FEM Indonesia – Kolaborasi antar musik dengan sepak bola pertama kali terjadi pada penyelenggaraan World Cup 1962 di Chili.

Saat itu, Iagu “El Rock de Mundial” berlirik bahasa Spanon yang dinyanyikan Los Rambles, dan mendapat sambutan luar biasa dari publik dunia.

Boleh jadi saat itu juga musik dan sepakbola bersanding menjadi sebuah peradaban. Tak dapat dipungkiri, perjalanan waktu lebih dari setengah abad hingga saat ini, telah menjadikan musik dan sepak bola sebagai identitas kemajuan sebuah negara.

“Saya sangat mengikuti perkembangan dua bidang industri besar ini, dimana musik dan sepak bola adalah bagian yang tak terpisahkan. Anthem (Iagu official) dijadikan penyemangat pemain tim sepak bola dan para suporter bola sudah menjadi trend,” kata Rahayu Kertawiguna, Rabu (5/10/2022).

Perkembangan klub-klub sepak bola di Indonesia, tentu menjadi peluang bagi para musisi daerah yang ingin mengawinkan karya Iagu mereka sebagai official song atau semacam anthem bagi salah satu klub di daerahnya.

“Saya percaya, ada peluang di segmen atau market ini, sehingga para musisi daerah dapat berkolaborasi dengan klub-klub sepak bola di daerahnya. Saat ini, komunitas olah raga massa besar ini punya bisnis yang bisa dikelola secara kreatif entertainment ” tambahnya.

Kini jelas CEO Nagaswara ini, bahwa masyarakat dunia termasuk Indonesia menjadikan sepak bola bagian dari hiburan. Seperti industri musik, sepak bola juga punya banyak penggemar fanatik dan memiliki banyak cerita di dalamnya.