FEM Indonesia — Menyambut bulan suci Ramadan 2026, dunia musik Indonesia kembali dihadirkan pada momen kolaborasi lintas zaman yang sarat makna melalui perilisan ulang lagu legendaris Ketika Tangan dan Kaki Berkata.
Lagu ini hadir dalam versi duet antara Cakra Khan dan almarhum Chrisye, menghadirkan dialog emosional antara generasi, spiritualitas, dan nilai kemanusiaan yang tetap relevan hingga kini.
Karya monumental yang pertama kali dirilis pada 1997 tersebut dikenal sebagai salah satu lagu paling reflektif dalam katalog Chrisye. Liriknya lahir dari puisi mendalam karya sastrawan Taufiq Ismail yang terinspirasi dari Surat Yasin ayat 65, mengangkat tema pertanggungjawaban manusia atas perbuatannya. Pesan itu disampaikan secara lirih namun menghunjam, menjadikan lagu ini bukan sekadar karya musik, melainkan ruang perenungan spiritual yang abadi.
Proses penciptaannya pun menyimpan kisah emosional. Taufiq Ismail pernah mengungkapkan bahwa Chrisye memberikan ruang waktu agar lirik benar-benar menyatu dengan komposisi musik. Pada malam Jumat menjelang tenggat, puisi tersebut menemukan bentuk utuhnya dan langsung menghadirkan keselarasan batin yang dirasakan oleh Chrisye.
Momen rekaman menjadi salah satu fase paling mengharukan. Chrisye disebut tak kuasa menahan air mata saat menyanyikan liriknya, merasa begitu terhubung dengan pesan lagu. Dengan ketulusan penuh, rekaman diselesaikan hanya dalam satu kali pengambilan tanpa retake — sebuah pencapaian yang mempertegas kedalaman emosional karya tersebut.
Lebih dari dua dekade kemudian, lagu ini hadir kembali dalam format duet yang mempertemukan suara khas Cakra Khan dengan rekaman asli Chrisye. Kolaborasi ini bukan hanya menghadirkan dimensi musikal baru, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap warisan musik Indonesia.
Cakra Khan mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam proyek ini. Baginya, berduet lintas waktu dengan Chrisye merupakan pengalaman spiritual sekaligus artistik yang sulit digambarkan dengan kata-kata, terlebih lagu tersebut memiliki makna mendalam dalam konteks Ramadan.
Perilisan ulang ini juga dilengkapi video musik sinematik garapan sutradara Rizal Mantovani. Pengambilan gambar dilakukan di GD Sasana Krida Desa, Bumi Perkemahan Cibubur, dengan konsep visual yang menonjolkan kesunyian, refleksi, dan kedalaman spiritual.
Melalui kolaborasi ini, Ketika Tangan dan Kaki Berkata kembali menegaskan posisinya sebagai karya lintas generasi yang tak lekang oleh waktu. Lagu ini bukan hanya pengingat akan keagungan karya Chrisye, tetapi juga bukti bahwa musik mampu menjembatani masa lalu dan masa kini dalam satu ruang emosional yang sama. [Foto: Dok. MyMusic Records & Musica Studios]


Tinggalkan Balasan