FEM Indonesia – Kaget! Begitu perasaan Kang Was saat kali pertama membuat stage di Istana Negara. Pasalnya selama menggeluti bidang rigging, pria bernama asli Wasis Waluyo ini selalu mengenakan celana pendek, asesori seperti kalung, anting dan gelang serta mengikat rambutnya dalam mengerjakan sebuah proyek.
Namun kelamaan ia pun memahami aturan yang diberlakukan di lingkungan Istana Negara.
“Soalnya dalam bekerja hampir enggak pernah pakai celana panjang. Di Istana saya pakai, bahan lagi. Rambut panjang enggak boleh diiket harus diurai. Asesoris dicopot, di Istana itu aja, masuknya ribet udah pasti. Kalau tato enggak masalah, bahkan banyak ditanya sama Paspamres itu tulisan apa sih. Bisa bacanya gak Mas, bisa karena saya orang Jawa. Yang bikinkan saya,” tuturnya di sela makan siang di Warung Tongseng Soto Pak Naryo, Techno Ciater, Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Sabtu (15/1).
“Ya awalnya kaget karena banyak banget pemeriksaan tapi lama kelamaan banyak Paspamresnya yang kenal,” tambah Kang Was lalu tersenyum.
Didampingi pelawak Ipartok Inyong, lelaki kelahiran Banjaranegara, Jawa Tengah itu mengaku sejak menggeluti bidang rigging pada 1998 telah banyak event yang menggunakan serta menyewanya. Mulai dari pameran-pameran, ASEAN Games 18, instansi pemerintah hingga Istana Negara. Bahkan pengerjaan tribun untuk upacara kenegaraan ditangani sejak 2014 sampai 2018.
“Itu pengerjaan tribun untuk acara 17 Agustus. Sumpah Pemuda, tamu Presiden, banyak sih. Di Kemenhan saat peresmian Patung Soekarno juga,” katanya.
Kini di bawah bendera 57 Production yang berdiri 2009, sejumlah event siap menanti kehandalan Kang Was dalam mengerjakan rigging dan hal lainnya yang berkaitan dengan itu. Padahal usahanya pernah terpukul dengan pandemic Covid-19 dan beberapa pegawai terpaksa di rumahkan. Namun bapak 4 anak ini yakin bisnis rigging kembali menggeliat di masa mendatang.
“Selama masa itu kita enggak ada pekerjaan. Jadi sebagian pekerja dirumahkan, sisinya tetap beraktifitas bersama dengan saya. Salah satunya jualan tisu. Dulu paling padat hampir tiap hari walau kecil, gede. Waktu pandemi awal ya hanya satu sebulan,” jelas laki-laki 38 tahun.
“Sudah membaik (rigging, red). Kalau sebulan 5 ampai 6 kali sudah ada. Kalau saat pandemi kan enggak ada sama sekali. Kalau pun ada bikin kurung batang karena diajak teman. Jadi bisnis peti mati tapi saya enggak berani, soalnya kayak nyumpahin orang mati,” sambung Kang Was yang mengerjakan 11 track test drive untuk event Toyota hanya 5 hari.
Sementara Ipartok Inyong mengaku mendukung apa yang dilakukan Kang Was, termasuk ikut menawarkan kepada pihak yang membutuhkan jasa rigging 57 Production.
“Saya itu temannya yang ikut bangga saja. Kalau saya kerjsama dengan dia itu bikin tisu dan distributor utamanya. Juga bantu-bantu marketing untuk vendor riggingnya ada EO yang butuh lewat saya jika butuh lighting, rigging, LCD, sound system, barikade, panggung dan lain-lain,” terangnya merendah. [foto/teks : denim]


Tinggalkan Balasan