Femindonesia.com, Jakarta – Horor eksorsisme Indonesia kembali hadir dengan skala produksi yang lebih besar melalui film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.

Disutradarai Rizal Mantovani dan dipersembahkan Paragon Pictures bersama Ideosource Entertainment, film ini membawa teror entitas kuno ke layar lebar sekaligus mengangkat pergulatan iman dan keraguan yang dialami para karakternya.

Berbeda dari film pertamanya, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah menghadirkan teror yang tak lagi terbatas pada satu keluarga. Kali ini, ancaman datang dari entitas kuno bernama Rephaim, yang disebut memiliki keterikatan dengan wilayah tempat mereka berada. Dampaknya pun meluas hingga mengancam keselamatan seluruh kota.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Selain layar reguler, penonton juga dapat menikmati pengalaman sinematik melalui format IMAX XXI, 4DX CGV, dan Magnify 8 Cinepolis.

Dua karakter utama dari film pertama, Romo Rendra yang diperankan Lukman Sardi dan Romo Thomas yang diperankan Jerome Kurnia, kembali menghadapi teror Kuasa Gelap. Namun, kali ini keduanya juga dihadapkan pada persoalan yang lebih personal, yakni keraguan terhadap iman mereka sendiri.

Cerita berpusat pada upaya menyelamatkan Daniel (Venly Arauna), seorang anak muda yang harus menanggung konsekuensi dari pilihan orang tua dan neneknya di masa lalu. Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi perjalanan spiritual bagi para karakter untuk menemukan kembali keyakinan mereka.

Penulis sekaligus produser Robert Ronny mengatakan film ini sengaja menghadirkan karakter yang dekat dengan persoalan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami selalu ingin membuat film yang relatable untuk penonton. Dengan kondisi Indonesia seperti sekarang ini saya yakin banyak orang yang akan merasa relate dengan karakter Halim yang merasa frustasi dan powerless, yang akhirnya kehilangan imannya,” ujar Robert Ronny.

Menurut Robert, film ini juga ingin mengingatkan penonton bahwa dalam situasi sulit sekalipun, manusia tetap memiliki jalan untuk kembali menemukan keyakinannya.

“Di film ini kami mencoba untuk mengingatkan bahwa Tuhan selalu ada untuk kita dan Tuhan selalu setia menunggu kita untuk kembali ke jalan-Nya,” katanya.

Sementara itu, sutradara Rizal Mantovani mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam film ini adalah menghadirkan teror dengan skala yang lebih luas.

“Di film ini, ada karakter yang membawa teror sangat besar, dari sebuah entitas kuno, bernama Rephaim. Rephaim sebenarnya terikat pada dominion (wilayah) lokasi tempat mereka berada. Sebab itu, di film ini, terornya bukan hanya pada satu keluarga tapi seluruh kota,” ujar Rizal.

Rephaim dalam cerita digambarkan sebagai entitas yang menuntut untuk disembah oleh manusia dengan kompensasi berupa nyawa. Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari pesan film mengenai konsekuensi dari setiap pilihan dan perbuatan manusia.

“Teror dengan skala besar inilah yang juga menjadi tantangan. Di film ini, Rephaim ingin disembah oleh manusia, dengan kompensasi berupa nyawa, dan ini akan selalu menjadi pengingat kita bahwa setiap perbuatan selalu akan ada konsekuensinya, termasuk dosa yang kita perbuat,” lanjut Rizal.

Lukman Sardi Hadapi Pergulatan Iman Romo Rendra

Bagi Lukman Sardi, kembali memerankan Romo Rendra memberikan pengalaman yang berbeda. Setelah tampil dalam film pertama, karakter tersebut kini mendapatkan eksplorasi cerita yang lebih mendalam, terutama mengenai masa lalu dan pergulatan batinnya.

Romo Rendra tidak hanya harus menghadapi teror Rephaim, tetapi juga berhadapan dengan keraguan terhadap iman yang selama ini menjadi pijakannya.

Lukman mengaku proses memerankan karakter tersebut turut membuatnya melakukan refleksi mengenai pengalaman manusia ketika berada dalam kondisi penuh keraguan.

“Penonton akan dibawa lebih dalam dengan cerita latar belakangnya Romo Rendra. Penonton akan diajak mengikuti bagaimana Romo Rendra harus menghadapi masa lalunya,” ujar Lukman Sardi.

Menurutnya, perjalanan Romo Rendra memperlihatkan bagaimana manusia dapat mengalami keraguan terhadap keyakinannya, terutama ketika menghadapi situasi yang sangat berat.

“Di momen-momen itulah saya juga berefleksi bahwa manusia kerap menemukan keraguan terhadap imannya, dan kita ragu akan Kuasa Tuhan. Film ini mengingatkan kita kembali betapa besarnya Kuasa Tuhan menyelamatkan kita dari keraguan,” katanya.

Hadir di IMAX, 4DX, dan Magnify 8

Selain cerita dan karakter, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga menawarkan pengalaman visual dan audio dengan skala produksi yang lebih besar.

Produser eksekutif Andi Boediman mengatakan kehadiran film ini dalam tiga format sinema premium menjadi bagian dari upaya membawa produksi film Indonesia ke level yang lebih luas.

“Tidak banyak film Indonesia yang bisa hadir sekaligus di IMAX, 4DX, dan Magnify 8. Ketiga format ini punya standar kualitas yang ketat, dan fakta bahwa Kuasa Gelap: Perjanjian Darah lolos dari ketiganya adalah pernyataan tentang ke mana produksi film Indonesia bisa pergi,” ujar Andi.

“Cerita Indonesia layak mendapat panggung terbesar,” lanjutnya.

Film ini disutradarai Rizal Mantovani, diproduseri Robert Ronny dan Prima Taufik, serta ditulis Robert Ronny bersama Andri Cahyadi.

Selain Lukman Sardi, Jerome Kurnia, dan Venly Arauna, film ini turut dibintangi Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra,dan Faiz Vishal.

Untuk memperkuat produksinya, Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment juga melibatkan sejumlah produser eksekutif, yakni Andi Boediman, Ardi Setiadharma, Arya Setiadharma, Acha Septriasa, Jerome Kurnia, Steven Sugianto, Vicky Saputra, dan Nelson Mok.

Film ini turut didukung Legacy Pictures, SRN, Virtuelines Entertainment, WOW Multinet Pictures, Mokster Films, dan Netzme Gateway.

Dengan perpaduan horor eksorsisme, konflik spiritual, serta pengalaman sinematik dalam format layar premium, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah siap membawa penonton menyaksikan teror Rephaim sekaligus mengikuti perjalanan Romo Rendra dan Romo Thomas menghadapi batas antara iman dan keraguan.