Femindonesia.com JAKARTA – Film Ibadah & Cinta resmi tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 12 September 2026. Dibintangi Achmad Megantara dan Indah Permatasari, film ini menawarkan kisah yang tidak berhenti pada romansa, tetapi membawa penonton pada refleksi tentang cinta, keluarga, keimanan, kehilangan, dan keikhlasan.

Mengangkat kehidupan yang dekat dengan keseharian, Ibadah & Cinta mengajak penonton memahami bahwa mencintai seseorang bukan sekadar tentang memiliki. Ada kalanya cinta juga berarti menjaga, menerima ujian, hingga belajar melepaskan ketika keadaan mengharuskan.

Menariknya, perjalanan film ini bermula dari sebuah cerita sederhana yang berkaitan dengan Pesantren Darunnajah.

“Film ini lahir dari buah manggis. Dari hal kecil tapi maknanya dalam banget,” ungkap produser saat jumpa pers, Sabtu (12/9/2026) di Jakarta.

Bagi sang produser, film tersebut juga memiliki ikatan emosional dengan pengalaman pribadinya. Kisah tentang seorang anak yang pergi mengejar cita-cita seperti karakter Samsul menjadi salah satu alasan mengapa proyek ini terasa begitu personal.

“Ini relate dengan hidup saya. Anak saya pamit untuk mengejar cita-citanya seperti karakter Samsul. Kita butuh film yang membawa kebajikan, bukan hanya hiburan. Target kami 3 juta penonton,” ujarnya.

Menjaga Sebelum Kehilangan

Sutradara Rendy Gunawan menempatkan hubungan antarmanusia sebagai salah satu kekuatan utama Ibadah & Cinta. Menurutnya, film ini ingin mengingatkan penonton agar tidak terlambat menyadari arti kehadiran orang-orang yang mereka cintai.

“Harapannya setelah nonton, kita bisa lebih erat dan lebih menyayangi orang tersayang. Sebelum kehilangan itu menghampiri. Karena pada akhirnya kehidupan itu soal meninggalkan dan ditinggalkan,” ujar Rendy.

Salah satu karakter yang dianggap memiliki kedekatan dengan realitas kehidupan adalah sosok Ayah. Karakter tersebut digambarkan keras dari luar dan memiliki gengsi, tetapi menyimpan kasih sayang yang begitu besar terhadap keluarganya.

Konflik antara sikap yang terlihat dengan perasaan yang sebenarnya menjadi bagian dari perjalanan emosional film.

Ketika Iman dan Cinta Bertemu

Tema keimanan menjadi salah satu elemen penting dalam Ibadah & Cinta. Film ini berusaha mempertemukan persoalan cinta dengan perjalanan spiritual para karakternya.

Mathias Muchus melihat keberanian film dalam membawa tema tersebut sebagai sesuatu yang relevan bagi penonton.

“Film seperti ini penting. Mengingatkan kita bahwa cinta tanpa ibadah itu kosong,” katanya.

Elma Theana juga mengaku tersentuh setelah membaca naskah Ibadah & Cinta. Menurutnya, film tersebut memiliki kehangatan yang dapat membawa penonton kembali mengingat hubungan mereka dengan keluarga.

“Ini film yang hangat. Bikin kita pengen langsung peluk orang tua setelah nonton,” ujar Elma.

Sementara Adhin Abdul Hakim menilai film ini memiliki relevansi kuat dengan kehidupan anak muda.

“Naskahnya kuat. Dialognya ngena. Ini film yang dibutuhkan anak muda zaman sekarang,” tuturnya.

Pengalaman berbeda dirasakan Berlliana Lovell selama menjalani proses produksi. Berakting di lingkungan pesantren membuatnya mendapatkan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan sebagai pemain.

“Syuting di pesantren bikin saya belajar banyak. Tentang sabar, ikhlas, dan arti keluarga,” ungkap Berlliana.

Chemistry Achmad Megantara dan Indah Permatasari

Achmad Megantara dan Indah Permatasari menjadi pasangan utama dalam Ibadah & Cinta. Keduanya mengaku chemistry sebagai pasangan dalam cerita justru semakin terbentuk ketika menjalani proses syuting di Melbourne.

“Reading masih PDKT. Tapi chemistry kita dapat pas syuting di Melbourne. Yang paling berkesan itu main, jalan-jalan, bercanda sama santri,” kata keduanya.

Namun, pengalaman Achmad dalam film ini tidak hanya berkaitan dengan peran dan proses membangun chemistry. Film tersebut juga memiliki makna personal karena ia mendedikasikannya untuk sang ayah yang telah meninggal dunia.

“Film ini spesial untuk almarhum Ayah aku,” ucap Achmad dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Indah Permatasari, tantangan terbesar justru muncul ketika harus menghadirkan emosi dalam adegan tentang kehilangan dan keikhlasan.

“Yang paling berat itu mengikhlaskan. Hidayah itu kita yang harus cari, bukan menunggu. Semakin dekat dengan Tuhan, ujiannya akan semakin berat,” ujar Indah.

Pesan film kemudian dirangkum melalui dialog sederhana dari karakter Ustadz Salman.

“Cinta itu sederhana seperti air,” tuturnya.

Pada akhirnya, Ibadah & Cinta tidak hanya menawarkan kisah tentang dua insan yang jatuh cinta. Film ini mencoba membawa penonton pada pertanyaan yang lebih dalam: sudahkah kita menghargai orang-orang yang hadir dalam hidup sebelum kehilangan benar-benar datang?

Karena terkadang, seseorang baru memahami betapa berharganya sebuah kehadiran setelah tidak lagi bisa menggenggamnya.

Melalui kisah tersebut, Ibadah & Cinta mengajak penonton untuk pulang dari bioskop bukan hanya dengan kesan terhadap sebuah cerita, tetapi juga dengan keinginan untuk lebih dekat dengan Tuhan, keluarga, dan orang-orang yang dicintai.

“Nonton bareng orang yang kamu cintai,” ajak para pemain.