FEM Indonesia, Jakarta – Setiap anak memiliki potensi, minat, dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, dukungan orang tua menjadi bagian penting dalam membantu anak mengenali sekaligus mengembangkan keunggulan yang dimilikinya.

Dokter spesialis anak, dr. Shyrien Amalina, Sp.A, M.Sc, mengatakan orang tua memiliki peran penting dalam mengamati dan memahami potensi anak. Menurutnya, kemampuan anak tidak dapat diukur hanya dengan menggunakan satu standar yang sama.

“Ini semua siapa yang tahu? Orang tuanya, kan? Orang hanya bisa nilai. Kalau orang tuanya tidak bisa menilai, tidak mengevaluasi, dia tak akan pernah tahu harus mendukung anaknya ke mana. Jadi sangat penting,” ujar Shyrien.

Dokter yang berpraktik di RS Anugerah Pekalongan itu menjelaskan, dukungan orang tua dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengamati aktivitas anak, mendengarkan cerita mereka, serta memberikan kesempatan untuk mencoba berbagai hal baru.

Orang tua juga perlu mendampingi ketika anak menghadapi kesulitan dan menghindari kebiasaan membandingkan kemampuan anak dengan anak lainnya.

Selain stimulasi dan dukungan emosional, Shyrien menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi, khususnya bagi anak usia sekolah 7 hingga 12 tahun. Menurut dia, perkembangan saraf dan kemampuan kognitif anak membutuhkan asupan nutrisi yang mendukung proses tersebut.

“Semua itu butuh saraf yang saling berkomunikasi dan saling mendukung. Nah, itu yang kita penuhi dari nutrisi. Memori dan kognisi yang baik, itu yang kita penuhi dari AHA/DHA guna mendukung agar anak IQ-nya memiliki titik optimal yang bisa dicapai,” jelasnya.

Anak Tidak Harus Menjadi Juara dengan Cara yang Sama

Hal senada disampaikan Marketing Director Coffee & Health Food PT Mayora Indah Tbk., Haruman Rustandi. Ia menilai perhatian terhadap nutrisi perlu berjalan beriringan dengan dukungan terhadap minat dan kemampuan anak.

Menurut Haruman, setiap anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang lebih penting adalah orang tua mampu mengenali bidang yang disukai dan dikuasai anak, kemudian memberikan dukungan terhadap proses perkembangannya.

“Anak tidak harus menjadi juara dengan cara yang sama. Yang paling berarti adalah ketika orang tua mengenali apa yang disukai dan dikuasai anak lalu hadir untuk mendukung prosesnya,” kata Haruman.

Ia menambahkan, Champion hadir sebagai salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak. Champion disebut sebagai minuman cokelat yang diperkaya DHA, sehingga dapat menjadi bagian dari perhatian orang tua terhadap kebutuhan nutrisi anak usia sekolah.

Champion Siapkan Beasiswa Anak Juara

Sejalan dengan komitmen tersebut, Champion menghadirkan program Anak Juara Champion (AJC). Program ini memberikan kesempatan kepada anak-anak dengan beragam bakat untuk menunjukkan kemampuan dan keunggulan mereka di bidang masing-masing.

Melalui AJC, Champion ingin memberikan ruang bagi anak untuk berani menunjukkan potensi yang dimiliki, tanpa harus terpaku pada satu bentuk prestasi tertentu.

Haruman mengatakan, anak-anak terpilih dalam program tersebut nantinya akan memperoleh Beasiswa Anak Juara Champion sebagai bentuk dukungan terhadap masa depan dan pendidikan mereka.

Program ini sekaligus menjadi bagian dari pesan Champion, “Juara Enaknya, Juara Nutrisinya”, dalam mendukung kebutuhan anak usia sekolah.

“Harapan kami, Champion dapat menjadi salah satu pilihan bagi keluarga dalam memperhatikan asupan nutrisi anak, sejalan dengan dukungan yang mereka berikan setiap hari,” ujar Haruman.

Dengan demikian, keberhasilan anak tidak hanya dilihat dari pencapaian akademis, tetapi juga dari keberanian mereka mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki. Dukungan orang tua serta pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi bagian dari proses tersebut.