FEM Indonesia, JAKARTA – Tokoh industri musik Indonesia, Bois Famous Maker, menegaskan pentingnya strategi matang dalam merilis sebuah single di era industri musik modern. Hal tersebut ia sampaikan bertepatan dengan momentum Hari Musik Nasional 2026 saat ditemui di Radio Bola Koaidi, kawasan Rawamangun, Jakarta.
Menurut Bois, merilis sebuah lagu tidak cukup hanya dengan mengunggahnya ke platform digital. Dibutuhkan konsep, strategi promosi, serta totalitas dari musisi dan tim agar karya tersebut dapat dikenal luas dan berpotensi menjadi hits.
“Perilis single itu wajib berpikir secara hebat dalam meng-hits-kan single atau lagunya saat diluncurkan, serta menjalani konsep dan strateginya secara totalitas. Agar masyarakat tertarik untuk mau mendengar lagunya dan melihat artis musiknya,” ujar Bois.
Ia menilai masih banyak musisi, terutama pendatang baru, yang sekadar merilis lagu tanpa perencanaan promosi yang jelas. Lagu hanya dilepas ke platform digital tanpa strategi lanjutan, sehingga berisiko tenggelam di tengah banyaknya rilisan baru.
“Kalau hanya dirilis lalu dibiarkan begitu saja, sama saja secara tidak langsung ‘membunuh’ karya lagu si musisi itu sendiri,” kata lulusan S-1 Jurnalistik STP/IISIP Jakarta tersebut.
Berdasarkan pengamatannya, hanya sekitar 25 persen pelaku industri yang benar-benar memikirkan strategi untuk menjadikan lagunya hits. Sementara sisanya cenderung menyerahkan nasib lagu kepada pasar tanpa upaya promosi yang maksimal.
Bois menegaskan bahwa sebuah lagu seharusnya dipandang sebagai aset berharga bagi musisi, baik untuk masa kini maupun masa depan. Karena itu, setiap karya perlu dipersiapkan dengan matang sebelum diluncurkan ke publik.
“Untuk ongkos promo atau konsep strategi yang dijalankan itu relatif. Semuanya tergantung keberanian dalam menjalankan konsep yang brilian. Makanya dibutuhkan pemikiran matang dan persiapan jauh-jauh hari,” jelasnya.
Perjalanan Karier di Industri Musik
Bois Famous Maker memulai kiprahnya di industri musik sejak masih berkuliah di STP/IISIP Jakarta. Pada 1994 hingga 1996, ia aktif sebagai promotor konser musik di kampusnya.
Pada 1997, ia mendirikan manajemen artis yang menaungi sejumlah grup musik, termasuk Stinky dan Base Jam, dengan kantor di kawasan Jalan Jaksa, Menteng, Jakarta.
Kariernya kemudian berlanjut pada 1999 dengan mendirikan Music Industry Consultant (MIC). Melalui lembaga tersebut, Bois menjalin kerja sama dengan sejumlah label besar untuk mengorbitkan artis baru, termasuk penyanyi Julia Theresia yang merilis debut single “Lon Kahe” di BMG Music Indonesia. Video klip lagu tersebut bahkan masuk nominasi Short Movie International di Oberhausen, Jerman, pada tahun 2000.
Pada 2003, bersama anggota Asosiasi Music Director Radio Indonesia (AMDI), Radio Mustang FM Jakarta, dan label Nagaswara, ia turut mengorbitkan album kompilasi “Gulalikustik”. Proyek tersebut berlanjut dengan peluncuran album pertama Kerispatih “Kejujuran Hati” yang meraih penjualan platinum serta penghargaan MTV Indonesia untuk kategori Most Favourite New Artist pada 2005.
Setelah itu, Bois juga terlibat dalam peluncuran sejumlah proyek musik lain, termasuk album perdana band Rama dengan single hits “Bertahan” serta band Celebrand dengan lagu “Entah Kenapa Selingkuh Itu Indah” pada 2006.
Pada 2008, ia bekerja sama dengan MI2 Management milik Ahmad Danish dalam peluncuran album ketiga band Seventeen bertajuk “Lelaki Hebat” di bawah label Nagaswara. Album tersebut memperkenalkan vokalis baru, Ifan atau Riefian Fajarsyah, dengan single utama “Selalu Mengalah”. Salah satu konsep promosi uniknya adalah peluncuran album di kawasan lapak bajakan Glodok, Jakarta Barat.
Bois juga pernah menggarap sejumlah proyek lain, di antaranya album perdana Emil Dardak pada 2009 dengan single “Sesaat Kau Hadir”, serta band rock Misterie pada 2010 yang tampil dengan konsep unik menggunakan topeng.
Sejak 2011 hingga kini, ia turut mempopulerkan musisi asal Aceh, Rafly Kande, yang dikenal dengan genre world music. Beberapa single yang dirilis antara lain “Ingat Bro” dan “Ku Kenang”.
Pada 2020, Bois mengorbitkan band Missing Madeline dari Aceh dengan single “Pergilah”. Di tahun yang sama, ia juga terlibat dalam proyek kolaborasi lintas negara bertajuk “Tak Ada Yang Tak Bisa”, yang melibatkan musisi dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura sebagai bentuk solidaritas di masa pandemi COVID-19.
Terbaru pada 2025, Bois memperkenalkan pasangan TikToker Galyas dan Qgun melalui single “Bestie Sudahi Patah Hatimu”. Keduanya diposisikan sebagai pasangan suami istri kreator konten yang konsisten berkarya di industri musik.
Menutup pernyataannya, Bois berharap momentum Hari Musik Nasional 2026 dapat menjadi pengingat bagi para musisi, khususnya pendatang baru, untuk lebih serius mempersiapkan strategi dalam merilis karya.
“Semoga mulai 2026 ini, di momen Hari Musik Nasional, semua musisi terutama new comer wajib memikirkan konsep dan strategi hebat saat meluncurkan karya lagu. Lakukan dengan totalitas,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan