Femindonesia.com, TANGERANG – Indonesia berhasil meraih juara pertama dalam Gelato World Tour Individual Competition yang digelar di ajang Krista InterFOOD 2026, NICE PIK 2, Tangerang, baru-baru ini. Prestasi tersebut diraih Alvin Tanudjaya, yang akan mewakili Indonesia pada ajang SIGEP di Rimini, Italia, pada 23–27 Januari 2027.

Keberhasilan Alvin menjadi kebanggaan bagi industri gelato nasional. Ia berhasil mengungguli peserta dari 10 negara Asia dalam kompetisi yang mempertemukan para profesional gelato untuk menunjukkan kreativitas, keterampilan, serta kemampuan mengolah bahan pangan menjadi produk dessert berkualitas.

Kompetisi Gelato World Tour Individual Competition diselenggarakan Krista Exhibitions bekerja sama dengan Italian Exhibition Group (IEG). Ajang ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan Krista InterFOOD 2026 yang berlangsung di NICE PIK 2.

Presiden Indonesian Pastry and Bakery Society (IPBS), Chef Louis Tanuhadi, yang turut menjadi juri dalam kompetisi tersebut, mengapresiasi keberhasilan Alvin membawa nama Indonesia ke panggung internasional.


Menurut Louis, kompetisi ini tidak sekadar menjadi ajang adu keterampilan para pembuat gelato, tetapi juga memperlihatkan potensi besar bahan pangan lokal Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk kuliner dengan daya saing global.

Keberhasilan Alvin sekaligus menunjukkan bahwa kreativitas dalam mengolah bahan baku lokal dapat menjadi keunggulan tersendiri di tengah persaingan industri gelato internasional.

Bahan Lokal Jadi Keunggulan Gelato Indonesia

Dalam kompetisi tersebut, peserta ditantang membuat gelato dengan karakter rasa berbeda, termasuk menggunakan bahan-bahan yang menjadi ciri khas negara masing-masing.

Alvin memperlihatkan kemampuannya mengolah bahan tradisional Indonesia menjadi kreasi gelato yang memiliki karakter rasa tersendiri.

Sejumlah bahan lokal yang digunakan antara lain garam Kusamba dari Bali dan gula aren dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satu inovasi yang menarik perhatian juri adalah penggunaan beras melati yang disangrai hingga mengeluarkan aroma harum, kemudian diinfusikan ke dalam susu sebagai bahan dasar gelato.

Kreasi tersebut memperlihatkan bagaimana bahan pangan Nusantara dapat dikembangkan menjadi produk premium yang memiliki identitas rasa sekaligus nilai tambah.

Louis menilai Indonesia memiliki kekayaan bahan baku yang sangat besar untuk mendukung perkembangan industri gelato.

Berbagai bahan seperti pandan, kelor, kecombrang, jeruk andaliman, garam Kusamba, hingga buah-buahan tropis berpotensi menjadi inspirasi bagi para pembuat gelato dalam menciptakan produk inovatif.

Menurutnya, potensi tersebut perlu diperkenalkan secara lebih luas melalui kompetisi, pameran internasional, serta kolaborasi dengan para profesional kuliner dari berbagai negara.

Chef Louis Ingatkan Perbedaan Gelato dan Es Krim

Di tengah meningkatnya popularitas gelato di Indonesia, Louis juga mengingatkan konsumen agar lebih cermat dalam mengenali produk yang ditawarkan di pasaran.

Pasalnya, sejumlah produk es krim menggunakan label gelato untuk meningkatkan nilai jual, meskipun keduanya memiliki karakteristik dan proses pembuatan yang berbeda.

“Sekarang banyak produk es krim yang diberi nama gelato agar harga jualnya lebih tinggi. Padahal, gelato dan es krim memiliki karakteristik serta proses pembuatan yang berbeda,” ujar Louis.

Ia menjelaskan, gelato memiliki karakteristik tersendiri dari segi tekstur, komposisi bahan, hingga teknik pengolahan.

Gelato umumnya memiliki kandungan lemak lebih rendah dibandingkan es krim. Namun, untuk menghasilkan tekstur yang lembut dan cita rasa yang seimbang, pembuat gelato harus memahami formulasi bahan secara tepat.

“Gelato itu harus mengakali bagaimana caranya kandungan lemak seminimal mungkin, tetapi tetap lembut dan gurih. Jadi, keahlian membuat gelato bukan sekadar mencampurkan bahan, melainkan juga membutuhkan perhitungan,” jelasnya.

Louis juga mengingatkan konsumen untuk memperhatikan kondisi gelato saat dipajang di etalase.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya kristal es atau bunga es pada permukaan produk. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa gelato tidak ditangani atau disimpan dengan baik.

Menurutnya, pengaturan suhu penyimpanan menjadi faktor penting dalam menjaga tekstur, cita rasa, dan kualitas gelato sebelum disajikan kepada konsumen.

Industri Gelato Indonesia Berpeluang Mendunia

Louis menilai perkembangan pasar gelato di Indonesia perlu diimbangi dengan peningkatan profesionalisme pelaku usaha dan edukasi kepada konsumen.

Standar produksi, kualitas bahan baku, kreativitas, serta penanganan produk menjadi aspek penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri gelato.

Ia berharap keberhasilan Alvin Tanudjaya di Gelato World Tour Individual Competition dapat menjadi motivasi bagi para pelaku industri gelato Indonesia untuk terus mengembangkan kemampuan dan menciptakan inovasi.

Selain itu, keikutsertaan Alvin pada SIGEP di Rimini, Italia, pada Januari 2027 mendatang diharapkan membuka peluang lebih luas bagi gelato Indonesia untuk dikenal di pasar internasional.

Melalui kompetisi internasional yang dihadirkan Krista InterFOOD 2026, industri gelato nasional diharapkan tidak hanya mampu mengikuti tren dessert premium, tetapi juga mengangkat kekayaan bahan pangan lokal sebagai identitas produk Indonesia.

Dengan perpaduan kreativitas, keterampilan profesional, dan potensi bahan baku Nusantara, gelato Indonesia memiliki peluang untuk semakin kompetitif di pasar global.