Femindonesia.com, DEPOK – Konser musik bertema lingkungan yang dibawakan musisi legendaris Iwan Fals tidak hanya menjadi ajang hiburan, namun juga menjadi panggung edukasi. Hal itu terlihat di Panggung Kita, Markas Tiga Rambu, Leuwinanggung, Tapos, Depok, Sabtu (31/10/2026) sore.

Konser bertajuk ‘Menembus Awan’ dengan tema HIJAU tersebut dipadati penonton hingga sold out total. Tiket kategori Festival Merah, Festival Biru, VIP, hingga VVIP dilaporkan ludes terjual. Sekitar 5.000 penonton dari berbagai daerah tumpah ruah memadati area konser. Video berdurasi 28 detik yang direkam dari tengah kerumunan menunjukkan lautan manusia menghadap panggung bertuliskan HIJAU dengan lampu sorot putih yang menembus sore.

Momen haru terjadi di tribun VIP. Ibunda Iwan Fals hadir bersama group bernyanyinya memberikan support langsung. Di atas panggung, Iwan pun menyampaikan doa.


“Terima kasih sudah datang. Doa saya, yang datang ke sini sehat, pulangnya tambah sehat,” ujar Iwan Fals.
Setelah doa, ia melontarkan pernyataan keras “Tikus yang paling berbahaya itu bukan tikus di sawah, tapi tikus kantor, para koruptor,” tegasnya.

Sontak lagu legendaris *“Tikus-Tikus Kantor”* dibawakan. Ribuan penonton mengepalkan tangan dan bernyanyi lantang. Inilah semangat Bongkar yang sesungguhnya, membongkar kebusukan yang bersembunyi di balik meja dan stempel.

Sesuai dengan tema konser, lagu-lagu bertema lingkungan pun menjadi sajian utama. Bukan Bento atau Umar Bakri, melainkan peta kerusakan yang ia buat sejak puluhan tahun lalu. Lagu-lagu tersebut di antaranya *Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi* tentang alih fungsi hutan dan buldoser, *Sampah* tentang limbah plastik dan kaleng, *Hutanku Rusak* dengan lirik Langitku Bocor, Udara yang aku hisap tercemar, *Balada Orang Pedalaman* tentang masyarakat adat, *Esek Esek Udug Udug* tentang pencemaran sungai oleh limbah pabrik, *Panggilan Dari Gunung* tahun 1995 tentang gunung yang gundul, dan *Hijau* sebagai lagu andalan yang menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta polusi udara.

“Mari kita tetap menanam pohon dan menjaga kelestariannya, agar masa depan Indonesia lebih hijau,” ajak Iwan di sela penampilannya.

Di tengah ribuan penonton, edukasi juga hadir dari sisi lain. Organisasi Konsultan Malahayati hadir menyuarakan keresahan masyarakat terkait pinjaman online (pinjol) ilegal, judi online (judol), dan investasi bodong.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Owner Malahayati, Ujay, saat ditemui di booth Malahayati di area konser.

“Kami dapat kesempatan buka booth di sini. Konsernya luar biasa, 5 ribu orang. Temanya tentang hutan dan karhutla, lagunya lagu *Hijau*. Jadi sangat relevan dengan isu yang kami bawa,” ujar Ujay kepada awak media.

Menurut Ujay, keterlibatannya dalam konser Iwan Fals berawal dari kekagumannya sebagai penggemar. Kolaborasi antara Malahayati dan manajemen Iwan Fals pun sudah terjalin intens sejak kegiatan Malahayati yang digelar sebelumnya. Malahayati hadir sebagai respons atas banyaknya korban dari praktik pinjol ilegal, judol, dan investasi bodong yang kian meresahkan.

Jika di panggung Iwan Fals membongkar tikus kantor dan perusak hutan, di area booth Malahayati membongkar praktik yang menggerogoti ekonomi masyarakat.

Di akhir penampilan, setelah deretan lagu kritis, Iwan Fals menutup konser dengan lagu cinta. Lagu *Nona* dibawakan sebagai penutup, mengubah suasana yang tadinya mengepal menjadi pelukan.

Konser ditutup dengan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membuat acara berjalan lancar, kepada Kapolres Depok yang telah memberi izin diadakannya konser, kepada teman-teman dari Musika Studio, kepada Tiga Rambu selaku promotor, dan kepada ibunda yang hadir memberikan support.

Konser Menembus Awan pun berakhir pukul 17.40 WIB. Pesan tentang menjaga hutan dan edukasi untuk waspada terhadap pinjol ilegal, tikus koruptor dan judol pun terbawa pulang oleh 5.000 penonton.