Femindonesia.com, JAKARTA – ALLPack Indonesia Expo 2026 resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Selasa (20/10/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-25, pameran internasional yang digelar Krista Exhibitions ini menjadi salah satu platform bisnis dan teknologi untuk mendorong modernisasi industri pengolahan, produksi, dan pengemasan di Indonesia.
Pameran yang berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 tersebut mempertemukan pelaku industri, produsen mesin, penyedia teknologi, investor, asosiasi, serta pembeli dari berbagai negara. Ajang ini diharapkan memperluas peluang investasi dan kerja sama bisnis sekaligus meningkatkan daya saing industri manufaktur nasional di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan keberlanjutan.
Dalam sambutan pembukaan, Menteri Perindustrian M. Sarmuji mengapresiasi konsistensi Krista Exhibitions dalam menghadirkan pameran yang menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk mengenal perkembangan teknologi dan inovasi, khususnya di sektor makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, serta industri pengemasan.

Menurutnya, penyelenggaraan ALLPack Indonesia Expo 2026 menjadi momentum bagi pelaku industri untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi melalui penerapan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Industri Pengolahan Tumbuh, Peluang Bisnis Kemasan Terbuka
Dalam sambutannya, M. Sarmuji memaparkan sejumlah indikator kinerja industri pengolahan nonmigas pada 2026 yang menunjukkan perkembangan positif.
Berdasarkan data yang disampaikan, industri pengolahan nonmigas pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,32 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Dari sisi investasi, sektor industri mencatatkan nilai Rp102,88 triliun atau berkontribusi 38,9 persen terhadap total investasi nasional. Sementara itu, ekspor industri pengolahan nonmigas selama Januari–Agustus 2026 mencapai 82,40 persen dari total ekspor nasional.
Sebanyak 14 dari 15 subsektor industri pengolahan nonmigas juga tercatat mengalami pertumbuhan positif. Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor yang menunjukkan perkembangan dengan pertumbuhan 6,51 persen.
Perkembangan tersebut membuka peluang bagi industri pengemasan nasional. Meningkatnya aktivitas produksi dan distribusi mendorong kebutuhan terhadap mesin pengolahan, sistem pengemasan otomatis, bahan kemasan berkualitas, serta teknologi yang mampu menjaga keamanan produk dan efisiensi biaya.
Bagi pelaku industri, kondisi ini sekaligus mempertegas pentingnya investasi pada peralatan modern, peningkatan kapasitas produksi, dan inovasi produk agar mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.

Modernisasi Mesin Jadi Strategi Peningkatan Produktivitas
Transformasi teknologi menjadi salah satu aspek penting dalam memperkuat daya saing industri nasional. Pelaku usaha dituntut meningkatkan efisiensi proses produksi, menjaga konsistensi mutu, serta menyesuaikan kapasitas dan teknologi dengan kebutuhan pasar.
Dalam konteks tersebut, ALLPack Indonesia Expo 2026 menjadi ruang bagi perusahaan untuk membandingkan teknologi, mencari solusi operasional, dan menjajaki kemitraan dengan produsen mesin serta penyedia teknologi dari dalam dan luar negeri.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian juga mendorong modernisasi peralatan produksi melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan bagi sektor-sektor yang memenuhi persyaratan. Program tersebut mencakup sejumlah sektor, antara lain makanan dan minuman, hasil hutan, perkebunan, serta industri kecil dan menengah (IKM).
Dukungan terhadap modernisasi diharapkan membantu perusahaan meningkatkan produktivitas, memperbaiki efisiensi penggunaan sumber daya, serta memperkuat kemampuan bersaing di tengah perkembangan industri manufaktur global.

Kemasan Ramah Lingkungan dan Keamanan Pangan Jadi Perhatian
Selain efisiensi produksi, industri pengemasan menghadapi tuntutan untuk mengembangkan solusi yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah mendorong pengembangan green packaging, termasuk eksplorasi bioplastik sebagai salah satu alternatif bahan kemasan, dengan tetap memperhatikan karakteristik produk, keamanan, dan kelayakan penerapannya.
Penerapan prinsip ekonomi sirkular juga menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan dari limbah kemasan. Melalui pendekatan Extended Producer Responsibility (EPR), produsen didorong mengambil tanggung jawab lebih besar terhadap pengelolaan kemasan setelah digunakan konsumen, sesuai ketentuan yang berlaku.
Di sisi lain, standardisasi bahan kemasan tetap menjadi faktor penting, terutama untuk produk pangan. Dalam sambutannya, M. Sarmuji menyinggung Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 6 Tahun 2025 mengenai pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk kertas dan karton yang digunakan sebagai bahan baku kemasan primer pangan.
Penerapan standar bertujuan mendukung pemenuhan persyaratan mutu dan keamanan bahan kemasan agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan meningkatnya perhatian terhadap keamanan pangan, efisiensi biaya, dan keberlanjutan, perusahaan pengemasan dituntut mengintegrasikan inovasi material, desain, teknologi produksi, serta pengelolaan limbah dalam strategi bisnisnya.
Pemerintah juga terus mengupayakan iklim usaha yang kondusif melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk insentif perpajakan, tax allowance, preferensi tarif, pengaturan larangan dan pembatasan (lartas), serta fasilitasi perdagangan sesuai ketentuan yang berlaku.
Krista Exhibitions: Investasi dan Kolaborasi Jadi Ukuran Keberhasilan
President Director Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan ALLPack Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung kemajuan industri nasional melalui akses terhadap teknologi, inovasi, dan peluang kerja sama global.
“Industri manufaktur Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi internasional, tetapi sudah mampu menjadi produsen, inovator, dan eksportir teknologi industri,” ujar Daud.
Ia mencontohkan kemampuan sejumlah perusahaan Indonesia yang telah memproduksi mesin untuk industri air minum dan wafer. Produk mesin tersebut, menurutnya, telah digunakan oleh pelaku industri di dalam maupun luar negeri. Daud menilai kolaborasi dengan negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea menjadi bagian penting dalam memperkuat kapabilitas industri nasional serta mempercepat adopsi teknologi.
“Keberhasilan sesungguhnya dari ALLPack adalah seberapa besar investasi yang tercipta dan kerja sama bisnis yang terwujud,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pameran industri tidak hanya diukur dari jumlah peserta dan pengunjung, tetapi juga dari terbentuknya kemitraan, realisasi investasi, alih pengetahuan, serta peluang pengembangan pasar.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Krista Exhibitions menargetkan lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari lebih dari 30 negara selama empat hari pameran.
Integrasikan Pengemasan, Pengolahan, hingga Logistik
ALLPack Indonesia 2026 menghadirkan sejumlah pameran pendukung yang memperluas cakupan teknologi dan solusi industri, antara lain ALLPlas, ALLProcess, ALL Beverage Technology, IPEX, dan FoodTech Indonesia.
Rangkaian pameran tersebut mencakup teknologi plastik, proses produksi, teknologi minuman, percetakan, serta pengolahan pangan. Integrasi berbagai sektor memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk melihat perkembangan teknologi manufaktur secara lebih menyeluruh.
Pameran ini juga diperkuat dengan ALL Cold Chain yang menampilkan teknologi rantai pendingin, sistem penyimpanan berpendingin, dan solusi distribusi untuk produk yang memerlukan pengendalian suhu.
Sementara itu, Indonesia Maritime & Logistics Expo menghadirkan teknologi maritim, transportasi, pergudangan, dan logistik guna mendukung efisiensi distribusi serta memperkuat konektivitas rantai pasok.
Di sektor pertanian, ALL Agri Expo menampilkan mesin, peralatan, teknologi, dan solusi agribisnis yang mendukung proses produksi hingga pengolahan hasil pertanian.
Keterhubungan sektor pengemasan, pengolahan, penyimpanan, transportasi, dan distribusi membuka peluang kolaborasi lintas industri. Pelaku usaha dapat mencari teknologi sesuai kebutuhan operasional sekaligus menjajaki mitra strategis untuk memperkuat rantai pasok dan mengembangkan bisnis.
Diikuti 1.600 Peserta dari 42 Negara
Memasuki penyelenggaraan ke-25, ALLPack Indonesia 2026 menghadirkan lebih dari 1.600 peserta pameran dari 42 negara. Dengan target lebih dari 90.000 pengunjung bisnis dari lebih dari 30 negara, ajang ini diharapkan memperluas akses perusahaan Indonesia terhadap pasar, teknologi, dan jaringan bisnis internasional.
Kehadiran peserta lintas negara juga membuka ruang pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan mesin, otomasi, material kemasan, pengolahan pangan, serta sistem distribusi yang semakin terintegrasi.
Bagi perusahaan nasional, pameran ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk dan kemampuan manufaktur, mencari mitra teknologi, menjajaki investasi, serta membangun jaringan distribusi untuk memperluas pasar ekspor.
Di tengah persaingan manufaktur global, penguatan kolaborasi antara pemerintah, penyelenggara pameran, produsen, dan pengguna teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat transformasi industri.
ALLPack Indonesia Expo 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang transaksi bisnis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem manufaktur Indonesia yang produktif, inovatif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Pameran berlangsung pada 20–23 Oktober 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.


Tinggalkan Balasan