Femindonesia.com, JAKARTA — Batuk dan pilek menjadi keluhan kesehatan yang kerap muncul ketika terjadi perubahan cuaca. Namun, gejala yang dialami setiap orang tidak selalu sama sehingga pemilihan penanganan, termasuk melalui swamedikasi, perlu dilakukan secara bijak.

Berangkat dari hal tersebut, Actifed bersama Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) menggelar acara edukasi yang melibatkan sekitar 100 apoteker serta tenaga kesehatan. Kegiatan ini mengajak masyarakat, khususnya keluarga dan mereka yang berperan sebagai perawat anggota keluarga, untuk lebih memahami gejala sebelum menentukan langkah penanganan.

Momentum tersebut sekaligus menjadi bagian dari peluncuran modul edukasi “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self-Care” yang dikembangkan Actifed bersama IAI.

Modul tersebut ditujukan untuk membantu apoteker memberikan edukasi dan konseling kepada masyarakat terkait keluhan batuk dan pilek, penggunaan obat secara bertanggung jawab, serta mengenali kondisi yang membutuhkan konsultasi medis lebih lanjut.

Perubahan cuaca menjadi salah satu alasan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan pernapasan. Berdasarkan informasi BMKG, musim hujan di Indonesia diperkirakan mulai berlangsung pada bulan-bulan terakhir 2026. Sejumlah literatur kesehatan juga menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dapat berpengaruh terhadap mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan dan kerentanan terhadap infeksi.

General Manager Haleon Indonesia, Dhanica Mae Dumo-Tiu, mengatakan edukasi kesehatan menjadi bagian dari upaya Haleon untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam merawat kesehatan sehari-hari.

“Di Haleon, tujuan kami untuk menghadirkan solusi kesehatan sehari-hari yang lebih baik dengan kemanusiaan, melampaui sekadar menyediakan produk-produk terpercaya. Komitmen ini juga mencakup upaya membantu masyarakat memberikan pengetahuan dan membangun kepercayaan diri yang mereka butuhkan dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan,” ujar Dhanica.

Ia menambahkan, melalui Actifed, informasi mengenai swamedikasi batuk dan pilek diupayakan agar lebih mudah dipahami masyarakat, terutama ketika keluarga perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan cuaca.

Apoteker Berperan dalam Edukasi Swamedikasi

Dalam praktik swamedikasi, apoteker memiliki peran penting sebagai salah satu sumber informasi kesehatan yang mudah diakses masyarakat. Konsultasi dengan apoteker dapat membantu konsumen memahami keluhan yang dialami dan mempertimbangkan penanganan yang sesuai.

Dr. apt. Lusy Novianti, MM, penulis modul sekaligus Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, mengatakan masyarakat masih kerap menentukan obat atau penanganan berdasarkan pengalaman sebelumnya maupun rekomendasi orang lain.

Menurutnya, cara tersebut belum tentu sesuai karena kondisi setiap individu dapat berbeda, termasuk karakteristik dan tingkat keparahan gejalanya.

“Kami sering menjumpai orang yang telah menentukan sendiri obat atau penanganan medis berdasarkan kebiasaan pribadi sebelumnya atau rekomendasi orang lain saat mengalami gangguan kesehatan umum, khususnya flu, batuk, pilek, atau masalah pernapasan ringan lainnya,” kata Lusy.

Melalui modul yang dikembangkan bersama Actifed dan IAI, apoteker diharapkan memiliki panduan tambahan untuk memberikan konseling sekaligus membantu mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan saran medis lebih lanjut.

Sementara itu, dr. Ikhsanuddin Qoth’i, dokter umum, menjelaskan bahwa batuk dan pilek dapat memiliki karakteristik, intensitas, dan durasi yang berbeda pada setiap orang.

Karena itu, masyarakat dianjurkan memperhatikan perkembangan gejala dari waktu ke waktu. Gejala yang menetap atau semakin parah, maupun yang disertai tanda peringatan tertentu, dapat menjadi alasan untuk mendapatkan perhatian medis.

“Dengan mengenali perubahan gejala sejak dini, pasien dapat lebih memahami kapan perawatan swamedikasi tepat untuk dilakukan dan kapan saatnya mencari saran dari tenaga kesehatan profesional atau dokter spesialis,” jelasnya.

Edukasi untuk Keluarga

Kesadaran mengenali gejala juga dinilai penting bagi orang tua maupun anggota keluarga yang sehari-hari membantu merawat anggota keluarga lainnya.

Kreator konten sekaligus pembawa acara siniar Curhat Bapak Ibu, Nucha Bachri, mengatakan perubahan cuaca dan padatnya aktivitas keluarga membuat kesiapan menghadapi gangguan kesehatan ringan menjadi penting.

“Sebagai seorang ibu, saya berusaha untuk selalu siap siaga dan memerhatikan berbagai gejala yang mungkin dialami anggota keluarga saya. Memiliki informasi yang lengkap membantu kami dalam mengambil keputusan yang lebih baik serta melakukan langkah penanganan yang sesuai saat ada anggota keluarga yang mulai merasa kurang sehat,” ujar Nucha.

Selain modul edukasi bagi apoteker, Actifed juga memperkenalkan kampanye “Beda Gejalanya, Beda Warnanya”. Kampanye ini diarahkan untuk membantu konsumen memahami gejala batuk dan pilek sebelum menentukan pilihan perawatan melalui swamedikasi.

Senior Brand Manager OTC Haleon Indonesia, Anindita Pranawestri, mengatakan kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya Actifed menyederhanakan informasi kesehatan agar lebih mudah dipahami masyarakat.

“Melalui ‘Beda Gejalanya, Beda Warnanya’, kami ingin membantu konsumen memahami gejala mereka dengan lebih baik dan mengambil keputusan swamedikasi yang lebih tepat, khususnya terkait kesehatan pernapasan sehari-hari,” ujar Anindita.

Ia berharap informasi yang lebih sederhana dan mudah diakses dapat membantu masyarakat lebih percaya diri dalam merawat kesehatan diri sendiri maupun keluarga.

Haleon sebagai produsen Actifed juga menyebut upaya peningkatan literasi kesehatan dilakukan melalui berbagai kolaborasi dengan tenaga profesional kesehatan dan komunitas farmasi, antara lain melalui HISFARMA, IPEC, webinar SwipeRx, program edukasi apoteker, serta IAI.

Di sisi konsumen, edukasi juga dilakukan melalui platform TikTok Actifed, berbagai konten kesehatan, serta kolaborasi dengan Good Doctor dan Guardian.

Melalui rangkaian edukasi tersebut, masyarakat diingatkan bahwa mengenali gejala menjadi langkah awal sebelum menentukan pilihan swamedikasi, sekaligus mengetahui kapan keluhan membutuhkan konsultasi dengan tenaga kesehatan.