Femindonesia.com, JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi termasuk dibidang percetakan yang semakin canggih, CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengingatkan pelaku industri agar tidak kehilangan unsur manusia di balik kesempurnaan mesin.

Pesan tersebut disampaikan Daud dalam konferensi pers ALLPRINT Indonesia 2026 di Gandaria City, Jakarta, Selasa (22/9/2026). Saat teknologi digital, otomasi, kecepatan produksi, hingga kemampuan mesin menghasilkan cetakan bertekstur menjadi perhatian utama, Daud justru mengajak pelaku industri melihat kembali akar dari proses kreatif: karya manusia.

“Digitalnya itu dari lukisan,” ujar Daud.

Menurut dia, perkembangan teknologi cetak saat ini telah memungkinkan mesin menghasilkan reproduksi yang semakin detail. Bahkan, sejumlah teknologi mampu menciptakan hasil cetak dengan efek timbul dan tekstur yang menyerupai karya yang dibuat menggunakan tangan.


Dalam kondisi tertentu, hasil reproduksi mesin bahkan dapat terlihat lebih sempurna dibandingkan karya aslinya. Namun, menurut Daud, ada satu hal yang belum tentu dapat direplikasi teknologi, yakni karakter dan rasa manusia.

Ia kemudian menganalogikannya dengan perbedaan antara batik tulis dan batik cetak “Yang membedakan batik tulis sama batik cetak itu kan ada rasa manusianya. Kalau mesin itu sama dengan AI,” kata Daud.

Daud juga mengambil contoh perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam industri musik. Teknologi AI saat ini dapat menghasilkan vokal dengan rentang nada yang sangat luas dan terdengar nyaris sempurna.

Namun, menurut dia, pendengar tetap dapat menemukan perbedaan antara suara yang dihasilkan manusia dan teknologi. “Kalau suara manusia, pasti tetap ada warna manusia. Ada imperfect-nya, ada naik turunnya. Kalau sudah pakai AI itu perfectional, perfect benar-benar. Tapi justru manusianya hilang,” ujarnya.


Analogi tersebut, lanjut Daud, juga relevan dengan perkembangan industri percetakan. Semakin tinggi kemampuan mesin dalam menghasilkan sesuatu secara presisi, semakin penting pula mempertahankan unsur kreativitas dan karakter manusia dalam proses produksi.

Refleksi tersebut menjadi salah satu pesan yang mengiringi penyelenggaraan ALLPRINT Indonesia 2026. Pameran internasional bidang percetakan itu akan berlangsung pada 7-10 Oktober 2026 di Hall B1, B2, B3, dan C3 JIExpo Kemayoran, Jakarta.

ALLPRINT Indonesia tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-27. Pameran tersebut menjadi salah satu ajang yang mempertemukan pelaku industri percetakan, packaging, tekstil, label, teknologi grafis, hingga penyedia perangkat lunak dan berbagai solusi pendukung industri.

Berdasarkan data yang disampaikan penyelenggara, industri percetakan Indonesia menunjukkan pertumbuhan sebesar 3,39 persen dengan pertumbuhan kumulatif mencapai 11,42 persen.


Sementara itu, sektor packaging disebut tumbuh hingga 20 persen dan textile printing mencapai 15 persen. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong perkembangan e-commerce dan aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

ALLPRINT Indonesia 2026 akan menghadirkan sekitar 400 peserta dari 10 negara, termasuk 20 UMKM. Pameran menempati area sekitar 23.000 meter persegi dengan target 60.000 pengunjung. Teknologi yang ditampilkan mencakup digital printing, packaging printing, teknologi karton box, tinta, software, serta berbagai solusi industri percetakan.

Penyelenggaraan juga berkolaborasi dengan sejumlah pameran dan program terkait, antara lain Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia.

“Industri percetakan saat ini berkembang sangat luas. Tidak hanya berbicara mengenai mesin dan teknologi cetak konvensional, tetapi juga digital printing, printing untuk kemasan, teknologi grafis, label, hingga berbagai solusi,” ujar Daud.

Selain mempertemukan produsen teknologi dan pelaku industri, ALLPRINT Indonesia 2026 juga membawa agenda edukasi bagi para profesional dan pelaku usaha. Sejumlah seminar akan digelar, di antaranya “Ready for 2027 and onward? The New Rules of Digital Textile Printing” serta “The Future of Carton Manufacturing: Smart Machines, Smart Solutions”. Agenda edukasi juga mencakup Eduprint Talkshow yang membahas sertifikasi halal dan kemasan.

Sementara itu, Musyawarah Nasional (Munas) XI PPGI turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. PPGI saat ini membawahi organisasi di 23 provinsi, mulai dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan industri percetakan tidak hanya berkaitan dengan investasi mesin dan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta pemahaman terhadap perubahan kebutuhan pasar.

Pada akhirnya, pesan Daud Salim menempatkan teknologi dan manusia bukan sebagai dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan sebagai dua unsur yang perlu berjalan bersama.

Mesin dapat mengejar tingkat presisi dan kesempurnaan yang semakin tinggi. Namun, kreativitas, karakter, dan sentuhan manusia tetap menjadi bagian penting yang memberikan identitas pada sebuah karya.

“Teknologi boleh semakin sempurna, tetapi rasa manusia tetap menjadi pembeda,” tutup Daud.