Femindonesia.com, Jakarta – Antrean panjang terlihat di lantai Ground Gandaria City, Jakarta Selatan pasa Kamis (24/6). Gerai dengan identitas JAMBA – smoothies, juices, bowls itu menjadi penanda kembalinya salah satu merek smoothie asal California, Amerika Serikat, ke pasar Indonesia dengan konsep baru.

Mengusung sapaan ikonik “hello sunshine”, Jamba kini hadir dengan fokus pada produk smoothies, juices, dan bowls yang menyasar konsumen dengan gaya hidup aktif dan praktis.

Jamba, yang sebelumnya dikenal dengan nama Jamba Juice, didirikan pada 1990 oleh Kirk Perron, seorang manajer supermarket berusia 27 tahun. Berbekal tabungan pribadi dan pinjaman 30.000 dolar AS dari ibunya, Perron memulai bisnis dari sebuah toko kecil bernama Juice Club di San Luis Obispo, California.


Dari sana, Jamba berkembang menjadi salah satu merek yang dikenal dalam kategori smoothie dan jus. Nama Jamba sendiri berasal dari bahasa Swahili yang berarti “to celebrate” atau merayakan.

Setelah hampir tiga dekade, Jamba melakukan rebranding pada 2019 dengan menghilangkan kata “Juice” dari namanya. Perubahan tersebut mencerminkan perluasan kategori produk yang tidak lagi hanya berfokus pada jus, tetapi juga smoothies dan bowls.

Di Indonesia, Jamba berada di bawah manajemen PT Sari Gemilang Makmur, anak usaha PT Panen Lestari Internusa yang merupakan bagian dari PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP).

Jamba sebelumnya sempat hadir di sejumlah pusat perbelanjaan besar di Jakarta, seperti Central Park Mall, Kota Kasablanka, Plaza Senayan, dan Mall Kelapa Gading. Kini, merek tersebut kembali dengan konsep baru dan menjadikan Gandaria City sebagai gerai perdana untuk fase ekspansi berikutnya.


Gandaria City Dipilih karena Gaya Hidup Aktif

General Manager Jamba Indonesia, Shanti Dewi, mengatakan pemilihan Gandaria City bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut dinilai memiliki karakter konsumen yang sesuai dengan konsep baru Jamba.

“Toko yang ada di Gandaria City ini adalah toko pertama untuk konsep baru kami. Kenapa kita pilih Gandaria City? Karena Gancit itu ada di Jakarta Selatan, dia di sekitar residential area yang cukup padat, di pusat, di mana traffic mall-nya juga lumayan ramai,” ujar Shanti.

Menurut dia, karakter masyarakat di Jakarta Selatan yang banyak menjalani gaya hidup aktif juga menjadi salah satu pertimbangan.

“Kalau dilihat produknya ini sangat healthy. Jadi cocok banget dengan gaya hidup orang Jakarta Selatan sekarang yang suka banget olahraga, nge-gym, lari. Jadi memang ke situ market yang kita tuju,” katanya.

Fokus pada Smoothies dan Smoothie Bowls

Shanti menjelaskan, kekuatan utama Jamba tetap berada pada produk smoothies dan smoothie bowls.

“Core-nya adalah smoothie bowls dan smoothies. Kalau dilihat buah kita tuh lebih banyak, jadi dari segi produk kita tuh lebih kental. Kentalnya itu karena buahnya lebih banyak dan enggak ada pewarna, enggak ada penambah rasa manis buatan. Jadi memang benar-benar dasarnya buah dan sehat,” jelasnya.

Sejumlah menu yang menjadi produk andalan Jamba antara lain Banana Berry, Strawberries Wild, dan Mango-A-Go-Go.

Selain itu, Jamba menawarkan pilihan lain seperti Peanut Butter Moo’d, serta kategori superfood yang mencakup acai, pitaya, green tea, dan matcha.

Jamba juga menghadirkan Fresh Juice Blends serta pilihan kopi. Salah satu menu yang direkomendasikan adalah Avocado Coffee.

Sementara bagi konsumen yang menginginkan pilihan yang lebih mengenyangkan, tersedia Energy Bowls dengan topping buah segar dan granola.

Kombinasi Bahan Lokal dan Impor

Untuk menjaga standar produk, Jamba menggunakan kombinasi bahan baku lokal dan impor.

“Ada yang lokal ada yang impor. Tidak semua impor, karena Indonesia juga banyak buahnya, mangga juga banyak. Tapi semua supplier kita harus memenuhi kriteria yang diharuskan dari US, harus benar-benar certified baru kita bisa pakai,” ujar Shanti.

Persiapan pembukaan gerai juga dilakukan cukup panjang. Menurut Shanti, tim Jamba Indonesia bahkan telah menjalani pelatihan sejak awal Juli.

“Tim kita sudah training sejak awal Juli, sudah lama karena memang enggak gampang,” ungkapnya.

Target 50 Gerai dalam Lima Tahun

Kehadiran kembali Jamba di Indonesia tidak berhenti di Gandaria City. Perusahaan menargetkan ekspansi hingga 50 gerai dalam kurun empat sampai lima tahun.

Jakarta menjadi fokus awal sebelum ekspansi dilanjutkan ke kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Model gerai juga akan dibuat lebih fleksibel. Selain pusat perbelanjaan, Jamba membuka kemungkinan menghadirkan gerai di kawasan komunitas yang memiliki aktivitas seperti olahraga, lari, gym, hingga kegiatan kreatif.

Konsep tersebut mengikuti perkembangan gerai Jamba di berbagai negara yang tidak seluruhnya berada di dalam pusat perbelanjaan.

Shanti berharap kehadiran kembali Jamba dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang memiliki aktivitas padat tetapi tetap ingin menjalani gaya hidup sehat.

“Kita bisa jadi salah satu solusi yang sehat, solusi yang praktis buat konsumen kita yang memang punya gaya hidup sibuk tapi tetap mau sehat. Karena orang Indonesia sekarang sibuk tapi tetap mau sehat, nah ini salah satu jawabannya,” tutup Shanti Dewi.