FEM Indonesia, Tangerang Selatan – Kabupaten dinilai sebagai motor utama pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Melalui kolaborasi Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), dan mitra strategis lainnya, perhelatan Sustainable Districts Outlook (SDO) 2025 digelar untuk menampilkan inovasi lokal sebagai solusi nyata menuju ekonomi hijau dan ketahanan iklim.

Founder Jalin Indonesia, Hilmar Farid, menekankan bahwa dunia kini tengah menghadapi krisis fundamental.

“Laporan Pembangunan Manusia UNDP 2022 menegaskan bahwa kita hidup di era kompleksitas ketidakpastian. Krisis politik, transformasi sosial, hingga deforestasi saling terkait. Sudah waktunya kabupaten berdiri sendiri, bukan sekadar pelengkap,” tegas Hilmar.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, yang turut membuka acara, menyoroti urgensi isu iklim.

“Kini istilahnya bukan lagi global warming, melainkan global boiling. Indonesia menargetkan net zero emission pada 2045. Banyak narasi lokal sudah berjalan organik, saatnya diperkuat dengan kebijakan formal, green leadership, dan kaderisasi aktivis muda,” ujarnya.

Kepala Sekretariat LTKL, Ristika Putri Istanti, menekankan pentingnya membagikan praktik baik kabupaten anggota kepada publik.

“Selama dua hari SDO 2025, kami menampilkan model cerita dan praktik kabupaten dengan tema Kabupaten Bergerak, menegaskan bahwa transformasi bisa dimulai dari tingkat lokal,” jelas Ristika.

Sementara itu, Ketua Umum LTKL periode 2025–2028, Bupati Sigi Mohammad Rizal Intjenae, menegaskan visinya untuk menguatkan sektor pertanian dan pariwisata.

“Sigi memiliki Taman Nasional Lore Lindu sebagai cagar biosfer dunia, juga produk unggulan seperti kopi. Dukungan kedaulatan pangan memperkuat langkah kami. Dengan jaringan LTKL, investasi di sektor pertanian dan perkebunan berkelanjutan di Sigi kini sudah menembus Rp36 miliar,” ungkapnya.

Dewan Pembina LTKL, Fitrian Adriansyah, menambahkan bahwa konsistensi menjadi tantangan besar bagi kabupaten. Namun, tata kelola positif yang mengarah pada praktik Environmental, Social and Governance (ESG) sudah menjadi nilai tambah.

“Integrasi investasi dan konservasi bukan hanya pilihan etis, tapi strategi bisnis yang relevan dengan permintaan global. Leadership para bupati menjadi faktor penting keberlanjutan program,” tegasnya.

SDO 2025 tidak sekadar ajang tahunan, melainkan ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas pihak. Kabupaten bergerak bersama mitra membangun ekosistem solid demi mewujudkan transformasi menuju daerah yang lestari, mandiri, dan berdaya saing global.

Tentang Lingkar Temu Kabupaten Lestari

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) adalah asosiasi pemerintah kabupaten yang dibentuk dan dikelola oleh pemerintah kabupaten demi mewujudkan pembangunan lestari yang menjaga lingkungan dan menyejahterakan masyarakat lewat gotong royong. LTKL merupakan kaukus pembangunan lestari dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia (APKASI) yang berdiri sejak bulan Juli 2017.

Saat ini, LTKL memiliki 9 kabupaten anggota di 6 provinsi di Indonesia dan bekerja berdampingan
dengan 26 jejaring mitra multipihak. Rapat Umum Anggota LTKL tahun 2019 memutuskan bahwa
komoditas lestari khususnya hilirisasi produk basis alam adalah prioritas bagi anggota LTKL untuk mencapai target nasional untuk mendapatkan investasi berkualitas, membuka lapangan kerja dan mencegah kebencanaan. Sebagai forum, LTKL berfungsi untuk membantu kabupaten anggota menyusun
strategi implementasi, terkoneksi dengan mitra yang tepat untuk meningkatkan kapasitas & mendapatkan insentif atas upaya pembangunan lestari serta menceritakan peluang dan tantangan pembangunan lestari kepada publik.