FEM Indonesia, JAKARTA – Film horor fantasi terbaru berjudul Monster Pabrik Rambutresmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026. Film produksi Palari Films ini menghadirkan pendekatan berbeda dalam genre horor dengan menjadikan sistem kerja yang eksploitatif sebagai sumber kengerian utama.

Disutradarai oleh Edwin dan dibintangi Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Didik Nini Thowok, Sal Priadi, serta Kev, film ini menggabungkan unsur horor, thriller, surealisme, dan komedi absurd dalam latar sebuah pabrik rambut yang penuh misteri.

Menurut Edwin, film ini tidak sekadar menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton merefleksikan realitas dunia kerja yang kerap tidak manusiawi.

“Sistem kerja yang tidak manusiawi itulah monsternya. Yang mengeksploitasi mengeruk keuntungan pribadi, sementara yang dieksploitasi turut melanggengkan kondisi ini dengan menormalisasi lembur yang tidak manusiawi. Keduanya saling menopang sistem yang perlu kita kritisi,” ujar Edwin.

Sebelum tayang di Indonesia, Monster Pabrik Rambut telah lebih dahulu mencuri perhatian dunia melalui pemutaran perdananya di Berlinale 2026 dalam program Special Midnight. Film ini juga dijadwalkan berkompetisi di Festival Fantasia Montreal yang berlangsung pada 16 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Rachel Amanda, pemeran Putri, menilai tema yang diangkat film ini sangat dekat dengan kehidupan banyak pekerja.

“Dulu saya pun belum sadar bahwa kondisi kerja seperti itu adalah eksploitasi. Karena sistemnya sudah begitu, semua orang mewajarkan. Sama seperti di film ini, lembur dan begadang dianggap normal, padahal tidak,” katanya.

Ia menambahkan karakter Putri merepresentasikan banyak perempuan pekerja yang harus bertahan dalam kondisi sulit demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Sementara itu, Lutesha yang memerankan Ida menyoroti dampak kesehatan dari tekanan pekerjaan yang berlebihan.

“Kerja sampai sakit karena stres itu nyata dan tidak bisa dianggap sepele,” ujarnya.

Sebagai aktor sekaligus produser eksekutif, Iqbaal Ramadhan melihat cerita dalam film ini sebagai pengalaman yang relevan bagi hampir semua pekerja.

“Situasi-situasi horor di tempat kerja sangat mungkin terjadi, baik karena atasan yang keras, lingkungan kerja yang tidak sehat, maupun ekspektasi berlebihan yang mengorbankan kesehatan mental dan fisik pekerja,” ungkapnya.

Film ini juga menjadi debut layar lebar bagi Kev. Ia mengaku menemukan kedekatan personal dengan karakter Tohar yang kehilangan arah akibat terjebak dalam sistem kerja yang terus memburuk.

Di sisi lain, Sal Priadi yang memerankan Rudi mengaku keterlibatannya dalam proyek ini melahirkan lagu original soundtrack berjudul Kepala, Pundak, Kerja Lagi, yang menggambarkan kelelahan kerja yang telah lama dianggap wajar oleh masyarakat.

Selain mengangkat tema yang relevan, Monster Pabrik Rambut memiliki sejumlah keunikan. Film ini disebut sebagai film horor Indonesia tanpa sosok hantu atau setan sebagai sumber teror. Kengerian justru muncul dari realitas kehidupan kerja sehari-hari.

Film ini juga merupakan hasil ko-produksi lima negara, yakni Indonesia, Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis. Naskahnya ditulis bersama novelis Eka Kurniawan, sementara seluruh efek visual dalam film dibuat secara praktikal tanpa menggunakan CGI.

Edwin menjelaskan bahwa rambut dipilih sebagai simbol utama karena memiliki keterkaitan langsung dengan tekanan psikologis seseorang.

“Ketika kita stres, rambut rontok atau tiba-tiba memutih. Respons tubuh itu langsung terlihat dari rambut,” katanya.

Dengan pendekatan yang unik dan kritik sosial yang kuat, Monster Pabrik Rambuthadir sebagai salah satu film Indonesia yang menawarkan pengalaman horor berbeda sekaligus relevan dengan realitas kehidupan modern.