Femindonesia.com, Jakarta – Yayasan Peduli Anak Indonesia (YAPENA) dibawah kepemimpinan aktris senior Erna Santoso kembali menggelar Konferensi Lintas Pemuda dan Pemudi bertajuk The Golden Rule di MAN 13 Jakarta, Jagakarsa, Rabu (29/7).
Kegiatan menjadi ruang edukasi bagi para pelajar untuk memperkuat nilai toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan di tengah keberagaman agama dan kepercayaan di Indonesia.
Konferensi tersebut menghadirkan para perwakilan 6 agama dan kepercayaan yang hidup di Indonesia adalah dari Agam Islam: KH. Syarif Hidayatullah, M.Pd., Kristen: Pdt. Samuel Martinus Riwu. Hindu: I Wayan Sarjana. Khonghucu: Chandra Natawijaya. Buddha: Romo Eddy Sastro dan Aliran Kepercayaan Sunda Buhun: Ki Bambang Sumantri.

Selain itu dari MAN 13 Dra.Yessy Anwar (Inisiator toleransi beragama), Sekolah MAN 13 JKT (Golden rule interfaith youth conference), Sekolah MAN 13 JKT (Inspirator toleransi beragama & perdamaian dunia), serta Tokoh toleransi perdamaian dunia : Princess Natasha Dematra.
Deklarator Toleransi Beragama : Abdul Latief dari SKN, hj Sri Mulyaningsih (Golden rule interfaith youth conference), Komite Man 13 : Nurlaila Jamilah (Golden rule interfaith youth conference) dan Inspirator Toleransi Perdamaian: Lelly Maria Johanna.
Acara dimulai dengan prosesi melepaskan burung merpati sebagai simbol perdamaian, lalu deklarasi perdamaian dan dialog terbuka, para peserta diajak memahami bahwa perbedaan merupakan kekuatan yang dapat mempererat persatuan bangsa.

Ketua YAPENA, Erna Santoso, mengatakan para tokoh agama yang hadir tidak hanya memperkenalkan ajaran masing-masing, tetapi juga membangun ruang dialog yang menekankan pentingnya penghormatan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Anak-anak dari berbagai latar belakang agama berbaur bersama para guru, tokoh agama, dan para ibu dari berbagai komunitas. Mereka belajar bahwa perbedaan adalah kekuatan yang harus dijaga,” ujar Erna.
Selama kegiatan berlangsung, para siswa tidak hanya menyimak paparan dari masing-masing narasumber, tetapi juga menyaksikan dialog lintas agama yang berlangsung hangat dan penuh keakraban. Diskusi tersebut memberikan pemahaman bahwa keberagaman merupakan kekayaan bangsa yang dapat memperluas cara pandang, bukan menjadi sumber perpecahan.

Sebagai simbol komitmen menjaga perdamaian, para tokoh lintas agama bersama para pelajar melepaskan burung merpati ke langit. Momen tersebut menjadi representasi harapan agar nilai-nilai toleransi terus tumbuh dan mengakar dalam kehidupan generasi muda Indonesia.
Executive Director Visions of Peace Initiative, Princess Natasha Dematra, menjelaskan bahwa Konferensi Lintas Agama merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan secara bergilir di berbagai daerah. Setelah sebelumnya digelar di Bali dan Solo, tahun ini MAN 13 Jakarta dipilih karena dinilai berhasil menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan konsisten mengembangkan pendidikan karakter berbasis keberagaman.
“Sekolah MAN 13 Jakarta ini dipilih karena dinilai memiliki lingkungan sekolah yang terbuka dan memberikan dukungan penuh terhadap pendidikan karakter berbasis toleransi,” kata Natasha.

Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan kegiatan serupa pada tahun sebelumnya menjadi salah satu alasan konferensi kembali digelar di MAN 13 Jakarta. Pihak sekolah juga berharap kolaborasi dengan YAPENA dapat terus berlanjut melalui berbagai program yang memperkuat semangat persaudaraan dan toleransi di kalangan pelajar.
Kepala MAN 13 Jakarta Selatan, Yessy Anwar, menyampaikan pesan bahwa seluruh peserta hadir dengan satu tujuan yang sama, yaitu menjadi manusia yang mampu membawa kedamaian bagi sesama. Ia mengungkapkan rasa bangga karena MAN 13 Jakarta Selatan dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan konferensi yang penuh makna tersebut.
Menurutnya, madrasah bukan hanya tempat menuntut ilmu pengetahuan dan ilmu agama, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, cinta kasih, serta perdamaian. Ia menekankan bahwa madrasah mengajarkan peserta didik menjadi pribadi yang kokoh dalam keimanan sekaligus mulia dalam akhlak.

Beliau juga menyampaikan bahwa semakin kuat keyakinan seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa hormatnya kepada sesama manusia. “Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hebat, tetapi dunia membutuhkan lebih banyak orang yang mampu menghadirkan kedamaian,” ungkapnya.
Yessy Anwar berharap konferensi ini mampu melahirkan persahabatan yang tulus, memperkuat persatuan bangsa, serta menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi terwujudnya Indonesia yang damai, rukun, dan penuh kasih.
Sementara Wakil Ketua YAPENA Indonesia, Sumarni Padil, mengungkapkan antusiasme para siswa menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, peserta yang berasal dari MAN 13 Jakarta maupun sekolah lain aktif mengikuti setiap sesi, termasuk mengajukan berbagai pertanyaan kepada para narasumber.

“Karena antusiasnya para siswa ikut memberikan dukungan melalui pertanyaan di luar jangkauan kami kepada para wakil narasumber di acara ini. Saya melihat para siswa juga mampu memahami dan mendalami ajaran agama masing-masing,” ujarnya.
Sumarni menilai interaksi yang terjalin antarpeserta menunjukkan bahwa dialog lintas agama dapat menjadi sarana efektif untuk membangun saling pengertian di kalangan generasi muda.
Sementara Erna Santoso bersama tim Yapena, ERICA DAMAYANTI, Mulyati, YASMA, SHARTATI, SMULIARTI, Surtati, TEGUH dan EKA ALUVE menegaskan bahwa tema The Golden Rule bukan sekadar slogan, melainkan prinsip universal yang mengajarkan setiap orang untuk memperlakukan sesama sebagaimana dirinya ingin diperlakukan.

“Melalui kegiatan ini, YAPENA berharap semakin banyak ruang perjumpaan yang mempertemukan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Sebab, toleransi tidak hanya dipelajari melalui teori, tetapi juga dibangun melalui pengalaman saling mengenal, berdialog, memahami, dan menghormati satu sama lain,” tuturnya.
Melalui penyelenggaraan konferensi di MAN 13 Jakarta, YAPENA kembali menegaskan bahwa persatuan Indonesia lahir dari kemampuan masyarakat untuk hidup berdampingan dalam keberagaman. Dengan membuka ruang dialog sejak usia sekolah, diharapkan lahir generasi yang mampu menjaga harmoni dan memperkuat persatuan di tengah kemajemukan bangsa.


Tinggalkan Balasan