendapatkan golden ticket dari acara sebelumnya. Di sini saya juga ingin belajar dan mendapatkan pengalaman baru dari teman-teman roaster lainnya,” kata Iry.
Dalam menjalankan usahanya, Iry memasok kopi sangrai kepada sejumlah kedai kopi dan pelaku usaha di Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Tulungagung, Madiun, hingga Magetan.
Ia menilai peluang bisnis kopi sangrai masih terbuka lebar. Namun, pelaku usaha harus mampu menjaga konsistensi kualitas sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku, terutama ketika permintaan pasar meningkat.
Ketersediaan stok biji kopi menjadi salah satu tantangan yang dihadapi, karena pasokan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan produksi.
Melalui KIROC 2026, Krista InterFOOD tidak hanya menghadirkan kompetisi keterampilan, tetapi juga mempertemukan potensi sumber daya manusia, produk kopi lokal, dan peluang bisnis dalam satu ekosistem industri.
Penguatan kemampuan roasting diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah kopi Indonesia, sekaligus memperbesar peluang produk kopi Nusantara bersaing di pasar nasional dan internasional.


Tinggalkan Balasan