FEM Indonesia Taiwan, Jakarta – Direktur Utama PT. Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), Bernardino Monangka Vega mengatakan kemampuan membuat keputusan atau pilihan yang bijak, khususnya terkait finansial menjadi modal penting untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Hal itu dikatakan Bernardino pada media gathering dan halal bil halal bertema “Pilihan Bijak untuk Masa Depan Lebih Baik”, di Harbitate, Rasuna Said, Jakarta, Senin (29/4/2024).
Menurutnya, setiap keputusan finansial yang dibuat akan berdampak signifikan baik untuk pembuatan keputusan, orang-orang di sekitarnya, bahkan dalam tataran yang lebih luas, atau bisa berdampak pada kondisi perekonomian suatu negara.
Berdasarkan data Asosisi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) per Juli 2023, terdapat credit gap sebesar Rp 1.650 triliun. Hal ini lantaran kebutuhan kredit tahunan yang mencapai Rp 2.650 triliun, sementara industri jasa keuangan konvensional hanya mampu menopang Rp 1.000 triliun. Untuk itulah industri fintech lending hadir di Indonesia, termasuk AdaKami sebagai salah satu penyelenggaranya.
“Kami hadir untuk berkontribusi memenuhi gap antara kebutuhan dan ketersediaan pendanaan yang ada, khususnya pada masyarakat unbanked dan underserved,” ujar Bernardino.
“Kami juga memiliki fokus lain yang tak penting yakni kualitas pendanaan yang disalurkan. Ini sesuai dengan komitmen kami untuk membantu memenuhi mimpi jutaan masyarakat Indonesia lewat penyediaan akses keuangan berkualitas, khususnya bagi masyarakat unbanked dan underserved,” katanya.
Ditambahkan oleh Jonathan Kriss selaku Brand Manager AdaKami bahwa pihaknya sampai tanggal 29 April 2024 telah menggelontorkan dana senilai Rp 4,66 triliun kepada 4,22 juta nasabah.
Ia mengatakan walaupun AdaKami berupaya membantu masyarakat lewat akses keuangan berkualitas, ternyata seringkali menghadapi beragam tantangan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mencari celah dari masih rendahnya tingkat literasi keuangan dan digital masyarakat.
Jonathan menemukan sejumlah modus yang kerap dilakukan untuk mengambil keuntungan secara ilegal dari masyarakat, seperti pencatutan nama AdaKami, mengklaim sebagai sebagai tim AdaKami melakukan pengiriman dana ganda, dan membuat akun media sosial palsu atau mengaku sebagai customer service.
Para pelaku menyasar pengguna yang mengalami kesulitan pada saat melakukan pembayaran, menyalah gunakan data pribadi, meretas akun pengguna lewat pengiriman kode OTP atau link mencurigakan, menjanjikan hadiah yang menggiurkan, dan lain sebagainya.
“Semua itu adalah tindakan gratis atau penipuan yang kami temukan dan perlu kita waspadai bersama lewat peningkatan literasi keuangan dan digital. Dengan demikian, kita bisa secara proaktif mengenali ciri-ciri potensi fraud dan menghindarinya,” pungkas Jonathan. [rudipurwoko]


Tinggalkan Balasan