Femindonesia.com, JAKARTA — Persoalan ekonomi dan sulitnya menjalani kehidupan menjadi latar cerita film terbaru Imajinari, Operasi Pesta Copet. Film yang menandai debut penyutradaraan Edy Khemod tersebut menghadirkan kisah empat anak muda yang nekat mencopet di tengah kerumunan festival musik Pestapora karena terdesak keadaan.

Dibintangi Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, serta vokalis Sisitipsi, Fauzan Lubis, film ini tidak sekadar mengandalkan aksi pencopetan sebagai sumber komedi. Di balik cerita tersebut, Operasi Pesta Copet mencoba menggambarkan keresahan anak muda yang ingin memiliki kehidupan lebih layak, tetapi harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi dan kondisi sosial.

Film ini memadukan komedi dengan drama persahabatan yang dekat dengan keseharian. Imajinari, yang selama ini dikenal dengan karya-karya komedi, mencoba menghadirkan pendekatan berbeda melalui cerita yang lebih eksploratif dan menyentuh persoalan sosial.

Produser Imajinari, Ernest Prakasa, mengatakan salah satu hal yang membuat film tersebut menarik adalah gagasan tentang pencopet yang beraksi di sebuah konser musik.

“Tidak mudah untuk bisa mendapatkan cerita yang fresh. Menurut Imajinari, Operasi Pesta Copet punya ide dan cerita yang sangat unik dan autentik,” ujar Ernest.

Menurut dia, film tersebut berangkat dari pertanyaan sederhana sekaligus menggelitik: apakah para pelaku pencopetan di konser merupakan pencopet yang mempelajari skena musik, atau justru anak musik yang belajar mencopet?

Ernest berharap perpaduan komedi dan drama dalam film ini dapat menjadi hiburan bagi masyarakat di tengah situasi kehidupan yang tidak selalu mudah.

Mengedepankan Empati

Sebagai sutradara, Edy Khemod memilih pendekatan yang tidak menghakimi karakter-karakter dalam film. Ia justru menempatkan empati sebagai salah satu fondasi utama dalam mengembangkan cerita.

Edy mengatakan film ini tidak dibuat untuk mengglorifikasi tindakan kriminal ataupun menggambarkan kemiskinan secara berlebihan. Cerita lebih diarahkan untuk mengajak penonton memahami alasan dan situasi yang membuat para karakter mengambil keputusan tersebut.

“Alih-alih menghakimi apa yang dilakukan oleh Ijal dan geng copetnya, kami ingin mengajak penonton untuk bisa menaruh empati dan merasakan apa yang mereka alami,” kata Edy.

Ijal, karakter yang diperankan Iqbaal Ramadhan, menjadi salah satu pusat cerita. Bagi Iqbaal, karakter tersebut merepresentasikan anak muda yang memiliki mimpi, tetapi tidak mempunyai privilese dan dukungan keluarga yang cukup untuk mengejar kehidupan seperti yang diinginkannya.

“Setelah aku mengenal Ijal, dia tidak jauh berbeda dengan kita. Dia juga anak muda yang punya mimpi. Yang membedakan Ijal dan kita, dia tidak dilahirkan di keluarga yang bisa menopang dia dengan segala privilese untuk berada di titik seperti kita sekarang,” ujar Iqbaal.

Menurut Iqbaal, perjalanan Ijal juga memperlihatkan persoalan ketidakadilan yang masih dihadapi sebagian kelompok masyarakat.

“Ijal termasuk orang-orang yang lahir dari kelompok marginal, yang memang terpinggirkan oleh sistem dan struktur. Menurutku, itu adalah cermin ketidakadilan yang masih terus ada di Indonesia,” katanya.

Pengalaman Syuting di Tengah Kerumunan Pestapora

Bagi Kawai Labiba, keterlibatannya dalam Operasi Pesta Copet menjadi pengalaman berbeda. Aktris yang sebelumnya lebih banyak tampil dalam film drama tersebut harus menjalani adegan pencopetan di tengah kerumunan penonton Pestapora.

Kawai mengaku merasakan campuran gugup dan antusias ketika harus menjalani proses syuting di tengah suasana festival musik yang dipadati penonton.

“Perasaan khawatir dan excited bercampur ketika aku harus syuting di tengah kerumunan penonton Pestapora. Bagaimana tetap fokus mendengarkan brief, tetapi juga siap melakukan aksi pencopetan,” ujar Kawai.

Sementara itu, Kristo Immanuel memerankan Adut, sosok yang cenderung mengikuti keadaan dan tidak banyak berpikir panjang ketika diajak Ijal melakukan aksi pencopetan.

Menurut Kristo, karakter Adut menjadi salah satu sumber komedi sekaligus bagian penting dalam dinamika persahabatan kelompok tersebut.

“Di setiap tongkrongan pasti ada sosok seperti Adut. Dinamika bromance-nya juga bisa diwakili dari sosok Ijal dan Adut, Ijal yang lebih berat dengan porsi dramanya sementara komedinya dari Adut,” kata Kristo.

Tayang 27 Agustus 2026

Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Sebelum penayangan reguler, film ini juga menggelar roadshow bertajuk “Pesta Copet” di 11 kota pada 22–31 Agustus 2026. Kota yang menjadi tujuan roadshow meliputi Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Cirebon, Bandung, Bekasi, dan Bogor.

Sejumlah pemain dan sineas dijadwalkan hadir dalam rangkaian tersebut, di antaranya Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, Edy Khemod, Ernest Prakasa, dan Dipa Andika.

Dengan premis tentang aksi pencopetan, Operasi Pesta Copet mencoba membawa cerita yang lebih luas mengenai persahabatan, tekanan ekonomi, ketidakadilan sosial, serta keinginan anak muda untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Film produksi Imajinari tersebut menjadikan aksi pencopetan bukan sekadar bahan komedi, tetapi pintu masuk untuk melihat sisi kemanusiaan dari orang-orang yang berada dalam kondisi sulit dan harus berhadapan dengan pilihan-pilihan hidup yang tidak mudah.