Femindonesia.com, JAKARTA – Warna tidak lagi sekadar menjadi elemen visual dalam desain. Melalui The Lounge by CASA di Art Jakarta 2026, CASA Indonesia mengajak pengunjung merasakan warna sebagai bagian dari pengalaman ruang melalui tema “CHROMA”.

Hadir pada 2–4 Oktober 2026 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta, The Lounge by CASA menghadirkan empat interpretasi desain dari empat studio, yakni Studio Talk, K-Thengono Design Studio, Rumanara, dan Spatial Sonata.

Tema CHROMA mengangkat warna sebagai fondasi yang membentuk ruang, atmosfer, emosi, sekaligus cara pengunjung berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam empat pendekatan, yaitu DECLARATION, EXPRESSION, DIMENSION, dan ILLUSION.

Managing Editor CASA Indonesia, Raisa Benaya Ranti, mengatakan kehadiran The Lounge by CASA tahun ini menjadi semakin istimewa karena melibatkan lebih banyak desainer dengan karakter dan pendekatan yang berbeda.

“Lewat The Lounge by CASA, kami ingin terus menjadi ruang bagi para arsitek dan desainer Indonesia untuk bereksperimen dan menerjemahkan idenya ke dalam bentuk yang bisa dirasakan, bukan hanya dilihat. Kali ini kolaborasi kami semakin besar, melibatkan empat expert dengan warna dan karakter yang berbeda-beda,” ujar Raisa.

Konsep CHROMA juga mengambil inspirasi dari permainan LUDO yang sederhana dan akrab. Inspirasi tersebut diterjemahkan menjadi empat area dengan karakter visual yang berbeda, namun tetap terhubung melalui benang merah warna dan pengalaman ruang.

Pada area DECLARATION, Studio Talk menghadirkan karakter desain yang berani, grafis, dan kuat. Studio yang berbasis di Jakarta dan Bali tersebut mengolah warna merah melalui bentuk skulptural, permainan cahaya, serta flooring checker board yang sekaligus menjadi pembagi zona dining corner, lounge corner, dan kids corner.

“Studio Talk selalu mengusung fun, playful, dan family friendly. Saat diajak berkolaborasi dengan CASA untuk warna merah yang bold, dramatic, dan graphic, kami terinspirasi dari konsep board game Ludo itu sendiri,” kata Studio Talk.

Sementara itu, EXPRESSION dihadirkan K-Thengono Design Studio melalui eksplorasi warna kuning yang ceria. Studio yang didirikan desainer Kelvin Thengono ini mengangkat konsep Gravity as a Sculpture yang terinspirasi dari childhood memory.

Ruang tersebut memanfaatkan bentuk bed fortress berbahan waste fabric yang dirangkai dengan gravitasi. Pengunjung juga diajak memasuki dua karakter ruang berbeda, mulai dari area yang lebih intim dan remang hingga ruang yang dikompresi secara horizontal untuk membentuk sebuah imaginary world.

Berikutnya, DIMENSION menjadi wilayah eksplorasi Rumanara yang menghadirkan warna hijau dengan inspirasi alam. Pendekatan ini terinspirasi dari lukisan Green Wheat Field with Cypress karya Vincent van Gogh serta konsep backyard yang dekat dengan suasana santai.

Pendiri Rumanara, Dwi Andika, menghadirkan ruang seperti taman dengan paviliun yang memungkinkan pengunjung duduk, berbincang, sekaligus menikmati karya seni. Elemen arsitektur, interior, produk, lanskap, dan seni dipadukan dalam satu kesatuan ruang.

“Kami ingin menghadirkan ruang yang terasa seperti taman dengan paviliun, tempat orang bisa duduk, ngobrol, dan menikmati karya seni,” ujar Dwi.

Adapun pendekatan ILLUSION diterjemahkan Spatial Sonata melalui warna biru dan konsep controlled chaos. Dipimpin Eric Ekaputra dan Ilka Jovita, studio ini mengeksplorasi bentuk kabinet yang kemudian dipecah menjadi panel, rak, permukaan, dan struktur untuk dirangkai kembali menjadi komposisi spasial baru.

Kabinet yang biasanya hadir sebagai furnitur kemudian berkembang menjadi bagian dari arsitektur, membentuk dinding, partisi, display, hingga area duduk.

“Kami membawa warna biru untuk illusion di The Lounge by CASA, dengan ide controlled chaos, sebuah box yang awalnya rapi lalu explode dan mengubah behavior ruangnya,” tutur Eric dan Ilka.

Direktur MRA Media, Mita Soedarjo, mengatakan kehadiran CASA Indonesia di Art Jakarta menjadi bagian dari upaya memperluas percakapan mengenai arsitektur, desain, dan perkembangan industri kreatif di Indonesia.

“Melalui The Lounge by CASA di Art Jakarta 2026, peran tersebut kami bawa ke dalam sebuah pengalaman yang mempertemukan berbagai perspektif desain melalui tema CHROMA,” kata Mita.

Menurutnya, kehadiran empat studio dengan pendekatan berbeda menunjukkan bagaimana sebuah media dapat menjadi ruang untuk mempertemukan ide, karya, desainer, komunitas, dan audiens yang lebih luas.

Melalui CHROMA, The Lounge by CASA tidak menawarkan satu definisi tunggal mengenai warna. Empat area yang hadir justru memperlihatkan bagaimana warna dapat diterjemahkan menjadi bentuk, atmosfer, kedalaman, emosi, hingga ilusi.

Eksplorasi tersebut sekaligus menegaskan posisi desain sebagai pengalaman yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh setiap pengunjung.