Femindonesia.com, JAKARTA – Instagram dalam beberapa pekan terakhir diramaikan tren foto bergaya era 1980-an. Feed media sosial dipenuhi potret dengan efek grain film, warna hangat kekuningan, rambut mengembang, outfit denim, hingga latar bernuansa retro yang membawa pengguna seolah kembali ke masa 40 tahun silam.

Menariknya, tren tersebut banyak dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Pengguna cukup mengunggah foto kemudian memberikan instruksi untuk mengubah penampilan menjadi gaya 1980-an tanpa mengubah karakter wajah.

Salah satu prompt yang banyak digunakan adalah, “Make me look like in 1980’s without changing any facial features.” Dalam waktu singkat, foto modern dapat diubah menjadi potret dengan nuansa majalah, studio foto, atau album keluarga khas era 1980-an.

Namun, tren tersebut semakin ramai setelah sejumlah selebritas ikut memamerkan hasil foto bergaya retro di Instagram.


Salah satu yang lebih dulu mencuri perhatian adalah
Vista Putri melalui akun @vistaputri_real. Ia mengunggah potret dengan tampilan khas 1980-an dan menuliskan caption, “Lucu sekali 80 an inii …”

Vista tampil dengan rambut keriting half-up menggunakan scrunchie berwarna pink, atasan off-shoulder, anting segitiga berukuran besar, gelang warna-warni, serta jeans wash. Latar fotonya juga dibuat menyerupai kamar era 1980-an, lengkap dengan poster band dan elemen visual bergaya foto lama.

Unggahan tersebut kemudian mengundang reaksi warganet yang ikut bernostalgia sekaligus mencoba membuat foto versi mereka sendiri.

Tren serupa kemudian diikuti Hesti Purwadinata. Pada 9 September, Hesti membagikan foto dengan konsep presenter televisi era 1980-an. Ia mengenakan blazer dengan shoulder pad, syal merah, dan lipstick merah, sementara latar studio dibuat dengan nuansa neon pink dan biru.

Melalui unggahan tersebut, Hesti menuliskan, “What would I look like in the ’80s?”Unggahannya mendapat ribuan komentar. Sejumlah warganet bahkan menyebut penampilannya mengingatkan pada presenter televisi era tersebut.

Sementara itu, Showimah tampil dengan konsep yang lebih glamor. Dalam sebuah carousel bertuliskan “Same Beauty Different Era”, ia mengenakan dress merah, blazer dengan shoulder pad, serta anting hoop berukuran besar.

“Ikut2an ah mumpung ada yg bikinin,” tulis Showimah dalam caption. Unggahan tersebut mendapat puluhan ribu likes.

Sebelumnya, Risma Harris juga telah membagikan foto bergaya retro pada 29 Agustus. Ia tampil dengan rambut wavy berwarna cokelat dan menulis caption singkat, “who is that?”

Tren foto retro juga menjalar ke keluarga selebritas. Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, serta Omesh dan Dian Ayu, muncul dalam kompilasi foto dengan konsep keluarga era 1980-an. Gaya busana denim yang senada membuat foto tersebut terlihat seperti dokumentasi keluarga dari masa lalu.

Hal serupa dilakukan Dion Wiyoko yang tampil bersama istri, anak, dan anjingnya menggunakan busana bernuansa retro, termasuk jaket windbreaker warna-warni.

Haruka Nakagawa pun ikut mengangkat konsep ibu dan anak dengan sentuhan visual 1980-an.

Tak Semua Mengandalkan AI

Menariknya, tidak semua selebritas mengikuti tren tersebut dengan bantuan AI. Faith Christabelle memilih menjalani photoshoot dengan konsep 1980-an secara langsung untuk video musik Sekedar Teman. Nuansa retro dibangun melalui panggung disko dan bola disko.

Sementara Delia Septianti membagikan foto pasangan dengan konsep tahun 1985. Ia bahkan bergurau melalui caption, “kok akunya gak berubah dehh mukanya”.

Tren tersebut kemudian merambah ke kalangan selebritas pria. Rico Tampatty tampil dengan karakter “Bad Boy 80 an”. Ia berpose di dalam mobil sport merah dengan jaket racing bergaya otomotif dan kacamata aviator.

“Ada yg bilang, Bad Boy 80 an… emang iya..??” tulis Rico.

Yang tak kalah menarik adalah unggahan Adam Jagwani. Alih-alih menggunakan AI, ia justru membagikan foto asli dirinya ketika masih muda pada era 1980-an.

Dalam foto tersebut, Adam tampil dengan rambut gondrong keriting, jaket denim, dan kaus bergambar Bon Jovi.

“This Is Not AI…Its Meeeee,” tulisnya.

Unggahan Adam kemudian menjadi bahan perbandingan menarik antara foto asli era 1980-an dan foto hasil olahan AI. Postingan tersebut mendapat puluhan ribu likes dan lebih dari seribu komentar.

Para kreator konten juga ikut memanfaatkan tren ini dengan pendekatan yang lebih humoris. Didi Roa misalnya, tampil dengan tracksuit pink dan crocs dalam latar persawahan.

“Hasilnya malah jadi Barbie LOHANG,” tulisnya sambil menertawakan hasil foto tersebut.

Sementara Diego Garing tampil dalam konsep tahun 1985 di sebuah pom bensin, lengkap dengan rambut blonde dan jaket denim acid wash. Warganet kemudian membandingkan penampilannya dengan sejumlah tokoh populer, mulai dari Dono hingga Leonardo DiCaprio.

Kreator Mark O’Dea bahkan membuat konsep lebih lengkap dengan enam slide foto. Ia mengeksplorasi berbagai suasana era 1980-an, mulai dari gym dengan nuansa neon dan busana olahraga, warung kaki lima, stasiun kereta, hingga atmosfer ala Miami Vice.

Nostalgia dan FOMO Jadi Pemicu

Fenomena ini setidaknya didorong oleh tiga hal: kemudahan teknologi AI, kekuatan nostalgia, dan efek fear of missing out (FOMO).

Teknologi AI membuat siapa pun dapat mencoba berbagai gaya visual tanpa harus melakukan pemotretan dengan properti dan kostum secara langsung. Di sisi lain, estetika 1980-an memiliki karakter visual yang kuat sehingga mudah dikenali dan menarik untuk dibagikan di media sosial.

Ketika sejumlah figur publik mulai mengunggah foto versi mereka, tren tersebut semakin mudah menyebar. Pengguna lain pun terdorong mencoba versi masing-masing.

Mulai dari Vista Putri dengan gaya nostalgia, Hesti Purwadinata dan Showimah dengan tampilan diva glamor, Rico Tampatty sebagai bad boy, hingga Adam Jagwani yang menunjukkan foto asli masa mudanya, tren ini memperlihatkan bagaimana AI dapat menghidupkan kembali estetika masa lalu dalam format yang mudah dikonsumsi generasi sekarang.

Pada akhirnya, tren foto AI 1980-an bukan sekadar permainan visual. Ia menjadi cara baru bagi pengguna media sosial untuk bereksperimen dengan identitas, nostalgia, sekaligus membandingkan masa lalu dengan masa kini.

Jika era 1980-an kembali populer di media sosial pada 2026, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Seperti apa wajah kita 40 tahun lalu?”, melainkan “Seperti apa kita kalau hidup di era 1980-an?”