Femindonesia.com, JAKARTA – Bagi Amanda Caesa, sebuah karya tidak hanya berbicara melalui suara yang terdengar, tetapi juga melalui cerita yang disampaikan lewat visual. Musik dan seni visual menjadi dua medium yang saling melengkapi dalam mengekspresikan ide, perasaan, serta perspektif personalnya.

Berbekal pengalaman mempelajari desain grafis di Bristol, Inggris, Amanda memandang kreativitas sebagai ruang untuk membangun konsep, menyampaikan pesan tersirat melalui seni, sekaligus membentuk karakter sebuah karya tanpa kehilangan kejujuran sebagai penciptanya.

“Belajar graphic design bukan hanya belajar layout, gambar, atau milih-milih warna saja. Tapi ada proses kreatif di balik itu,” kata Amanda.


Tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan seni membuat Amanda akrab dengan dunia musik dan kreativitas sejak kecil. Ia mulai mengenal musik melalui les piano dan vokal, sebelum akhirnya belajar gitar secara otodidak.

Ketertarikannya terhadap seni juga mencakup berbagai bidang lain, mulai dari menggambar, melukis, merajut, hingga membuat karya pottery atau keramik.

“Apapun yang berhubungan dengan seni yang bisa aku tampilkan, dan pada akhirnya yang aku seriusin ada sisi seni musik aku. Lebih senangnya lagi, aku bisa menggunakan karya lagu aku untuk tetap tunjukin sisi artsy aku,” tuturnya.

Perjalanan Amanda sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu dimulai melalui single pertamanya, Even If You Aren’t There For Me, yang dirilis pada 2019. Meski kala itu masih diliputi keraguan terhadap kemampuan dirinya sendiri, Amanda terus berkarya dan mulai memadukan ketertarikannya pada desain grafis dengan identitas musik yang dibangunnya.

Keterlibatan tersebut terlihat dalam berbagai elemen visual yang menyertai karya-karyanya, mulai dari artwork hingga materi promosi. Baginya, visual bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari proses menyampaikan cerita dan memperkuat karakter sebuah karya.

Seiring berjalannya waktu, Amanda merasakan perubahan dalam cara memandang diri sendiri maupun hasil karyanya. Jika dahulu ia kerap diliputi keraguan, kini ia semakin berani menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan dalam proses kreatif.

“Amanda yang dulu mungkin penuh dengan ragu dan khawatir, namun seiring berjalannya waktu aku belajar untuk berani menyuarakan pendapatku saat mengerjakan musik. Hasilnya ternyata terasa lebih baik, lebih jujur untuk diriku maupun pendengar,” ujarnya.

Musik Menjadi Ruang untuk Mengenal Diri

Pengalamannya di Inggris turut membentuk cara Amanda memahami proses berkarya dan berekspresi. Baginya, ruang kreativitas tidak terbatas pada musik atau lirik yang diciptakan, tetapi juga mencakup bagaimana seorang musisi merepresentasikan diri dan menyampaikan perspektif kepada pendengar.

Setelah kembali ke Indonesia, Amanda mengaku menjadi lebih terbuka terhadap kolaborasi dan sudut pandang yang berbeda. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk terus belajar, bereksplorasi, serta menemukan pendekatan baru dalam bermusik.

Perkembangan itu juga terasa ketika Amanda menjalani proses rekaman. Kini, ia lebih percaya diri untuk mencoba berbagai pendekatan vokal sekaligus mengenali karakter suaranya sendiri. Baginya, proses tersebut membantu dirinya membangun hubungan yang lebih kuat dengan lagu yang dibawakan.

Keberanian untuk mengeksplorasi diri kemudian menjadi landasan bagi arah musikal Amanda selanjutnya. Melalui karya terbarunya, ia ingin memperlihatkan sisi personal yang selama ini belum sepenuhnya terungkap, baik melalui cerita maupun perspektif yang dihadirkan dalam musiknya.

“Aku ingin lebih jujur dalam menyampaikan perasaan, cerita, dan perspektif aku lewat lagu. Sebab musik bukan cuma soal menghasilkan lagu yang enak didengar, tapi juga tentang bagaimana aku bisa menyampaikan sesuatu yang personal dan membuat orang lain merasa terhubung dengan cerita yang aku bawa,” ungkapnya.

“Let the World Meet the Real Me”

Bagi Amanda, fase ini menjadi babak baru dalam perjalanan karier sekaligus perkembangan personalnya sebagai musisi. Ia ingin memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk tampil lebih utuh, tanpa harus terus dibayangi keraguan atau membatasi sisi kreatif yang ingin dieksplorasi.

Amanda menyebut fase tersebut sebagai “let the world meet the real me”. Ungkapan itu mencerminkan keinginannya untuk lebih berdamai dengan diri sendiri, memberikan kebebasan kepada sisi dirinya yang selama ini tertahan, serta terus membuka diri terhadap berbagai kemungkinan dalam bermusik maupun berkarya secara visual.

Ke depan, Amanda ingin terus mengeksplorasi musik tanpa terpaku pada satu genre atau cara bercerita tertentu. Di tengah beragam kemungkinan yang terbuka, ia tetap ingin menjadikan kejujuran sebagai fondasi dalam setiap karya yang dihasilkan.

Bagi Amanda Caesa, musik dan visual bukan sekadar dua elemen yang saling melengkapi. Keduanya merupakan medium untuk menyampaikan cerita tentang perjalanan mengenali diri, menerima berbagai sisi personal, dan menunjukkan jati dirinya secara lebih utuh kepada dunia.