Femindonesia.com, JAKARTA — Film Indonesia kembali mendapat ruang di panggung internasional. Ibuku (My Mother) karya sutradara Eddie Cahyono terpilih dalam program Competition atau kompetisi utama Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 yang berlangsung pada 6–15 Oktober 2026 di Busan, Korea Selatan.
Film produksi bersama Indonesia dan Jepang tersebut akan menjalani world premiere di BIFF 2026 dan bersaing dengan 13 film lainnya dari berbagai negara Asia.
Ibuku (My Mother) mengangkat kisah Sumiati, diperankan Christine Hakim, seorang ibu yang berjuang untuk menemui putrinya, Sri (Ayushita), yang dijatuhi hukuman mati di penjara Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya.
Di balik perjuangan seorang ibu untuk bertemu anaknya, film ini perlahan membuka luka lama dalam hubungan keduanya. Eddie Cahyono juga membawa isu buruh migran, perempuan, serta hak asasi manusia melalui pendekatan yang lebih personal dan emosional.
Menariknya, perjalanan Ibuku (My Mother) menuju Busan bukanlah proses singkat. Film tersebut telah dikembangkan Eddie sejak 2015, ketika proyeknya terpilih dalam Asian Project Market Busan dan meraih ARTE Kino International Award untuk pengembangan naskah.
Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada 2024, proyek tersebut akhirnya mendapatkan lampu hijau untuk diproduksi. Pada tahap itu, aktris Tika Bravani bergabung sebagai produser melalui ANP Talenta Media.
Proyek ini kemudian kembali dipresentasikan dalam sejumlah pasar industri film, di antaranya JAFF Market dan Bangkok International Content Market. Dari perjalanan tersebut, Ibuku (My Mother) memperoleh tambahan pendanaan sekaligus penghargaan.
Bagi Tika Bravani, cerita tentang ibu dan anak dalam film tersebut memiliki kedekatan emosional tersendiri.
“Ibu itu sangat personal, tapi juga sangat universal buat semua orang,” ujar Tika.
Sebagai seorang ibu, Tika mengaku merasa langsung terhubung dengan cerita yang dikembangkan Eddie. Kisah tersebut juga mengingatkannya pada sosok sang ibu yang telah meninggal dunia.
Nekat Menghidupkan Kembali Seluloid 16mm
Selain ceritanya, Ibuku (My Mother) memiliki keputusan artistik yang cukup berani. Eddie Cahyono memilih menggunakan format seluloid 16mm untuk keseluruhan produksi.
Pilihan tersebut terbilang tidak lazim untuk produksi film panjang Indonesia saat ini. Penggunaan kamera analog, ketersediaan stok film, proses pengiriman, hingga biaya produksi menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Tika, keputusan menggunakan seluloid merupakan keinginan Eddie sejak awal.
“Kalau pakai digital, mendingan enggak usah dibuat,” kata Tika, menirukan pernyataan Eddie.
Pilihan tersebut bukan sekadar persoalan teknis. Format seluloid digunakan Eddie untuk menerjemahkan gagasan tentang ingatan ke dalam bahasa visual. Gambar yang dihasilkan diharapkan dapat menghadirkan kesan seperti memori manusia yang terkadang terasa jelas, tetapi pada saat bersamaan juga samar.
Tantangan produksi semakin besar karena kamera analog dan stok film 16mm semakin sulit ditemukan. Namun, proses tersebut akhirnya terbantu dengan hadirnya fasilitas pemrosesan film analog di Movie Studio Bali.
Fasilitas tersebut menjadi salah satu solusi penting bagi produksi film berbasis seluloid di Indonesia. Sebelumnya, proses serupa harus dilakukan dengan mengirimkan rol film ke Jepang atau Taiwan.
Ibuku (My Mother) pun menjadi salah satu film panjang pertama yang menjalani proses penuh di fasilitas tersebut.
Christine Hakim dan Ayushita Jadi Kekuatan Utama
Kehadiran Christine Hakim menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan Ibuku (My Mother). Eddie Cahyono disebut sejak awal menginginkan aktris senior tersebut untuk memerankan karakter Sumiati.
Keinginan tersebut sempat menjadi tantangan bagi Tika sebagai produser, terutama karena jadwal Christine Hakim yang sangat padat. Pada tahun produksi, sang aktris juga terlibat dalam sejumlah proyek film lainnya.
Namun, kesepakatan lama antara Eddie dan Christine untuk bekerja sama akhirnya dapat diwujudkan melalui Ibuku (My Mother).
Ayushita kemudian dipercaya memerankan Sri, putri Sumiati. Selain berakting, Ayushita juga disebut memberikan dukungan kepada Tika dalam menjalani pengalaman pertamanya sebagai produser.
Film ini turut menghadirkan aktor senior Landung Simatupang.
Bagi Tika, produksi Ibuku (My Mother) menjadi pengalaman belajar yang sangat besar. Sebelumnya dikenal sebagai aktris, proyek ini sekaligus menjadi langkah pertamanya di balik layar sebagai produser.
Bekerja bersama Eddie Cahyono yang dikenal melalui film Siti (2014) membuat Tika harus beradaptasi dengan pola kerja dan pengalaman Eddie yang telah panjang di dunia perfilman, khususnya festival internasional.
“Untungnya beliau juga berlatar belakang dosen, jadi beliau membimbing saya dengan sabar,” tutur Tika.
Indonesia Bawa Empat Film ke BIFF 2026
Keberhasilan Ibuku (My Mother) menembus kompetisi utama BIFF 2026 menjadi bagian dari pencapaian penting perfilman Indonesia di festival tersebut.
Selain film Eddie Cahyono, Indonesia juga diwakili Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) karya Yosep Anggi Noen yang turut berkompetisi dalam program Competition.
Sementara itu, Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini masuk program A Window on Asian Cinema. Film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta juga menjadi bagian dari representasi Indonesia di BIFF tahun ini.
Christine Hakim bahkan tercatat terlibat sebagai pemain dalam tiga dari empat film Indonesia yang lolos seleksi BIFF 2026.
BIFF 2026 juga menjadi edisi penting bagi festival tersebut setelah memperoleh pengakuan status A-list dari Federasi Internasional Asosiasi Produser Film (FIAPF). Status tersebut sebelumnya hanya dimiliki sejumlah festival film dunia, termasuk Cannes, Berlin, Venesia, Sundance, dan Toronto.
Bagi Tika Bravani, keikutsertaan Ibuku (My Mother) dalam kompetisi utama BIFF bukan hanya menjadi pencapaian bagi film tersebut, tetapi juga menjadi pengalaman penting dalam langkah pertamanya sebagai produser.
Ia berharap film tersebut dapat bertemu dengan penonton yang tepat dan menyampaikan kisah tentang kasih seorang ibu yang tetap bertahan, bahkan ketika hubungan antara ibu dan anak telah dipisahkan oleh luka serta masa lalu.


Tinggalkan Balasan