Femindonesia.com, TOKYO — The Weeknd resmi membuka babak terakhir tur stadion fenomenalnya, After Hours Til Dawn Stadium Tour, dengan dua pertunjukan berturut-turut di Belluna Dome, Tokyo, Jepang, pada 19 dan 20 September 2026.
Dua konser tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian tur Asia The Weeknd. Dengan total 17 pertunjukan, rangkaian ini menjadi bagian penutup dari perjalanan panjang After Hours Til Dawn Stadium Tour sekaligus kesempatan terakhir bagi penggemar untuk menyaksikan produksi konser tersebut sebelum tur bersejarah itu berakhir.
Pada malam pembukaan di Tokyo, The Weeknd menghadirkan penyanyi Jepang Yoko Takahashi dalam penampilan spesial membawakan “A Cruel Angel’s Thesis”, lagu ikonik yang dikenal sebagai tema pembuka anime Neon Genesis Evangelion.
Pertunjukan tersebut juga menjadi debut lagu baru The Weeknd yang menampilkan Takahashi. Penampilannya dilengkapi visual karya Yoko Taro yang memadukan elemen dari NieR dan Neon Genesis Evangelion.
Selama sekitar dua jam, The Weeknd membawakan sejumlah lagu populernya, di antaranya “Popular”, “One of the Girls”, “Less Than Zero”, “Out of Time” bersama Tomoko Aran, “Kiss Land”, hingga “Blinding Lights”.
Duo hip-hop Jepang Creepy Nuts dan DJ ¥ØU$UK€ ¥UK1MAT$U turut tampil dalam pembukaan rangkaian konser tersebut. Keduanya juga dijadwalkan menjadi special guests pada sejumlah tanggal sepanjang tur Asia.
Sentuhan Seni Jepang
Rangkaian tur Asia ini turut menghadirkan sejumlah elemen produksi yang lahir dari kolaborasi The Weeknd dengan seniman dan desainer ternama Jepang.
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah patung raksasa karya seniman Jepang Hajime Sorayama yang berdiri di tengah panggung. Patung tersebut memiliki tinggi sekitar 12 meter atau 40 kaki, lebih dari dua kali lipat ukuran patung yang digunakan dalam rangkaian tur sebelum 2026.
Karya tersebut dibuat secara khusus dan disebut menjadi karya seni rupa berukuran terbesar yang pernah dihadirkan dalam sebuah produksi konser live.
Patung itu dipahat secara manual dari busa polistirena oleh para pengrajin Jepang di Toyama. Setelahnya, patung dilapisi sejumlah lapisan cat aluminium berkilau tinggi hingga menghasilkan tampilan emas.
Bagian mata patung dilengkapi pencahayaan laser, sementara efek asap keluar dari telapak tangannya sehingga menjadikannya salah satu elemen visual utama dalam pertunjukan.
Produksi konser juga menampilkan karya seniman kontemporer Jepang Tetsuya Nakamura melalui topeng yang dikenakan The Weeknd di atas panggung.
Kolaborasi The Weeknd dan Nakamura telah berlangsung sejak 2023, ketika sang seniman merancang topeng, mikrofon, serta penyangga mikrofon berwarna krom perak.
Kolaborasi itu kemudian berkembang melalui desain topeng dan armor yang dikerjakan bersama Sorayama. Untuk tur 2026, Yohji Yamamoto POUR HOMME turut menciptakan sejumlah busana panggung khusus untuk The Weeknd.
Tujuh Tahun Setelah Kunjungan Terakhir
Konser Tokyo menjadi bagian dari rangkaian aktivitas menyambut kembalinya The Weeknd ke Jepang untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Menjelang konser, The Weeknd tampil di empat sampul GQ Asia. Dalam wawancara tersebut, ia mengungkapkan tengah mengerjakan versi remaster album debutnya yang terinspirasi Jepang, Kiss Land (2013).
Ia juga menegaskan belum memiliki rencana untuk berhenti bermusik.
“The Weeknd isn’t going anywhere,” ujarnya.
Antusiasme terhadap kembalinya The Weeknd juga terasa di berbagai penjuru Tokyo. Pop-up store After Hours Til Dawn hadir sebagai takeover tiga lantai pertama di Universal Music Store Harajuku.
Gerai tersebut menghadirkan merchandise eksklusif, instalasi tur, rilisan musik khusus, serta koleksi After Hours Til Dawn yang dirancang oleh Yoshitaka Amano.
Seibu Railway juga menghadirkan kereta yang dihiasi visual tur dan karya Amano yang beroperasi di seluruh kota sebagai bagian dari perayaan kembalinya The Weeknd ke Jepang.
Pada 18 September, Tokyo Tower turut diterangi warna hijau khas Kiss Land, sehari sebelum The Weeknd tampil dalam dua konser yang telah terjual habis di Belluna Dome.
Jakarta Jadi Kota Berikutnya
Kesuksesan rangkaian konser Eropa dan Inggris 2026 menjadi modal penting sebelum tur memasuki babak terakhir di Asia.
Rangkaian tersebut menghasilkan pendapatan lebih dari US$345 juta dan dihadiri lebih dari 2,3 juta penggemar dalam 42 pertunjukan sepanjang musim panas.
Tur itu juga mengumpulkan lebih dari US$2,2 juta untuk United Nations World Food Programme (WFP) dan Global Citizen.
Sementara itu, After Hours Til Dawn Stadium Tour menempati posisi teratas Billboard July Boxscore dengan pendapatan lebih dari US$120 juta dan penjualan hampir 900.000 tiket hanya dalam satu bulan, Juli 2026.
Setelah Tokyo, The Weeknd akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Pelantun “Blinding Lights” tersebut dijadwalkan tampil pada 26 dan 27 September 2026 di Jakarta International Stadium (JIS).
Dari Jakarta, tur berlanjut ke Singapura, Seoul, Bangkok, Hong Kong, dan Kuala Lumpur.
Rangkaian Asia yang semula diumumkan dengan 11 pertunjukan stadion kemudian berkembang menjadi 17 pertunjukan karena tingginya antusiasme penggemar. Jadwal tersebut mencakup tiga malam di Bangkok dan empat malam di Hong Kong, serta sejumlah pertunjukan di kota-kota lainnya.
Sejak dimulai pada 2022, After Hours Til Dawn Stadium Tour telah membawa The Weeknd tampil di Amerika Utara, Eropa, Inggris, Amerika Latin, dan Australia. Sejumlah wilayah bahkan kembali disambangi untuk kedua kalinya.
Tahun lalu, tur tersebut mencatat pendapatan global lebih dari US$1 miliar setelah penambahan jadwal 2026 di Eropa, Inggris, dan Amerika Latin. Dengan lebih dari 7,5 juta tiket terjual dari 153 pertunjukan, tur ini tercatat sebagai tur berpendapatan tertinggi sepanjang masa oleh solois pria.
Melalui rangkaian 2026, The Weeknd juga melanjutkan kemitraannya dengan Global Citizen untuk mendukung akses terhadap pendidikan berkualitas bagi anak-anak di berbagai belahan dunia melalui FIFA Global Citizen Education Fund.
Ia juga meneruskan kemitraan jangka panjang dengan United Nations World Food Programme (WFP). Dana yang terkumpul akan mendukung XO Humanitarian Fund serta upaya WFP dalam merespons krisis kelaparan global.


Tinggalkan Balasan