Femindonesia.com, Jakarta – Aktris senior Christine Hakim menyampaikan pesan tegas kepada pemerintah agar mengedepankan perlindungan, pembinaan, dan dialog dengan generasi muda.
Menurutnya, pemerintah seharusnya hadir sebagai orang tua yang melindungi anak-anaknya, bukan justru memosisikan mereka sebagai musuh.
Pesan tersebut disampaikan Christine saat konferensi pers film Laut Bercerita, adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang telah mencetak ulang hingga 120 kali. Film ini sebelumnya menjalani pemutaran perdana dunia (world premiere) di Busan, Korea Selatan, dan mengangkat kisah perjuangan mahasiswa dalam gerakan 1998.
Dalam kesempatan itu, Christine yang memerankan Ibu Wibisono mengungkapkan bahwa kekuatan ikatan emosional antara ibu dan anak menjadi salah satu pesan penting yang ingin disampaikan melalui film tersebut.
Meski tidak memiliki anak biologis, Christine mengaku bersyukur masih diberi kemampuan untuk mencintai dan menyayangi anak-anak dengan sepenuh hati.
“Saya tidak punya anak biologis, tapi saya bersyukur Tuhan masih memberikan kekuatan rasa buat saya untuk mencintai anak-anak. Di film ini, anak saya semua, dengan tulus dengan ikhlas,” ujar Christine dengan suara bergetar.
Bagi Christine, ikatan batin antara ibu dan anak merupakan hubungan mendalam yang tidak semestinya diputus oleh perbedaan pandangan maupun keputusan politik.
“Bapak bisa salah dalam mengambil keputusan. Tapi ikatan batin ibu dan anak itu tidak bisa diputus. Dari sejak janin sembilan bulan di dalam perut, ikatan itu sudah terjalin sampai manusia lahir sebagai generasi penerus,” tuturnya.
Ia menilai, di tengah berbagai persoalan yang dihadapi dunia saat ini, kekuatan, pengorbanan, dan peran perempuan semakin dibutuhkan untuk menjaga nilai kemanusiaan.
“Dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini amat sangat membutuhkan kekuatan, pengorbanan dan peran seorang ibu dan seorang perempuan,” katanya.
Pemerintah Diminta Melindungi Generasi Muda
Christine kemudian mengaitkan nilai keibuan tersebut dengan tanggung jawab pemerintah dalam memperlakukan generasi muda. Ia berharap negara mampu menjalankan peran sebagai pelindung sekaligus pembimbing, termasuk ketika anak-anak muda menyampaikan kritik atau memiliki pandangan berbeda.
“Kita bukan musuh. Kita sebagai orang tua, pemerintah sebagai orang tua, harus melindungi anak-anaknya. Harus melindungi generasi mudanya. Harus terus membimbing, memberikan apa yang mereka butuhkan, ingatkan kalau mereka salah,” tegasnya.
“Bukan dimusuhi.”
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pendekatan yang mengedepankan perlindungan, komunikasi, dan pembinaan dalam menghadapi dinamika generasi muda.
Dalam konteks Laut Bercerita, pesan itu juga berkelindan dengan kisah keluarga yang menanti kepulangan orang tercinta di tengah gejolak politik dan perjuangan mahasiswa pada 1998.
Film ini tidak hanya menampilkan sejarah gerakan mahasiswa, tetapi juga menghadirkan dampak kemanusiaan yang dirasakan keluarga, terutama orang tua yang kehilangan kepastian mengenai nasib anak-anak mereka.
Kebebasan Berpendapat dan Harapan Anak Muda
Pesan Christine turut diperkuat oleh Yoga Pratama, pemeran Arifin dalam film tersebut. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat yang dinikmati masyarakat saat ini merupakan bagian dari perjuangan panjang generasi sebelumnya.
“Kebebasan berpendapat yang kita nikmati hari ini dicapai oleh orang-orang seperti Biru Laut. Sayang sekali kalau apa yang sudah dicapai anak-anak muda ini sekarang kita sia-siakan dengan bersikap apatis,” ujar Yoga.
Sementara itu, Reza Rahadian, yang memerankan salah satu karakter penting dalam film tersebut, turut menjalani tantangan fisik dalam proses produksi, termasuk adegan menyelam hingga kedalaman tertentu untuk menggambarkan situasi dramatis dalam cerita.
Melalui film ini, kisah perjuangan anak muda sejak Sumpah Pemuda hingga gerakan mahasiswa 1998 kembali dihadirkan sebagai pengingat bahwa kebebasan, keberanian menyampaikan pendapat, dan harapan akan masa depan merupakan nilai yang perlu dijaga.
Pesan Christine Hakim pun melampaui batas layar lebar. Ia mengajak masyarakat, terutama para pemangku kebijakan, untuk melihat generasi muda sebagai bagian penting dari masa depan bangsa yang perlu dilindungi, didengar, dan dibimbing.
Sebab, sebagaimana seorang ibu yang selalu berharap anaknya pulang dengan selamat, negara pun semestinya menjadi tempat yang memberikan perlindungan dan harapan bagi generasi penerusnya.


Tinggalkan Balasan