FEM Indonesia, JAKARTA – Setelah lebih dari dua dekade mewarnai industri musik Tanah Air, The Changcuters resmi merilis album studio ketujuh bertajuk Wow Ma pada 17 Juni 2026.

Menariknya, di album terbaru ini, band yang digawangi Tria, Qibil, Dipa, Alda, dan Erick mengaku sudah tidak lagi menjadikan status lagu hit sebagai target utama.

Hal tersebut disampaikan para personel The Changcuters dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (25/6/2026).

Bassist The Changcuters, Dipa, mengatakan bahwa selama lebih dari 20 tahun berkarya, mereka selalu menciptakan musik berdasarkan pengalaman dan selera pribadi, tanpa berupaya mengikuti tren yang sedang berkembang.

“Selama lebih dari 20 tahun berkarya, kami selalu membuat musik yang kami suka dan yang kami alami saat ini. Tidak pernah memaksakan diri untuk selalu relevan dengan keadaan,” ujar Dipa.

Menurut Dipa, album Wow Ma menjadi momentum bagi The Changcuters untuk kembali ke akar bermusik mereka. Lagu-lagu dalam album tersebut dibuat dengan aransemen yang lebih sederhana agar mudah dimainkan saat tampil di atas panggung.

Sebagai band independen, The Changcuters kini juga memiliki keleluasaan lebih besar dalam menjalani proses kreatif, mulai dari rekaman hingga tahap mastering.

“Di album ini kami benar-benar kembali ke asal. Kami ingin membuat lagu yang mudah dimainkan di panggung, lebih sederhana, tanpa harus terlalu rumit,” katanya.

Meski kini berstatus independen, Dipa menegaskan bahwa sejak awal karier mereka tidak pernah merasa dibatasi dalam menciptakan karya, termasuk ketika masih berada di bawah naungan label besar.

Sementara itu, Qibil mengungkapkan bahwa The Changcuters sebenarnya sudah lama tidak memikirkan formula untuk menciptakan lagu yang meledak di pasaran. Bahkan, menurut Dipa, lagu “Main Serong” menjadi salah satu karya terakhir mereka yang benar-benar meraih popularitas besar.

Qibil menambahkan, sejak album ketiga, band pelantun “Racun Dunia” tersebut sudah berhenti menjadikan status hit sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah karya.

“Kalau kami, sudah berhenti memikirkan lagu ini akan jadi hit atau tidak sejak album ketiga. Kami sudah tidak terlalu peduli soal itu,” ujar Qibil.

Bagi The Changcuters, yang terpenting saat ini adalah menghadirkan musik yang lahir dari ketulusan serta pengalaman hidup yang sedang mereka jalani.

“Kami semua memang pencinta musik. Jadi yang kami lakukan adalah berusaha membuat musik yang enak didengar dan jujur dengan diri kami sendiri,” tuturnya.

Qibil menilai, menciptakan lagu semata-mata demi menjadi hit justru merupakan target yang terlalu muluk. Karena itu, The Changcuters memilih untuk tetap fokus berkarya secara jujur dan menikmati setiap proses bermusik yang mereka jalani.

Selain itu, bagi The Changcuters, popularitas bukan lagi ukuran utama keberhasilan sebuah album. Jika ada lagu yang diterima luas oleh masyarakat dan menjadi hit, mereka menganggapnya sebagai bonus.